Produksi Perikanan RI Kian Melonjak: Target 26,25 Juta Ton di 2025, Pertumbuhan 3,8% Jadi Sorotan

3 min read
Produksi Perikanan RI Kian Melonjak: Target 26,25 Juta Ton di 2025, Pertumbuhan 3,8% Jadi Sorotan

Produksi kelautan dan perikanan nasional mencapai 26,25 juta ton pada 2025, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dengan pertumbuhan 3,8 persen. Ekspor produk perikanan Indonesia juga meningkat signifikan, mencapai 6,27 miliar dolar AS. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan ketersediaan ikan nasional aman hingga Juni 2026.

Produksi Perikanan RI Kian Melonjak: Target 26,25 Juta Ton di 2025, Pertumbuhan 3,8% Jadi Sorotan

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono gembar-gembor capaian fantastis produksi kelautan dan perikanan nasional, mengklaim rekor tertinggi 26,25 juta ton pada 2025. Data ini diumbar dalam rapat kerja Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Klaim pertumbuhan 3,8 persen dari tahun sebelumnya ini, yang disebut Trenggono sebagai produksi tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, turut diiringi lonjakan nilai ekspor perikanan hingga 6,27 miliar dolar AS pada tahun yang sama. Namun, narasi kemajuan ini minim detail konkret tentang pemerataan manfaat bagi nelayan kecil dan keberlanjutan ekosistem.

Klaim Rekor Produksi dan Ekspor

Dari total produksi 26,25 juta ton, 11,65 juta ton disumbang rumput laut, 7,85 juta ton dari perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton dari perikanan budidaya. Angka-angka ini, meski impresif di atas kertas, gagal menjelaskan bagaimana KKP menyeimbangkan eksploitasi sumber daya dengan pelestarian jangka panjang.

Lonjakan ekspor sebesar 6,27 miliar dolar AS, disebut tertinggi dalam lima tahun terakhir, memicu pertanyaan tentang sejauh mana keuntungan ini mengalir ke kantong para pelaku usaha perikanan skala kecil, bukan hanya korporasi besar. Transparansi distribusi keuntungan menjadi krusial.

Trenggono berdalih, peningkatan ini terjadi di tengah “dinamika geopolitik global dan fenomena perubahan iklim”. Namun, klaim ini justru menyoroti urgensi adaptasi dan mitigasi yang lebih dari sekadar retorika. Ancaman nyata terhadap keberlanjutan sumber daya laut tetap membayangi.

KKP bersikeras berkomitmen memastikan ketersediaan protein hewani bagi masyarakat, khususnya dari sektor perikanan. Komitmen ini perlu diuji dengan data riil aksesibilitas dan keterjangkauan ikan bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah terpencil yang sering luput dari perhatian.

Proyeksi KKP untuk periode April hingga Desember 2026 menargetkan total produksi ikan nasional mencapai 10,57 juta ton, terdiri dari 5,42 juta ton ikan tangkap dan 5,15 juta ton ikan budidaya. Target ambisius ini harus dibarengi strategi mitigasi risiko yang jelas, bukan sekadar angka di atas kertas.

Kutipan Menteri dan Pertanyaan Kritis

“Produksi mencapai 26,25 juta ton, menjadi capaian tertinggi yang terdiri atas 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya,” ujar Trenggono, seolah angka-angka ini menjelaskan segalanya tanpa perlu evaluasi mendalam.

Ia menambahkan, “Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, kinerja sektor kelautan dan perikanan nasional hingga saat ini tetap menunjukkan capaian produksi dan ekspor yang terjaga dengan baik.” Pernyataan ini terkesan mengabaikan dampak tantangan tersebut terhadap keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan nelayan.

“Berdasarkan hasil pemantauan, kami dapat melaporkan bahwa status ketersediaan ikan berada pada kategori aman hingga Juni 2026,” klaim Trenggono, tanpa merinci metodologi pemantauan atau definisi “aman” yang komprehensif, terutama bagi masyarakat di luar delapan kota besar yang dipantau.

Tantangan Kesejahteraan dan Keberlanjutan

KKP terus memantau komoditas utama perikanan di delapan kota besar, termasuk Jakarta, Surabaya, Banjarmasin, Bandar Lampung, dan Medan. Fokus yang terpusat ini menimbulkan pertanyaan tentang representasi data “ketersediaan ikan aman” secara nasional. Laporan optimis ini disampaikan di tengah desakan publik agar pemerintah tidak hanya fokus pada angka produksi dan ekspor, tetapi juga pada praktik penangkapan ikan yang bertanggung jawab, pemberantasan IUU Fishing, dan peningkatan kesejahteraan nelayan tradisional yang kerap terpinggirkan.

More like this