FSRD ISI Solo & Sangiran: Menjajaki Kolaborasi Strategis di Jantung Sejarah Purba

2 min read
FSRD ISI Solo & Sangiran: Kolaborasi Strategis di Jantung Sejarah Purba

FSRD ISI Solo mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen, untuk menjajaki kolaborasi. Diskusi berfokus pada edukasi, riset kreatif, dan pengembangan program mahasiswa. FSRD melihat Sangiran sebagai sumber inspirasi seni dan desain. Museum berkomitmen menjangkau generasi muda melalui pendekatan kreatif. Kerja sama ini diharapkan memperkuat pelestarian warisan budaya dunia.

FSRD ISI Solo & Sangiran: Kolaborasi Strategis di Jantung Sejarah Purba

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Solo mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen, pada Jumat, 23 Januari 2026, mengumumkan “penjajakan kerja sama” yang diklaim akan membuka peluang kolaborasi di bidang edukasi dan riset kreatif, namun tanpa rincian program konkret. Kunjungan ini, yang diwarnai retorika positif, masih menyisakan keraguan akan hasil nyata dan terukur.

Klaim Kolaborasi Minim Detail

Kunjungan delegasi FSRD, yang dipimpin Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Nur Rahmat Ardi Candra Dwi Atmaja, diterima langsung oleh Penanggung Jawab Museum Klaster Krikilan Marlia Yulianti Rosyidah. Diskusi mereka berpusat pada “peluang kolaborasi” di bidang edukasi, riset kreatif, pengembangan program mahasiswa, serta pemanfaatan narasi prasejarah sebagai inspirasi seni dan desain. Namun, rincian implementasi dari “peluang” ini masih mengawang-awang.

Klaim bahwa Sangiran menyimpan “potensi besar sebagai laboratorium visual dan konseptual” bagi mahasiswa, serta “ruang belajar terbuka yang kaya inspirasi,” terucap dalam pertemuan. Pertanyaan kritis muncul: bagaimana klaim ambisius ini akan diterjemahkan menjadi proyek konkret dan terukur, bukan sekadar wacana. Tanpa kerangka kerja yang jelas, inisiatif ini berisiko mandek pada tahap penjajakan.

Pihak museum menyatakan komitmen menjangkau generasi muda melalui pendekatan kreatif. Namun, strategi spesifik untuk “mengemas edukasi prasejarah lewat pendekatan visual dan artistik” belum dipaparkan. Ini menimbulkan keraguan apakah kunjungan ini akan berujung pada inovasi nyata atau hanya menjadi agenda seremonial belaka.

Retorika Tanpa Aksi Nyata

Nur Rahmat Ardi Candra Dwi Atmaja, Wakil Dekan FSRD ISI Solo, menegaskan, “Kami melihat Sangiran bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai ruang belajar terbuka yang kaya inspirasi. Kolaborasi ini diharapkan membuka peluang proyek kreatif, pameran, hingga riset berbasis seni yang melibatkan mahasiswa.” Penekanan pada “diharapkan” justru menyoroti absennya komitmen tegas dan rencana aksi yang mengikat.

Marlia Yulianti Rosyidah, Penanggung Jawab Museum Klaster Krikilan, menambahkan, “Museum tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana generasi sekarang memaknainya kembali. Kehadiran FSRD membawa perspektif baru yang segar, terutama dalam mengemas edukasi prasejarah lewat pendekatan visual dan artistik.” Ia juga menyebut, “Kerja sama ini memperkuat peran seni dan desain dalam mendukung pelestarian serta pemaknaan warisan budaya dunia secara lebih kontekstual dan menarik bagi publik luas.” Retorika positif ini, tanpa dukungan program terstruktur, hanya menjadi janji manis di atas kertas.

Pertemuan ini menjadi langkah awal antara institusi pendidikan seni dan lembaga pelestarian warisan budaya dunia, namun keberlanjutan dan dampak nyatanya masih menanti pembuktian.

More like this