Ramadan: Barometer Kedewasaan Publik Bangsa

3 min read
Ramadan: Barometer of National Public Maturity

Eko Ernada, Wakil Rektor UNU Kaltim dan Anggota BPJI PBNU, menegaskan Ramadan di tengah perayaan keagamaan lain. Ini menunjukkan Indonesia adalah laboratorium pluralitas. Agama menuntut pengendalian diri dari ego dan dominasi, terutama di era digital. Kedewasaan publik penting menghadapi polarisasi dan manipulasi simbolik. Refleksi spiritual kunci toleransi.

Ramadan: Barometer of National Public Maturity

Eko Ernada, Wakil Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur sekaligus Anggota Badan Penanggulangan Isu Jaringan Islam (BPJI) PBNU, menuding rangkaian perayaan keagamaan tahun ini di Indonesia menjadi ujian krusial bagi kedewasaan publik. Ia memperingatkan, keberagaman bangsa ini terancam oleh polarisasi digital dan manipulasi agama yang mereduksi nilai-nilai spiritual.

Ernada secara tajam menyoroti bagaimana agama, yang seharusnya menjadi sumber moral, justru diturunkan sekadar menjadi alat mobilisasi identitas politik. Kondisi ini mendesak masyarakat untuk menahan ego kolektif dan individu, serta membedakan iman personal dari provokasi simbolik yang disebarkan masif di ruang digital.

Ujian Pluralitas di Tengah Perayaan Berdekatan

Tahun ini, kalender perayaan keagamaan menampilkan fenomena unik: Ramadan, Imlek, Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah beriringan. Kondisi ini, menurut Ernada, menegaskan Indonesia bukan hanya sekadar negara dengan fakta demografis yang beragam, melainkan sebuah “laboratorium pluralitas” yang terus-menerus diuji kematangannya.

Puasa Ramadan, secara spiritual, adalah madrasah pengendalian diri. Namun, Ernada menekankan, inti terdalamnya bukan sekadar menahan lapar atau dahaga. Lebih jauh, ia adalah latihan fundamental untuk menahan ego, prasangka, dan dorongan dominasi yang kerap menggerogoti kohesi sosial.

Menahan ego dan keinginan memaksakan identitas di ruang publik jauh lebih sulit dibanding menahan lapar. Ketika ego, baik kolektif maupun individu, mendominasi, ruang publik gagal berfungsi sebagai arena dialog rasional. Argumen rasional luntur, digantikan dominasi simbolik yang menghalangi musyawarah sehat.

Tantangan ini kian brutal di era digital. Agama, yang semestinya menjadi fondasi moral dan solidaritas, justru direduksi menjadi senjata retorika politik. Simbol keagamaan dipotong dari konteks aslinya, disebarkan secara masif, dan memicu polarisasi instan yang merusak tatanan sosial.

Masyarakat dituntut memiliki kedewasaan baru: kemampuan krusial membedakan iman pribadi dari manipulasi simbolik. Mereka harus menahan diri dari provokasi murahan dan secara tegas menempatkan argumentasi rasional di atas dominasi retorik yang menyesatkan.

Manipulasi Simbol Agama: Ancaman Nyata

Ernada dengan lugas menyatakan, “Indonesia adalah laboratorium pluralitas, dan keberagaman itu bukan sekadar fakta demografis, melainkan ujian kedewasaan publik yang berkelanjutan.” Pernyataan ini menegaskan beratnya tanggung jawab masyarakat menjaga harmoni.

Ia melanjutkan, “Inti terdalamnya bukan soal aspek biologis itu, melainkan latihan menahan ego, prasangka, dan dorongan dominasi.” Ini adalah kritik tajam terhadap pemahaman agama yang dangkal, hanya berfokus pada ritual tanpa menyentuh esensi moral.

“Ritual spiritual bisa berubah menjadi simbol politik, kehilangan dimensi etisnya. Inilah godaan yang harus diwaspadai,” tegas Ernada, menyoroti bahaya laten di mana ambisi kekuasaan menggerogoti kesucian praktik keagamaan.

Sejarah Berulang: Agama dalam Cengkraman Kekuasaan

Dalam perspektif komparatif, hampir semua tradisi besar dunia mengajarkan fase introspeksi dan pembenahan diri: Islam dengan Ramadan, Hindu dengan Nyepi, Kekristenan dengan Prapaskah, serta tradisi Tionghoa dengan pembaruan moral pada Imlek. Tak ada satu pun yang secara esensial mengajarkan dominasi atas yang lain.

Namun, sejarah membuktikan, agama kerap berubah wajah ketika bersinggungan dengan ambisi kekuasaan. Ini adalah godaan abadi: ketika ritual spiritual dilepaskan dari etika dan dimanfaatkan sebagai alat politik, ia kehilangan makna aslinya dan justru menjadi pemecah belah.

More like this