Sadranan Dusun Pete Kandangan: Bukan Hanya 94 Kambing, Ini Makna di Balik Ritual Akbar
Dusun Pete, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, menggelar Tradisi Sadranan. Sebanyak 94 ekor kambing/domba disembelih dalam acara dua tahunan ini. Kegiatan tersebut merupakan wujud penghormatan leluhur serta simbol syukur dan kebersamaan masyarakat Desa Kembangsari.

Masyarakat Dusun Pete, Temanggung, Jawa Tengah menggelar tradisi Sadranan yang berujung pada penyembelihan masif 94 ekor kambing/domba. Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 23 Januari 2026, memicu pertanyaan tentang skala dan implikasi ekonomi di balik ritual yang diklaim sebagai bentuk syukur dan penghormatan leluhur.
Ritual dua tahunan ini, di Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, melibatkan kirab pusaka dan pesta daging, diklaim untuk menghormati Kiai Keramat dan Kiai Yudho Kusumo. Namun, frekuensi dan jumlah hewan kurban yang fantastis ini menimbulkan sorotan terhadap keberlanjutan tradisi di tengah “kondisi ekonomi tidak menentu” yang diakui oleh pihak dusun sendiri.
Skala Kurban dan Kontradiksi Ekonomi
Prosesi dimulai dengan kirab, diikuti penyembelihan serentak puluhan hewan kurban. Daging kemudian dimasak bersama dan dibagikan kepada warga yang hadir, menegaskan aspek komunal dari perayaan ini.
Wakil Bupati Temanggung Nadia Muna turut hadir dan mengapresiasi tradisi ini sebagai “identitas dan warisan budaya desa.” Keterlibatan pejabat menunjukkan dukungan resmi, namun tanpa menyentuh aspek beban atau efisiensi ritual semacam ini.
Kontradiksi muncul dari pernyataan Kepala Dusun Pete, Arif Fathoni, yang menyebut pemilihan frekuensi dua tahunan disesuaikan dengan “kondisi ekonomi tidak menentu.” Pernyataan ini kontras dengan praktik penyembelihan puluhan hewan yang jelas membutuhkan sumber daya tidak sedikit, mempertanyakan sejauh mana masyarakat kecil menanggung beban tradisi ini.
Suara Pejabat dan Warga
Nadia Muna, Wakil Bupati Temanggung, berujar, “Tradisi ini bentuk penghormatan dan doa kepada para leluhur, khususnya Kiai Keramat dan Kiai Yudho Kusumo yang menyebarkan nilai-nilai kebaikan.”
Dia menambahkan, “Ini simbol kebersamaan, gotong royong, dan doa agar masyarakat Desa Kembangsari senantiasa diberikan keselamatan, ketentraman, serta kesejahteraan.”
Arif Fathoni, Kepala Dusun Pete, menegaskan, “Kambing yang disembelih 94 ekor, dilakukan setiap dua tahun sekali. Mungkin dari dulunya seperti itu karena mengingat kondisi ekonomi tidak menentu.”
Fathoni menjelaskan lebih lanjut, “Kambing disembelih dan dimasak di tempat itu, kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir.”
Latar Belakang Tradisi dan Sorotan
Tradisi Sadranan, yang umumnya merupakan ritual bersih desa dan ziarah kubur menjelang Ramadan, di Dusun Pete ini mengambil dimensi berbeda dengan skala kurban yang masif. Ritual ini berakar pada keyakinan lokal dan penghormatan terhadap pendahulu desa.
Meskipun disebut sebagai wujud syukur dan kebersamaan, praktik penyembelihan hampir seratus ekor kambing setiap dua tahun oleh masyarakat dengan kondisi ekonomi yang diakui “tidak menentu” menuntut evaluasi. Pertanyaan muncul: apakah tradisi ini adalah investasi komunal atau justru beban berat yang terus dipelihara atas nama warisan budaya?