12 Jalur Alternatif Kabupaten Semarang Siap Urai Macet Mudik, Pemudik Wajib Tahu!
DPU Kabupaten Semarang melakukan perbaikan 38 ruas jalan menjelang Lebaran 2026. Dua belas ruas di antaranya jalur alternatif pemudik. Peningkatan mutu ini bertujuan memberikan kenyamanan bagi pemudik yang melintas di wilayah Kabupaten Semarang. Perbaikan juga meliputi jalan dalam kota Ungaran. Petugas piket disiapkan mengantisipasi kebutuhan pengguna jalan.
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Semarang mengklaim telah merampungkan perbaikan 38 ruas jalan, termasuk 12 jalur alternatif vital, menjelang Lebaran 2026. Klaim ini muncul setelah Bupati Semarang Ngesti Nugraha mendesak penyelesaian seluruh perbaikan sebelum Hari Raya Idulfitri, memunculkan pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur jalan yang seharusnya terjaga sepanjang tahun.
Perbaikan jalan ini, yang disebut DPU sebagai “peningkatan mutu” dan “pemeliharaan rutin,” difokuskan untuk “kenyamanan” pemudik. Namun, desakan bupati mengindikasikan bahwa perbaikan ini mungkin merupakan respons reaktif terhadap momentum Lebaran, bukan bagian dari pemeliharaan proaktif yang konsisten.
Ruas Krusial dan Kesiapan Darurat
Plt Kepala DPU Kabupaten Semarang, Danang EW, menjelaskan bahwa 12 ruas jalan yang menjadi jalur alternatif utama pemudik telah dipelihara. Ruas-ruas ini meliputi Tuntang – Karang Lo, Delik – Pabelan, Butuh -Getasan, Kecandran (Salatiga) – Banyubiru – Ambarawa, Rengas – Bawen, Suruh – Bonomerto, Barukan – Klero, Bawen – Ngampin, Tegalwaras – Jimbaran, dan Tlogo – Karang Tengah. Jalur-jalur ini krusial sebagai penghubung ke Salatiga, Solo, dan Yogyakarta.
Selain itu, DPU juga mengklaim telah memperbaiki ruas jalan dalam kota Ungaran, seperti Jalan Moh Yamin, Letjen Soeprapto, dan MT Haryono. Kesiapan ini, menurut DPU, juga dilengkapi dengan petugas piket fungsional sebagai “langkah antisipasi” jika terjadi insiden, sebuah pengakuan tersirat akan potensi masalah di lapangan.
Klaim dan Desakan Pejabat
Danang EW menyatakan, “Ada pemeliharaan rutin jalan yang sudah dilaksanakan untuk menyiapkan 12 ruas jalur alternatif lebaran.” Pernyataan ini mengesankan bahwa perbaikan tersebut adalah bagian dari rutinitas, bukan upaya luar biasa. Ia menambahkan, “Kami juga siapkan petugas piket fungsional, sebagai langkah antisipasi jika terjadi hal-hal yang harus ditangani. Terpenting, menjaga keselamatan pengguna jalan.”
Sebelumnya, Bupati Semarang Ngesti Nugraha dengan tegas memerintahkan, “Sehingga, pemudik nyaman melintasi wilayah Kabupaten Semarang.” Desakan bupati ini menyoroti urgensi perbaikan yang mungkin belum optimal tanpa intervensi langsung, mempertanyakan standar pemeliharaan jalan di luar musim mudik.
Perbaikan jalan menjelang Lebaran merupakan agenda tahunan yang selalu berulang. Namun, pola perbaikan yang terkesan mendadak dan reaktif ini terus memunculkan pertanyaan tentang efektivitas dan keberlanjutan pemeliharaan infrastruktur jalan di Kabupaten Semarang di luar momen-momen krusial seperti Lebaran. Masyarakat menuntut jaminan keselamatan dan kenyamanan jalan yang tidak hanya bersifat musiman.
