MPR Angkat Bicara: Sound Horeg & Penari Seksi di SOTR Jombang Coreng Spirit Ramadan

2 min read
MPR Angkat Bicara: Sound Horeg & Penari Seksi SOTR Jombang Coreng Spirit Ramadan

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyoroti kegiatan Sahur on the Road (SOTR) di Kabuh, Jombang, Jawa Timur. HNW menilai SOTR yang menampilkan sound horeg dan penari seksi ini tidak sesuai prinsip nilai berpuasa. Kegiatan tersebut dianggap mengganggu etika dan kesopanan, kata HNW pada Selasa (24/2/2026).

MPR Angkat Bicara: Sound Horeg & Penari Seksi SOTR Jombang Coreng Spirit Ramadan

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengecam keras kegiatan Sahur on the Road (SOTR) di Kabuh, Jombang, Jawa Timur, Minggu (22/2/2026), yang menampilkan “sound horeg” dan “penari seksi”. Kritiknya menyoroti penyimpangan fundamental dari esensi berpuasa dan nilai-nilai agama.

Aksi SOTR tersebut, alih-alih membangunkan sahur, justru dinilai HNW mengganggu dan merusak kesakralan bulan Ramadan. Kegiatan ini terang-terangan bertentangan dengan etika, kesopanan, serta prinsip-prinsip Islam dan adat ketimuran yang seharusnya dijunjung tinggi.

Penyimpangan Esensi SOTR

Fenomena “sound horeg” dan penari berpakaian minim dalam kegiatan yang mengatasnamakan sahur ini memicu pertanyaan serius tentang moralitas publik. Sebuah tradisi yang awalnya bertujuan positif, kini berubah menjadi tontonan vulgar yang mengusik ketenteraman ibadah.

SOTR, yang seharusnya menjadi momentum kebersamaan dalam ketaatan, kini justru menjadi ajang ekspresi yang jauh dari nilai-nilai spiritual. Ini bukan sekadar gangguan suara, melainkan perusakan makna puasa itu sendiri.

Masyarakat Jombang dan sekitarnya terganggu oleh aktivitas yang mengatasnamakan “sahur” namun sarat hiburan duniawi yang tidak pada tempatnya.

Penyelenggara dan peserta SOTR di Kabuh, Jombang, telah menodai bulan suci dengan praktik yang mencoreng kesucian Ramadan. Mereka gagal memahami tujuan mulia sahur.

Insiden ini mendesak peninjauan ulang terhadap izin dan pengawasan kegiatan publik, terutama yang berkaitan dengan ritual keagamaan, agar tidak diselewengkan menjadi ajang pameran yang tak pantas.

Teguran Keras Wakil Rakyat

HNW, berbicara pada Selasa (24/2/2026) di Jakarta, menegaskan, “Mestinya kalaupun SOTR itu adalah betul-betul dalam rangka untuk mengingatkan, membangunkan orang untuk sahur.”

Ia melanjutkan, “Bukan malah untuk mengganggu orang yang sahur, bukan malah mengganggu esensi berpuasa yang di antaranya adalah terkait menjaga etika, kesopanan, dan lain sebagainya.”

Pernyataan HNW secara gamblang menunjukkan kekecewaan atas penyimpangan yang merusak makna SOTR dan mencoreng citra ibadah di bulan suci.

Fenomena SOTR yang Kerap Disalahgunakan

SOTR, sebagai tradisi populer di Indonesia, seringkali menjadi polemik. Banyak yang menyalahgunakan kegiatan ini sebagai ajang hura-hura, jauh dari semangat berbagi dan membangunkan sahur.

Kasus di Jombang ini menjadi puncak gunung es dari sederet kegiatan SOTR yang kerap berujung pada pelanggaran norma, kebisingan, dan bahkan potensi kerawanan sosial. Ini menuntut ketegasan dari otoritas setempat.

More like this