Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah yang Jadi Sarang Tikus

4 min read
Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah yang Jadi Sarang Tikus

Kala itu, sebelum berangkat kuliah, saya terkejut dengan penampakan di kos murah yang saya tinggali. Kagetnya bukan kepalang. Satu bangkai tikus mati mengenaskan dengan pose dramatis tepat di bawah motor saya. Saya berteriak histeris. Pantas saja bau racun tikus akhir-akhir ini tidak pernah absen. Tinggal di kos murah dengan fasilitas lengkap adalah keajaiban. Bayangkan saja. Kos saya cuma Rp400 ribu per bulan. Fasilitasnya lengkap, meskipun harus rela tinggal bersama para lansia. Namun, saya sangat bersyukur. Pemilik kos murah ini baik dan ramah, meskipun sudah berumur dan tampaknya tidak begitu peduli dengan orang asing. Hampir dua tahun saya tinggal di kosan ini dan hampir setiap hari pula saya merasakan kekhawatiran. Saya merasa prihatin karena selama ini pemilik kos tidak terlalu peduli dengan lingkungan rumah. Mungkin sudah terlalu tua dan lelah untuk membersihkan rumah. Hanya tempat-tempat yang sering beliau lewati saja yang terlihat bersih. BACA JUGA: Demi Hemat Ratusan Ribu, Saya Rela Tinggal di Kos Murah yang Ternyata Bekas Aborsi dan Berakhir dengan Penyesalan Kos murah dengan pemandangan Barang Bekas Kos murah yang saya tinggali ini bergaya klasik atau lebih tepatnya: tua. Terlihat dari pajangan dinding berisi foto-foto tahun 90-an. Sebetulnya kosan ini luas. Namun, terlihat sempit karena terlalu banyak perabotan tua. Entah sudah berapa tahun barang-barang bekas itu ada di sana Sejak saya datang, gelagat pemilik kos murah ini menumpuk barang sudah kelihatan. Dan jujur saja, saya beberapa kali kesulitan mengeluarkan motor hanya karena barang-barang itu menumpuk sampai ke arah jalanan. Teman kosan saya juga merasa resah. “Kayaknya emang begitu deh, orang sudah tua, suka ngumpulin barang-barang bekas yang nggak berguna,” katanya. Yah, saya sih berusaha maklum pada akhirnya. Mungkin, bagi si pemilik kos murah ini, barang bekas itu masih punya value. Masalahnya, tumpukan perabot tua dan barang bekas itu melahirkan masalah. Kosan saya jadi sarang tikurs. Sarang tikus Awalnya saya hanya mencium bau menyengat dari lantai bawah. Tepatnya di pojok-pojok barang bekas. Tak jauh dari sumber bau busuk itu, ada meja makan pemilik kos dengan tudung saji berisi makanan. Saya tidak mengerti bagaimana perasaan pemilik kos. Kok bisa menikmati hidangan dengan bau busuk menyengat. Selain bau busuk, lalat hijau pun perlahan-lahan datang menghinggapi tudung saji. Sampai beberapa hari berlalu, bau busuk itu tak kunjung reda. Ibu pemilik kos murah ini pernah meminta maaf kepada saya. Namun, setelah minta maaf, kok ya nggak lantas membersihkan. Saya yakin bangkai tikus yang mati karena racun ada lebih dari satu. Benar saja, esok harinya, pemilik kos menemukan 2 ekor tikus mati. Sayangnya, setelah kejadian itu, bau bangkai tak kunjung mereda. Bau racun tikus yang sangat mengganggu Selain bau bangkai, ada juga bau racun tikus. Saya sampai tak tahan, ingin melayangkan protes tapi apalah daya hanya penghuni kos murah ini. Saya resah mengapa pemilik kos selalu menggunakan racun tikus? Mengapa tidak mencari alternatif lain. Misalnya, dengan membersihkan lingkungan rumah atau membuang barang-barang yang tidak terpakai. Bukankah lebih baik barang-barang itu diberikan pada para pengepul rongsokan. Kan malah jadi duit. Kebiasaan ini bisa menimbulkan penyakit jika tidak segera berubah. Kos murah, tikus, dan kecoa Suatu malam, tetangga kamar mengirim chat. Isinya adalah imbauan selalu menutup kamar. Hari itu, di kos murah yang selalu penuh ini, muncul kecoa. Sebenarnya ya wajar. Kecoa suka tempat kotor. Ketika waktu menunjukkan tengah malam, selesai mengerjakan tugas, saya keluar dari kamar kos untuk pergi ke toilet. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri satu ekor anak tikus dan kecoa lewat di depan kamar kos menuju tangga. Duh! BACA JUGA: Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mencoba memberi solusi ke pemilik kos murah itu Keesokan harinya, saya dan tetangga kamar kos, memberanikan diri untuk memberi saran kepada pemilik kos murah ini. Misalnya dengan membersihkan barang bekas. Bahkan kami siap membantu tenaga. Namun, pemilik kos tidak mau memutuskan. Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa kami lakukan. Sejak hari itu, saya hanya bisa bersabar dengan bau racun tikus. Selain itu, ya tinggal menunggu waktu untuk angkat kaki. Buat pembaca, hati-hati dengan iming-iming harga kos murah. Periksa dulu kondisi rumah. Jika terlalu kotor atau pemilik rumah enggan membersihkan, mending cari kos lain. Ingat, kesehatan itu nomor satu. Penulis: Indah Sari Aropah Editor: Yamadipati Seno BACA JUGA Hal-hal Absurd yang Hanya Terjadi di Kos Murah: Kamu Nggak Akan Menyangka Hal-Hal Seperti Ini Terjadi di Kosan Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya. Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2026 oleh Yamadipati Seno

Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah yang Jadi Sarang Tikus

Kala itu, sebelum berangkat kuliah, saya terkejut dengan penampakan di kos murah yang saya tinggali. Kagetnya bukan kepalang.

Satu bangkai tikus mati mengenaskan dengan pose dramatis tepat di bawah motor saya. Saya berteriak histeris. Pantas saja bau racun tikus akhir-akhir ini tidak pernah absen.

Tinggal di kos murah dengan fasilitas lengkap adalah keajaiban. Bayangkan saja. Kos saya cuma Rp400 ribu per bulan. Fasilitasnya lengkap, meskipun harus rela tinggal bersama para lansia. Namun, saya sangat bersyukur.

Pemilik kos murah ini baik dan ramah, meskipun sudah berumur dan tampaknya tidak begitu peduli dengan orang asing. Hampir dua tahun saya tinggal di kosan ini dan hampir setiap hari pula saya merasakan kekhawatiran.

Saya merasa prihatin karena selama ini pemilik kos tidak terlalu peduli dengan lingkungan rumah. Mungkin sudah terlalu tua dan lelah untuk membersihkan rumah. Hanya tempat-tempat yang sering beliau lewati saja yang terlihat bersih.

BACA JUGA: Demi Hemat Ratusan Ribu, Saya Rela Tinggal di Kos Murah yang Ternyata Bekas Aborsi dan Berakhir dengan Penyesalan

Kos murah dengan pemandangan Barang Bekas

Kos murah yang saya tinggali ini bergaya klasik atau lebih tepatnya: tua. Terlihat dari pajangan dinding berisi foto-foto tahun 90-an.

Sebetulnya kosan ini luas. Namun, terlihat sempit karena terlalu banyak perabotan tua. Entah sudah berapa tahun barang-barang bekas itu ada di sana

Sejak saya datang, gelagat pemilik kos murah ini menumpuk barang sudah kelihatan. Dan jujur saja, saya beberapa kali kesulitan mengeluarkan motor hanya karena barang-barang itu menumpuk sampai ke arah jalanan.

Teman kosan saya juga merasa resah. “Kayaknya emang begitu deh, orang sudah tua, suka ngumpulin barang-barang bekas yang nggak berguna,” katanya.

Yah, saya sih berusaha maklum pada akhirnya. Mungkin, bagi si pemilik kos murah ini, barang bekas itu masih punya value.

Masalahnya, tumpukan perabot tua dan barang bekas itu melahirkan masalah. Kosan saya jadi sarang tikurs.

Sarang tikus

Awalnya saya hanya mencium bau menyengat dari lantai bawah. Tepatnya di pojok-pojok barang bekas. Tak jauh dari sumber bau busuk itu, ada meja makan pemilik kos dengan tudung saji berisi makanan.

Saya tidak mengerti bagaimana perasaan pemilik kos. Kok bisa menikmati hidangan dengan bau busuk menyengat. Selain bau busuk, lalat hijau pun perlahan-lahan datang menghinggapi tudung saji.

Sampai beberapa hari berlalu, bau busuk itu tak kunjung reda. Ibu pemilik kos murah ini pernah meminta maaf kepada saya. Namun, setelah minta maaf, kok ya nggak lantas membersihkan. Saya yakin bangkai tikus yang mati karena racun ada lebih dari satu.

Benar saja, esok harinya, pemilik kos menemukan 2 ekor tikus mati. Sayangnya, setelah kejadian itu, bau bangkai tak kunjung mereda.

Bau racun tikus yang sangat mengganggu

Selain bau bangkai, ada juga bau racun tikus. Saya sampai tak tahan, ingin melayangkan protes tapi apalah daya hanya penghuni kos murah ini.

Saya resah mengapa pemilik kos selalu menggunakan racun tikus? Mengapa tidak mencari alternatif lain. Misalnya, dengan membersihkan lingkungan rumah atau membuang barang-barang yang tidak terpakai.

Bukankah lebih baik barang-barang itu diberikan pada para pengepul rongsokan. Kan malah jadi duit. Kebiasaan ini bisa menimbulkan penyakit jika tidak segera berubah.

Kos murah, tikus, dan kecoa

Suatu malam, tetangga kamar mengirim chat. Isinya adalah imbauan selalu menutup kamar. Hari itu, di kos murah yang selalu penuh ini, muncul kecoa. Sebenarnya ya wajar. Kecoa suka tempat kotor.

Ketika waktu menunjukkan tengah malam, selesai mengerjakan tugas, saya keluar dari kamar kos untuk pergi ke toilet. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri satu ekor anak tikus dan kecoa lewat di depan kamar kos menuju tangga. Duh!

BACA JUGA: Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

Mencoba memberi solusi ke pemilik kos murah itu

Keesokan harinya, saya dan tetangga kamar kos, memberanikan diri untuk memberi saran kepada pemilik kos murah ini. Misalnya dengan membersihkan barang bekas. Bahkan kami siap membantu tenaga. Namun, pemilik kos tidak mau memutuskan.

Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa kami lakukan. Sejak hari itu, saya hanya bisa bersabar dengan bau racun tikus.

Selain itu, ya tinggal menunggu waktu untuk angkat kaki. Buat pembaca, hati-hati dengan iming-iming harga kos murah.

Periksa dulu kondisi rumah. Jika terlalu kotor atau pemilik rumah enggan membersihkan, mending cari kos lain. Ingat, kesehatan itu nomor satu.

Penulis: Indah Sari Aropah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Hal-hal Absurd yang Hanya Terjadi di Kos Murah: Kamu Nggak Akan Menyangka Hal-Hal Seperti Ini Terjadi di Kosan


Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2026 oleh

More like this