Kunci Sukses Milad Perak SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro: Peran Vital Mahasiswa KKN UMS

2 min read
Kunci Sukses Milad Perak SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro Berkat Peran Mahasiswa KKN UMS

Mahasiswa KKN-Dik UMS Kelompok 19 sukses dukung Milad ke-25 SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro. Partisipasi aktif mereka meliputi persiapan dan memeriahkan acara enam hari (19-24 Januari). Rangkaian kegiatan di Purwantoro ini mencakup turnamen voli, futsal, lomba badminton guru, jalan sehat, hingga konser siswa. Ini merupakan pengabdian masyarakat mahasiswa UMS.

Kunci Sukses Milad Perak SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro Berkat Peran Mahasiswa KKN UMS

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kelompok 19 dimobilisasi habis-habisan selama enam hari, 19-24 Januari, untuk menopang perayaan Milad ke-25 SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro di Wonogiri, Jawa Tengah. Keterlibatan ini menyoroti praktik pengerahan mahasiswa KKN sebagai “tenaga pelengkap” yang mengaburkan esensi pengabdian masyarakat, alih-alih menghasilkan dampak substansial.

Mobilisasi Tenaga Mahasiswa

Selama periode tersebut, mahasiswa KKN-Dik UMS Kelompok 19 menjadi tulang punggung kepanitiaan, dari penataan lapangan hingga pengaturan jadwal pertandingan. Mereka terlibat dalam turnamen bola voli antar SMP/MTs se-Distrik Purwantoro, pertandingan futsal di GOR Slogohimo, hingga lomba badminton khusus guru di mana sebagian mahasiswa turut menjadi peserta.

Puncak “pengabdian” mahasiswa terlihat pada kegiatan jalan sehat yang digabung dengan serangkaian agenda sosial. Mereka ikut memeriahkan jalan sehat, bahkan menyumbangkan lagu, yang disambut hangat oleh hadirin. Peran ini menyoroti bagaimana program KKN seringkali menjadi alat praktis bagi institusi pendidikan lokal untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja temporer.

Keterlibatan mahasiswa juga mencakup penutupan acara dengan konser siswa, memastikan seluruh rangkaian Milad berjalan “lancar dan sukses.” Namun, narasi ini gagal menjelaskan sejauh mana sekolah telah berinvestasi dalam kemandirian acara, atau apakah partisipasi KKN ini benar-benar membentuk pengalaman berharga yang substansial bagi mahasiswa selain menjadi tenaga bantu.

Klaim Pengabdian yang Dipertanyakan

Ketua KKN-Dik UMS Kelompok 19, Dika Dwi Pratama, mengklaim keterlibatan ini sebagai “bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.” Dika menambahkan, “Kami sangat bersyukur dapat ikut terlibat dan membantu mensukseskan rangkaian Milad ke-25 SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro. Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk belajar bekerja sama, berkontribusi langsung di lingkungan sekolah, serta mempererat hubungan dengan warga sekolah dan masyarakat sekitar.” Pernyataan ini terdengar klise, seolah menjustifikasi pengerahan massal mahasiswa sebagai bagian dari kurikulum.

Senada, mahasiswa KKN Alief Maulana menyatakan kebanggaannya, berharap pengalaman ini “menjadi bekal dan kontribusi nyata dalam mendukung kegiatan pendidikan di tengah masyarakat.” Namun, narasi “bekal” dan “kontribusi” ini patut dipertanyakan, apakah hanya sekadar pemenuhan tugas atau benar-benar menghasilkan dampak berkelanjutan bagi komunitas.

Esensi KKN di Ujung Tanduk

Program Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) UMS, yang seyogianya menjadi wadah pengabdian berbasis solusi, justru tampak bergeser menjadi penyedia tenaga kerja gratis untuk acara tahunan sekolah. Ini memunculkan pertanyaan kritis tentang efektivitas dan keberlanjutan model pengabdian semacam ini dalam menciptakan dampak nyata, alih-alih hanya sekadar mengisi daftar partisipasi.

More like this