Hebat Di Stabn Raden Wijaya 5 Kg Sampah Plastik Bisa Diubah Jadi 5 Liter Bbm

4 min read
Hebat Di Stabn Raden Wijaya 5 Kg Sampah Plastik Bisa Diubah Jadi 5 Liter Bbm

WONOGIRI – Sampah plastik seringkali menjadi masalah di masyarakat. Tapi melalui uji di laboratorium Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, sampah plastik bisa diolah menjadi bahan bakar minyak dan gas. Laboratorium yang beralamat di Desa Bulusulur itu diresmikan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, Selasa (30/6/2026). Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Sulaiman, menyampaikan, pihaknya menginisiasi pengembangan pengelolaan limbah plastik menjadi energi alternatif, setelah melihat banyaknya tumpukan sampah di area Asrama Mahasiswa Buddha. Dia prihatin terhadap persoalan sampah yang terus bertambah di lingkungan kampus. “Banyak sampah menumpuk di asrama. Dari keresahan itu kami berpikir bahwa sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tetapi harus menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Sulaiman lantas menelurkan gagasannya dengan menyelenggarakan pelatihan pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis. Menggandeng Yayasan Get Plastic, pihaknya memberikan pelatihan yang dilaksanakan selama tujuh hari, dari 24-30 Juni 2026, di Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi. Melalui kerja sama dengan Yayasan Get Plastic, STABN Raden Wijaya membuktikan, limbah plastik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, dapat diubah menjadi komoditas energi alternatif. Teknologi pirolisis yang dikembangkan Get Plastic mampu mengolah plastik bernilai jual rendah, menjadi bahan bakar minyak (BBM) tanpa melalui proses pembakaran terbuka. Pelatih dari Yayasan Get Plastic, Ine, menjelaskan, keberhasilan proses pirolisis sangat bergantung pada kualitas bahan baku. Plastik yang akan diolah harus dalam kondisi bersih dan kering, agar menghasilkan bahan bakar dengan kualitas yang baik. “Mesin pirolisis yang dimiliki STAB Negeri Raden Wijaya saat ini mampu mengolah sekitar lima kilogram sampah plastik dalam satu kali proses. Dengan waktu pengolahan sekitar tiga jam, mesin dapat menghasilkan kurang lebih lima liter BBM (bahan bakar minyak),” jelasnya. Secara teknis, Ine menjelaskan efisiensi konversi energi dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan. Get Plastic merekomendasikan penggunaan plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE), Low-Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS). Dari keempat jenis tersebut, plastik PP, seperti gelas air mineral dan botol infus, menghasilkan kualitas bahan bakar paling baik. Sementara itu, plastik jenis PET dan PVC tidak dianjurkan, karena kandungan klorinnya dapat mengganggu proses pirolisis serta berpotensi merusak mesin. Bahan bakar yang dihasilkan pun beragam, mulai dari solar, minyak pet (sejenis dengan minyak tanah), pertamax, hingga gas cair (seperti LPG). Oleh Yayasan Get Plastic, BBM yang dihasilkan diklaim memiliki RON 92,3. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding dengan RON Pertamax yang diproduksi oleh Pertamina pada angka 92. Kualitas solar yang dihasilkan pun telah diuji lab, dan dinyatakan aman digunakan untuk menjalankan mesin diesel, seperti mesin pertanian, traktor, dan genset. Tak hanya BBM, limbah sisa pengolahannya yang disebut black carbon, masih bisa dimanfaatkan kembali menjadi media tanam, paving block, dan briket. Dengan pengolahan berkelanjutan, black carbon ini dapat pula dicampur dengan resin untuk menghasilkan produk daur ulang seperti patung, piala, maupun vandel, yang sering digunakan sebagai tanda mata atau umum disebut kenang-kenangan. Melalui pelatihan, STABN Raden Wijaya Wonogiri dan Yayasan Get Plastic tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi energi, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi, sebagai pusat pembelajaran daur ulang limbah. “Program ini juga diarahkan sebagai Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa, sarana pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari hulu atau rumah tangga, serta upaya menciptakan peluang ekonomi sirkular yang hasilnya dapat mendukung berbagai kegiatan sosial,” terang Sulaiman. Sementara itu Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif yang dilakukan STABN Raden Wijaya melalui peresmian Laboratorium Dharma Ekologi. Bupati menekankan, langkah konkret dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi pirolisis merupakan terobosan krusial dalam menjawab tantangan pembangunan dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan. “Kami mengapresiasi sinergi antara akademisi dan komunitas, dalam menciptakan solusi nyata dari persoalan limbah domestik. Hal ini sekaligus sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas, melalui ekonomi sirkular,” katanya. Bupati berharap, model pengelolaan sampah berkelanjutan ini dapat direplikasi di berbagai sektor, sehingga kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya terus meningkat. Pada akhirnya, inovasi dari STABN Raden Wijaya ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi, yang berdampak positif bagi kemandirian energi dan kelestarian lingkungan di wilayah Wonogiri,” tandasnya. Penulis : SIKP_kominfowng Editor : Ul, Diskomdigi Jateng

WONOGIRI – Sampah plastik seringkali menjadi masalah di masyarakat. Tapi melalui uji di laboratorium Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, sampah plastik bisa diolah menjadi bahan bakar minyak dan gas.

Laboratorium yang beralamat di Desa Bulusulur itu diresmikan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, Selasa (30/6/2026).

Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Sulaiman, menyampaikan, pihaknya menginisiasi pengembangan pengelolaan limbah plastik menjadi energi alternatif, setelah melihat banyaknya tumpukan sampah di area Asrama Mahasiswa Buddha. Dia prihatin terhadap persoalan sampah yang terus bertambah di lingkungan kampus.

“Banyak sampah menumpuk di asrama. Dari keresahan itu kami berpikir bahwa sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tetapi harus menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Sulaiman lantas menelurkan gagasannya dengan menyelenggarakan pelatihan pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis. Menggandeng Yayasan Get Plastic, pihaknya memberikan pelatihan yang dilaksanakan selama tujuh hari, dari 24-30 Juni 2026, di Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi.

Melalui kerja sama dengan Yayasan Get Plastic, STABN Raden Wijaya membuktikan, limbah plastik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, dapat diubah menjadi komoditas energi alternatif. Teknologi pirolisis yang dikembangkan Get Plastic mampu mengolah plastik bernilai jual rendah, menjadi bahan bakar minyak (BBM) tanpa melalui proses pembakaran terbuka.

Pelatih dari Yayasan Get Plastic, Ine, menjelaskan, keberhasilan proses pirolisis sangat bergantung pada kualitas bahan baku. Plastik yang akan diolah harus dalam kondisi bersih dan kering, agar menghasilkan bahan bakar dengan kualitas yang baik.

“Mesin pirolisis yang dimiliki STAB Negeri Raden Wijaya saat ini mampu mengolah sekitar lima kilogram sampah plastik dalam satu kali proses. Dengan waktu pengolahan sekitar tiga jam, mesin dapat menghasilkan kurang lebih lima liter BBM (bahan bakar minyak),” jelasnya.

Secara teknis, Ine menjelaskan efisiensi konversi energi dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan. Get Plastic merekomendasikan penggunaan plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE), Low-Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS). Dari keempat jenis tersebut, plastik PP, seperti gelas air mineral dan botol infus, menghasilkan kualitas bahan bakar paling baik. Sementara itu, plastik jenis PET dan PVC tidak dianjurkan, karena kandungan klorinnya dapat mengganggu proses pirolisis serta berpotensi merusak mesin.

Bahan bakar yang dihasilkan pun beragam, mulai dari solar, minyak pet (sejenis dengan minyak tanah), pertamax, hingga gas cair (seperti LPG). Oleh Yayasan Get Plastic, BBM yang dihasilkan diklaim memiliki RON 92,3. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding dengan RON Pertamax yang diproduksi oleh Pertamina pada angka 92. Kualitas solar yang dihasilkan pun telah diuji lab, dan dinyatakan aman digunakan untuk menjalankan mesin diesel, seperti mesin pertanian, traktor, dan genset.

Tak hanya BBM, limbah sisa pengolahannya yang disebut black carbon, masih bisa dimanfaatkan kembali menjadi media tanam, paving block, dan briket. Dengan pengolahan berkelanjutan, black carbon ini dapat pula dicampur dengan resin untuk menghasilkan produk daur ulang seperti patung, piala, maupun vandel, yang sering digunakan sebagai tanda mata atau umum disebut kenang-kenangan.

Melalui pelatihan, STABN Raden Wijaya Wonogiri dan Yayasan Get Plastic tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi energi, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi, sebagai pusat pembelajaran daur ulang limbah.

“Program ini juga diarahkan sebagai Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa, sarana pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari hulu atau rumah tangga, serta upaya menciptakan peluang ekonomi sirkular yang hasilnya dapat mendukung berbagai kegiatan sosial,” terang Sulaiman.

Sementara itu Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif yang dilakukan STABN Raden Wijaya melalui peresmian Laboratorium Dharma Ekologi. Bupati menekankan, langkah konkret dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi pirolisis merupakan terobosan krusial dalam menjawab tantangan pembangunan dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

“Kami mengapresiasi sinergi antara akademisi dan komunitas, dalam menciptakan solusi nyata dari persoalan limbah domestik. Hal ini sekaligus sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas, melalui ekonomi sirkular,” katanya.

Bupati berharap, model pengelolaan sampah berkelanjutan ini dapat direplikasi di berbagai sektor, sehingga kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya terus meningkat.

Pada akhirnya, inovasi dari STABN Raden Wijaya ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi, yang berdampak positif bagi kemandirian energi dan kelestarian lingkungan di wilayah Wonogiri,” tandasnya.

Penulis : SIKP_kominfowng
Editor : Ul, Diskomdigi Jateng

Hebat Di Stabn Raden Wijaya 5 Kg Sampah Plastik Bisa Diubah Jadi 5 Liter Bbm
Hebat Di Stabn Raden Wijaya 5 Kg Sampah Plastik Bisa Diubah Jadi 5 Liter Bbm
More like this