Baznas Sambut Dubes Sudan: Kunci Perkuat Bantuan Kemanusiaan di Tengah Krisis
Ketua Baznas RI Noor Achmad menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Yassir Mohamed Ali Mohamed, di Kantor Pusat Baznas Jakarta. Pertemuan fokus membahas kondisi terkini Sudan dan rencana kolaborasi strategis bantuan kemanusiaan. Baznas berkomitmen memperkuat sinergi serta intensitas kampanye kemanusiaan bagi rakyat Sudan yang membutuhkan.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, melalui Ketua Noor Achmad, menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Sudan untuk Indonesia Yassir Mohamed Ali Mohamed di Kantor Pusat Baznas, Jakarta. Pertemuan ini disebut “momentum” untuk memperkuat sinergi bantuan kemanusiaan bagi Sudan yang terkoyak konflik, namun terjadi pada Sabtu (21/2/2026) – sebuah tanggal yang memunculkan pertanyaan tentang urgensi dan lini masa respons Baznas terhadap krisis mendesak.
Kunjungan Dubes Sudan itu berfokus pada kondisi terkini di Sudan, yang masih dihantam krisis kesehatan dan situasi darurat. Baznas mengklaim berkomitmen penuh untuk tidak membiarkan rakyat Sudan berjuang sendirian di tengah konflik yang terus bergejolak, menjanjikan peningkatan intensitas kampanye kemanusiaan, meskipun krisis sudah berlangsung lama.
Krisis Sudan: Janji Sinergi di Tengah Darurat
Sudan terus berada di ambang bencana kemanusiaan, dengan laporan mendalam menyoroti krisis kesehatan yang parah dan kondisi darurat yang belum mereda. Pertemuan antara Baznas dan Kedubes Sudan ini seharusnya menjadi titik tolak aksi nyata, bukan sekadar retorika “kolaborasi strategis” yang seringkali mandek di tataran rencana.
Delegasi Baznas yang hadir termasuk Wakil Kepala Misi (DCM) Anwar Hassan Ali, Pimpinan Baznas RI Bidang Koordinasi Nasional Achmad Sudrajat, dan Pimpinan Baznas RI Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan Zainulbahar Noor. Turut serta Sekretaris Utama Baznas RI Subhan Cholid serta Deputi I Baznas RI Mohamad Arifin Purwakananta.
Pembahasan berkisar pada rencana kolaborasi strategis antara Baznas dengan pemangku kepentingan lain demi menyalurkan bantuan kemanusiaan. Namun, detail konkret dari “kolaborasi strategis” ini masih samar, menimbulkan pertanyaan tentang seberapa cepat dan efektif bantuan akan tersalurkan ke tangan mereka yang membutuhkan.
Komitmen Baznas untuk “memelopori penghimpunan bantuan” bagi rakyat Sudan bukanlah hal baru. Krisis di Sudan telah memakan korban jiwa dan menyebabkan jutaan orang mengungsi, menuntut respons yang lebih cepat dan terkoordinasi, bukan sekadar “peningkatan intensitas kampanye kemanusiaan” yang baru digagas sekarang.
Kutipan Pimpinan Baznas
Ketua Baznas RI Noor Achmad menyatakan, “Kami di Baznas menaruh keprihatinan yang sangat mendalam atas krisis kemanusiaan yang terus melanda saudara-saudara kita di Sudan. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, Baznas berkomitmen untuk tidak membiarkan mereka berjuang sendirian di tengah konflik yang masih tidak kondusif ini.”
Ia menambahkan, Baznas menegaskan kesiapannya untuk terus memelopori penghimpunan bantuan bagi rakyat Sudan yang telah berjalan selama ini.
Menurut Noor, melalui momentum audiensi tersebut, intensitas kampanye kemanusiaan akan semakin ditingkatkan guna memobilisasi dukungan publik yang lebih besar dan berdampak luas.
Latar Belakang Konflik
Sudan terjerumus dalam konflik berkepanjangan sejak April 2023, ketika perang pecah antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Konflik ini telah menyebabkan krisis kemanusiaan masif, dengan jutaan orang membutuhkan bantuan segera, sementara akses bantuan seringkali terhambat. Pertemuan Baznas ini, meskipun terlambat, menjadi pengingat bahwa bantuan konkret adalah keharusan, bukan pilihan.