Ubedilah Badrun: Jokowi Terus Berpolitik, Jauh dari Spirit Negarawan
Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih berstatus politisi, bukan negarawan. Fenomena kunjungan ke rumah Jokowi di Solo, Jawa Tengah, disebut aneh. Penilaian ini disampaikan dalam siniar SindoNews.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dicap masih berstatus politisi, bukan negarawan, menurut analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun. Penilaian tajam ini menyoroti fenomena aneh dan anomali berupa kunjungan massa ke rumah pribadi Jokowi di Solo, Jawa Tengah, yang disangsikan kemurniannya.
Pernyataan Ubedilah, dikutip Selasa (24/2/2026) dari siniar SindoNews, menguak dugaan adanya motif tersembunyi di balik dukungan yang terus dipelihara, menjauhkan Jokowi dari citra pemimpin bangsa yang imparsial.
Fenomena Aneh di Solo
Fenomena kunjungan ke kediaman pribadi Jokowi di Solo itu, bagi Ubedilah, bukan sekadar ekspresi simpati spontan. Ia menandainya sebagai sesuatu yang “tidak murni”, bahkan “agak anomali” dalam lanskap politik saat ini, memicu pertanyaan serius tentang otentisitas dukungan.
Kumpulan massa yang datang seolah-olah tanpa koordinasi terstruktur ini memicu pertanyaan serius tentang otentisitas dukungan. Ubedilah secara eksplisit menunjuk kemungkinan adanya pihak-pihak yang “terus dipelihara untuk mencintai” mantan Wali Kota Solo itu.
Pernyataan ini secara implisit menuding adanya mobilisasi tersembunyi, di mana dukungan publik tidak tumbuh secara organik melainkan melalui mekanisme yang diatur. Ini mengikis narasi dukungan spontan yang kerap dibangun oleh pendukung Jokowi.
Ubedilah mengaitkan fenomena ini dengan teori pertukaran sosial dalam sosiologi. Menurutnya, setiap tindakan, terutama dalam konteks politik, selalu dilandasi harapan akan imbalan. Orang melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.
Konsekuensi dari “pertukaran sosial” ini dalam politik adalah potensi transaksionalitas. Dukungan publik dapat berubah menjadi komoditas, ditukar dengan kepentingan atau keuntungan tertentu, menjauhkan esensi partisipasi politik yang murni.
Kritik Tajam Ubedilah Badrun
“Fenomena orang-orang datang ke rumah Jokowi di Solo, Jawa Tengah, adalah sesuatu hal aneh dan agak anomali,” kata Ubedilah Badrun. Ia menambahkan, “hal itu sebagai sesuatu yang tidak murni.”
Ubedilah bahkan secara gamblang menyinggung adanya upaya terencana. “Tapi mungkin ada juga orang yang terus dipelihara untuk mencintai (Jokowi),” tandasnya, mengindikasikan adanya rekayasa di balik dukungan publik.
Pernyataan ini diperkuat dengan landasan sosiologi. Menurut Ubedilah, “dalam sosiologi, ada teori pertukaran sosial. Orang melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Apalagi, jika itu berhubungan dengan politik.”
Ubedilah Badrun dikenal sebagai akademisi yang vokal dan kritikus kekuasaan. Ia bersama sejumlah tokoh lain baru-baru ini mendirikan Barisan Oposisi Indonesia (BOI), sebuah gerakan yang secara eksplisit bertujuan mengkritisi kebijakan dan praktik kekuasaan di Indonesia.