Grebeg Kupat: Ribuan Warga Berebut Ketupat Berisi Uang dan Voucher, Inilah Momen Puncaknya
Ribuan warga berpartisipasi dalam Grebeg Kupat di Kabupaten Magelang pada 28 Maret 2026. Tujuh gunungan ketupat diarak sebagai tradisi Hari Jadi Kabupaten Magelang. Prosesi kirab melibatkan Bupati dan Forkompimda, diikuti ribuan warga. Acara ini menampilkan lebih dari 7.000 ketupat janur, melambangkan persatuan dan kemakmuran daerah.
Ribuan warga Kabupaten Magelang berebut ketupat berkah dalam tradisi Grebeg Kupat yang digelar Pemerintah Kabupaten Magelang di Lapangan drh. Soepardi, Sawitan, Kota Mungkid, Sabtu (28/3/2026). Acara yang diklaim sebagai simbol kedekatan pemerintah dengan rakyat ini justru diwarnai kericuhan perebutan, menyoroti ironi di balik perayaan Hari Jadi Kabupaten Magelang.
Tujuh gunungan ketupat yang diarak dalam prosesi meriah berakhir menjadi objek rebutan massal, mempertanyakan efektivitas pesan persatuan dan kemakmuran yang digaungkan pemerintah daerah di tengah realitas warga yang harus berdesakan demi sekadar ketupat.
Prosesi dan Kontras Realitas
Prosesi Grebeg Kupat diawali dengan kirab tujuh gunungan dari halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) An Nuur sejauh satu kilometer. Barisan depan diisi pasukan bergodo, mengawal Bupati Magelang Grengseng Pamudji dan Wakil Bupati Sahid, beserta jajaran Forkompimda dan ASN, semua berbalut busana Jawa sorjan dan kebaya, diiringi gamelan. Pemandangan ini kontras tajam dengan kerumunan warga yang menanti di sepanjang jalan, sebagian ikut kirab, sebagian lain hanya menyaksikan.
Setibanya di Lapangan drh. Soepardi, tujuh gunungan ketupat didoakan. Namun, momen sakral ini segera berganti menjadi ajang perebutan. Sebelum kericuhan massal, Bupati dan Wakil Bupati sempat membagikan ratusan ketupat berisi uang pecahan mulai dari Rp5.000 kepada warga di atas panggung—sebuah pembagian yang terkesan simbolis dan terbatas.
Setelah seremoni singkat, ribuan warga yang telah menanti di antara gunungan langsung menyerbu. Lebih dari 7.000 ketupat janur yang tersusun di tujuh gunungan ludes dalam sekejap, diwarnai desakan dan dorongan antarwarga yang ingin mendapatkan bagian.
Pemandangan ini menampar klaim pemerintah tentang “kedekatan” dan “persatuan,” ketika warga justru harus saling sikut demi sepotong ketupat, bahkan yang berisi uang receh.
Klaim vs. Kenyataan
Sumiarsih, seorang warga Mertoyudan, mengakui sulitnya perebutan. “Dapat lima belas ribu (rupiah), sulit rebutannya. Tapi senang bisa ikut kirabnya juga, walau sebentar,” ujarnya, menggambarkan perjuangan kecil di tengah kemeriahan.
Bupati Magelang, Grengseng Pamudji, bersikeras bahwa Grebeg Kupat adalah “bentuk kedekatan antara pemerintah daerah dengan masyarakat.” Ia mengklaim, “Filosofi nasi putih dalam bungkus janur mencerminkan hati yang bersih, serta melambangkan kemakmuran, persaudaraan, dan simbol persatuan dalam membangun daerah.”
Grengseng juga menambahkan, “Secara filosofis, kupat ini melambangkan ngaku lepat, saling mengakui kesalahan di momen Idulfitri, sebagai modal membangun ke depan.” Ia berharap, dari tujuh gunungan itu, “Kabupaten Magelang selalu mendapat berkah, serta dalam menjalankan pemerintahan kami diberikan pertolongan dan petunjuk.” Retorika ini terasa hambar di hadapan realitas warga yang berdesakan.
Perayaan yang Menguras
Grebeg Kupat ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Magelang, sebuah perayaan yang melibatkan berbagai acara.
Selain perebutan ketupat, rangkaian acara Hari Jadi Kabupaten Magelang juga mencakup pertunjukan wayang orang pada malam hari dan penerbangan balon udara pada Minggu pagi, menunjukkan skala perayaan yang masif, namun dengan inti acara yang justru menonjolkan kesenjangan.