Terobosan Mahasiswa Geografi UMS: Program Mengajar Desa Angkat Kualitas Pendidikan
Program Pengabdian Mengajar Desa diinisiasi mahasiswa UMS. Berlangsung 23-30 Januari 2026 di Desa Ngemplak, Karanganyar, Jawa Tengah. Mahasiswa Geografi UMS dan tutor lain mendampingi siswa SD Negeri 03 Ngemplak. Fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, literasi, dan numerasi. Kegiatan ini wujud nyata pengabdian masyarakat.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menambal lubang kualitas pendidikan di daerah terpencil, kali ini melalui program Pengabdian Mengajar Desa di SD Negeri 03 Ngemplak, Desa Ngemplak, Karanganyar, Jawa Tengah, selama 23-30 Januari 2026. Inisiatif mahasiswa ini menyoroti minimnya intervensi pemerintah daerah dalam memastikan standar pendidikan dasar yang memadai, memaksa pihak eksternal turun tangan.
Ketergantungan pada Relawan
Hian Risnandar, mahasiswa Geografi UMS, memimpin 15 “Tutor Inspiratif” dari berbagai perguruan tinggi. Mereka mengisi kekosongan dengan mendampingi guru, memperkuat literasi, numerasi, dan pembelajaran tematik. Ini menunjukkan ketergantungan sistem pendidikan lokal pada sukarelawan untuk fungsi dasar yang seharusnya menjadi tanggung jawab utama Dinas Pendidikan setempat.
Metode pembelajaran yang diklaim “interaktif, komunikatif, dan mudah dipahami” diterapkan selama tujuh hari tersebut. Kehadiran para tutor ini secara efektif mengambil alih peran vital dalam memastikan materi pelajaran tersampaikan secara efektif, sebuah indikasi bahwa guru-guru di SDN 03 Ngemplak mungkin kekurangan kapasitas atau sumber daya untuk melakukannya sendiri secara optimal.
Program ini, meski bersifat sementara, berambisi membentuk karakter, kepercayaan diri, dan motivasi belajar siswa. Namun, intervensi jangka pendek semacam ini hanya menjadi plester sementara pada luka sistemik, tanpa menyentuh akar masalah ketimpangan pendidikan di pedesaan.
Pengakuan Kesenjangan
Hian Risnandar mengakui, “Metode pembelajaran yang diterapkan disesuaikan dengan karakteristik siswa sekolah dasar, sehingga suasana belajar berlangsung interaktif, komunikatif, dan mudah dipahami.” Pernyataan ini secara tidak langsung menggarisbawahi kegagalan metode pengajaran konvensional yang mungkin kurang efektif di sekolah tersebut.
Dia juga menambahkan, “Melalui pendampingan langsung di sekolah, Tutor Inspiratif dapat memahami kondisi nyata pembelajaran dan memberikan kontribusi yang lebih relevan bagi siswa.” Ini menegaskan bahwa kondisi “nyata” pembelajaran di lapangan memerlukan intervensi langsung, bukan sekadar kebijakan dari meja dinas.
Meskipun program “Pengabdian Mengajar Desa” disebut berjalan lancar dan mendapat sambutan positif, keberlangsungannya hanya sepekan. Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan dampak dan apakah pemerintah daerah akan mengambil langkah konkret untuk mengatasi defisit kualitas pendidikan, atau hanya akan terus mengandalkan inisiatif sukarela mahasiswa sebagai solusi jangka pendek.