UMS Ungkap Kunci Branding Sekolah: Dampingi SD Muhammadiyah Palur Lewat Konten Digital
Tim Humas UMS dampingi SD Muhammadiyah Palur, Karanganyar, kelola konten digital. Pelatihan editing video dan edukasi pengelolaan media sosial memperkuat branding sekolah. Konten video efektif menarik calon pendaftar. Perencanaan sistematis, riset tren, serta etika digital menjadi fokus. Ini kolaborasi sesama Amal Usaha Muhammadiyah.

Tim Humas Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pelatihan krusial di SD Muhammadiyah Palur, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Januari 2026, secara tajam mengidentifikasi kelemahan sekolah dalam pengelolaan konten digital untuk branding. Intervensi ini datang di tengah desakan persaingan ketat yang menuntut setiap institusi pendidikan memaksimalkan daya tarik digitalnya.
Keterbelakangan Digital Sekolah
Pelatihan Editing Video menjadi sorotan utama, menandakan pengakuan UMS atas minimnya kapasitas SD Muhammadiyah Palur dalam memproduksi materi promosi yang relevan. Kehadiran tim UMS bukan sekadar formalitas, melainkan respons atas kebutuhan mendesak sekolah untuk mengedukasi pengelola media sosial agar mampu meningkatkan daya tarik publik, sebuah keharusan di tengah arus perkembangan zaman.
Baghaz Muhammad Hasbi Ashiddieqy, S.H., narasumber dari UMS, menegaskan konten video adalah “jembatan efektif” yang selama ini belum dimanfaatkan maksimal oleh banyak institusi. Ia membeberkan strategi UMS yang sistematis: penetapan target konten bulanan dan pemantauan tren, secara implisit menampar pendekatan ad-hoc yang mungkin selama ini diterapkan sekolah.
Produksi konten, menurut Baghaz, menuntut empat poin fundamental: shot list untuk penyusunan acara, talent sebagai pemantik daya tarik, lokasi yang krusial, dan properti sebagai pelengkap. Ia juga menekankan riset algoritma dan tren media sosial adalah hal fundamental untuk meningkatkan jumlah penonton, sebuah disiplin yang sering diabaikan.
Etika dan Estetika Konten Mendesak
“Konten memiliki daya tarik yang sangat efektif di era sekarang, sebagai jembatan antara sekolah dan calon pendaftar,” tegas Baghaz, menyoroti celah promosi yang selama ini luput. Ia menambahkan, “Tim Humas UMS mempunyai target content dalam sebulan, kurang lebih lima content yang diproduksi dalam sebulan. Namun, kami juga tidak pernah luput dengan trend yang beredar di masyarakat, karena content yang sedang trend memiliki lonjakan viewers paling signifikan.” Baghaz juga menegaskan etika dan keamanan digital harus diprioritaskan demi menjaga nama instansi.
Muhammad Fatkhan Attamimi, S.Pd., atau Atta, mengupas tuntas editing video sebagai penentu estetika konten. “Tiga detik pertama harus diberikan video paling menarik, sehingga kesan content dapat ditangkap di awal menonton,” kata Atta, mendorong inovasi. Ia juga mengajak peserta pelatihan praktik langsung, dari konsep hingga editing, menunjukkan kesenjangan keterampilan yang harus segera ditutup.
Kegiatan ini secara gamblang memperlihatkan peran UMS dalam memberdayakan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) lain, menyoroti fakta bahwa banyak institusi pendidikan di bawah payung Muhammadiyah masih butuh dorongan keras untuk beradaptasi dengan tuntutan zaman digital. Ini bukan sekadar pendampingan, melainkan upaya mendasar untuk memastikan relevansi AUM di masa depan.