Terobosan UMS: Kembangkan Lab School Unggul, Intip Strategi SD Muhammadiyah 1 Candi
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan Lab School. FKIP UMS melakukan benchmarking ke SD Muhammadiyah 1 Candi Labschool Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Kunjungan ini bertujuan menyiapkan pendirian sekolah laboratorium berkelanjutan dan unggul. Proses perizinan Lab School UMS mencapai tahap akhir. SD Mica menjadi acuan penting pengelolaan sekolah inklusi.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Fakultas Ilmu Pendidikan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tertatih mengembangkan Lab School, memaksa mereka melakukan kunjungan benchmarking ke SD Muhammadiyah 1 Candi (SD Mica) Labschool Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat, 23 Januari 2026, demi meniru keberhasilan yang telah diraih sekolah percontohan tersebut.
Ketergantungan UMS pada Model Sukses
Rombongan UMS yang dipimpin Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum, diterima langsung oleh Dekan FPIP Umsida, Dr. Septi Budi Sartika, M.Pd. Kunjungan ini terang-terangan menunjukkan upaya UMS dalam mengejar ketertinggalan pendirian dan pengelolaan sekolah laboratorium yang berkelanjutan dan unggul, sebuah langkah yang seharusnya sudah mereka miliki sendiri.
Proses perizinan Lab School UMS baru mencapai 90 persen dari 19 item persyaratan, sebuah kemajuan yang lambat jika dibandingkan dengan capaian SD Mica. Keterlambatan ini mendorong UMS untuk secara agresif “belajar langsung” dari SD Mica, yang telah berdiri sejak 2018 dan bertransformasi dari sekolah dengan siswa terbatas menjadi rujukan sekolah inklusi Muhammadiyah.
SD Mica, di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Pristiandi Teguh Cahya, S.Pd., M.PSDM, telah meraih Akreditasi A pada akreditasi pertamanya dan ditetapkan sebagai Sekolah Unggul Nasional versi Muhammadiyah di tahun 2026 ini, dua tahun lebih cepat dari target 2028. Keunggulan ini, termasuk konsep sekolah inklusi yang menerima sekitar 60 siswa berkebutuhan khusus dan kurikulum integratif, menjadi “cetak biru” yang ingin disalin UMS.
Pengakuan Kesenjangan dan Harapan Replikasi
Dekan FPIP Umsida, Septi Budi Sartika, secara diplomatis menyambut kunjungan UMS. “Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Kami sangat senang dan berharap ke depan ada ruang saling berbagi, tidak untuk saling menggurui, karena Bapak/Ibu semua adalah guru kami juga,” ujarnya, mengisyaratkan bahwa UMS datang sebagai pihak yang mencari bimbingan.
Anam Sutopo dari UMS tidak menyembunyikan urgensi kunjungan ini. “Di UMS saat ini kami sedang menyambut hadirnya sekolah lab. Karena itu, kami bersilaturahmi ke saudara-saudara kami, termasuk ke Umsida, untuk belajar langsung bagaimana pengelolaan SD Lab School, baik dari struktur organisasi, tata kelola internal-eksternal, hingga prestasi-prestasinya,” terang Anam, mengakui bahwa UMS membutuhkan panduan konkret untuk mewujudkan ambisinya. Ia bahkan secara eksplisit menyatakan, “Kami ingin meniru semangat dan keseriusan yang telah dirintis di sini. Mudah-mudahan tidak lama lagi UMS bisa mengikuti jejak yang telah dirintis Umsida.”
Tantangan UMS Menuju Keunggulan Mandiri
Ketergantungan UMS pada studi banding untuk pengembangan Lab School yang vital ini menggarisbawahi tantangan internal dalam menciptakan inovasi pendidikan secara mandiri. Meskipun UMS dan Umsida menyebut kunjungan ini sebagai “silaturahmi” dan “ruang belajar bersama,” realitas bahwa UMS masih harus “meniru” model yang sudah ada menimbulkan pertanyaan serius tentang kapasitasnya untuk menjadi pelopor di bidang pendidikan laboratorium dan inovator mandiri.