Mensesneg Turun Tangan: Dalami Dugaan Penebangan Hutan Penyebab Banjir Parah Guci Tegal

2 min read
Mensesneg Selidiki Dugaan Penebangan Hutan Penyebab Banjir Parah Guci Tegal

Pemerintah melalui Mensesneg Prasetyo Hadi mendalami penyebab banjir bandang Guci, Tegal. Dugaan penebangan hutan di hulu menjadi fokus investigasi. Kementerian Kehutanan diminta meninjau wilayah Guci. Koordinasi dengan Pemprov Jawa Tengah dan Pemkab Tegal terus berjalan untuk penanganan bencana.

Mensesneg Selidiki Dugaan Penebangan Hutan Penyebab Banjir Parah Guci Tegal

Pemerintah akhirnya merespons banjir bandang yang meluluhlantakkan objek wisata Guci, Tegal. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan penyelidikan penyebab bencana, menunjuk dugaan kuat penebangan hutan di wilayah hulu sebagai pemicu utama.

Langkah ini diambil setelah tragedi yang menerjang Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Prasetyo memerintahkan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) meninjau ulang wilayah sekitar tempat wisata tersebut, Rabu (18/2/2026).

Dugaan Deforestasi, Akar Bencana

Perintah Kemenhut untuk “review” wilayah Guci menunjuk langsung pada akar masalah yang kerap diabaikan: deforestasi masif. Dugaan penebangan hutan di hulu bukan sekadar spekulasi; ini adalah faktor krusial yang memperparah daya rusak banjir bandang.

Banjir yang menerjang Guci bukan peristiwa alam murni. Kerusakan lingkungan, khususnya penggundulan hutan, diduga kuat mengubah pola aliran air dan memicu erosi hebat, memperparah dampak pada permukiman dan fasilitas wisata.

Sikap pemerintah yang baru bereaksi pasca-bencana memunculkan pertanyaan kritis. Mengapa pengawasan terhadap aktivitas kehutanan di wilayah hulu tidak berjalan efektif sebelum tragedi ini terjadi?

Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, yakni dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Tegal, diklaim terus berjalan. Tim investigasi daerah sudah turun lapangan, namun urgensi pencegahan justru terkesan terlambat.

Bencana di Guci menjadi pengingat pahit atas kegagalan mitigasi dan pengawasan lingkungan yang kronis. Kerusakan ekosistem hulu kini menuntut pertanggungjawaban serius, bukan sekadar janji pendalaman.

Janji Investigasi Mendesak

Mensesneg Prasetyo Hadi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026), menegaskan langkah pemerintah. “Kami meminta dari Kementerian Kehutanan untuk juga melakukan review di wilayah sekitar tempat wisata Guci di Kabupaten Tegal itu,” ujar Prasetyo.

Pernyataan Prasetyo ini muncul setelah serangkaian pertanyaan mengenai keseriusan pemerintah menindaklanjuti dugaan deforestasi. Fokus pada “review” oleh Kemenhut mengindikasikan pengakuan awal terhadap masalah lingkungan di hulu Guci.

Ia juga menyebut koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Tegal telah berlangsung, dengan tim investigasi daerah mulai bekerja di lapangan. Namun, ia tidak merinci temuan awal atau potensi sanksi bagi pihak yang bertanggung jawab.

Dampak dan Akuntabilitas

Banjir bandang menerjang objek wisata Guci, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu, menyebabkan kerusakan signifikan. Meskipun laporan korban jiwa belum diterima BNPB, dampak ekonomi dan lingkungan jangka panjang diperkirakan besar.

More like this