KKL Vokasi Undip di Surabaya
Mahasiswa Prodi Manajemen dan Administrasi Logistik SV Undip melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Surabaya dan Bali pada 26-30 Januari 2026. Kunjungan ke perusahaan dan kantor bea cukai ini memberikan pengalaman praktik industri manajemen logistik dan rantai pasok. KKL mahasiswa vokasi Undip bertujuan meningkatkan kompetensi profesional.

Mahasiswa Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik (MAL) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip) melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Surabaya dan Bali pada 26-30 Januari 2026, sebuah kegiatan yang diklaim sebagai “implementasi pembelajaran berbasis praktik industri” namun minim detail mengenai dampak konkretnya. Kunjungan lima hari ini melibatkan puluhan mahasiswa Angkatan 2023 dan 2024 ke sejumlah perusahaan logistik, manufaktur, dan kantor bea cukai, memunculkan pertanyaan tentang kedalaman pengalaman yang didapat.
Kedalaman Kunjungan Industri Dipertanyakan
Angkatan 2024 menyambangi PT Yakult Indonesia Persada di Mojokerto, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) Tanjung Perak Surabaya, serta PT Integrasi Aviasi Solusi di Denpasar, Bali. Sementara itu, Angkatan 2023 mengunjungi PT Terminal Petikemas Surabaya, PT Multi Terminal Indonesia – Surabaya, PT Cipta Krida Bahari Surabaya, KPPBC TMPA Ngurahrai, KPPBC TMPA Denpasar, dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Daftar kunjungan yang panjang ini justru menimbulkan kecurigaan bahwa setiap kunjungan hanya bersifat seremonial, bukan pengalaman mendalam.
Kegiatan KKL ini didampingi sejumlah dosen, antara lain Dr. Titik Djumiarti, S.Sos, M.Si, Riandhita Eri Werdani, SMB, MSM, Dr. Nurul Imani Kurniawari, S.E,M.M, Dr.Edy Raharja, S.E, M.Si, Suwandi, SAP, M.Si, dan Agung Budiatmo, S.Sos, M.M. Kehadiran banyak pendamping mengindikasikan logistik yang kompleks, namun tidak menjamin substansi pembelajaran yang memadai. Waktu yang singkat di setiap lokasi, dengan fokus pada “pemaparan materi” dan “observasi langsung,” berisiko menghasilkan pemahaman yang dangkal, jauh dari “praktik industri” sesungguhnya.
Klaim Ambisius, Hasil Samar
Klaim bahwa mahasiswa “diharapkan mampu memahami secara nyata proses pengelolaan gudang, distribusi, transportasi, pengendalian persediaan, hingga sistem logistik terintegrasi” dari kunjungan singkat ini adalah ambisius. Tanpa keterlibatan aktif dalam proyek atau analisis kasus riil, pemahaman tersebut cenderung berhenti pada tingkat teoritis, bukan praktis. Begitu pula dengan ekspektasi “mengetahui dari dekat” operasional Bea dan Cukai, yang kemungkinan besar hanya menyentuh permukaan.
Salah satu dosen pendamping, Riandhita Eri Werdani, mengklaim, “KKL ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa terkait penerapan manajemen logistik dan rantai pasok di dunia industri.” Ia menambahkan bahwa mahasiswa “mendapatkan pemaparan materi dari pihak perusahaan, sistem manajemen logistik modern, serta standar operasional prosedur (SOP)” dan “melakukan observasi langsung ke area operasional.” Pernyataan ini justru menguatkan dugaan bahwa KKL ini lebih mengarah pada tur edukasi daripada pengalaman kerja yang mendalam.
Visi “link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri” yang digaungkan oleh kurikulum vokasi terus dipertanyakan efektivitasnya melalui kegiatan semacam ini. Mahasiswa “diharapkan dapat meningkatkan kompetensi profesional, wawasan industri, serta kesiapan kerja setelah lulus,” namun tanpa mekanisme evaluasi yang transparan dan indikator keberhasilan yang terukur, klaim ini tetap menjadi janji kosong.