Nawal Yasin: Inacraft 2026 Jadi Panggung Produk Unggulan Jateng, Sorot Kekuatan Kreativitas Pengrajin Perempuan
Dekranasda Jawa Tengah berpartisipasi di Inacraft 2026 (4-8 Februari) di JICC, Jakarta. Menampilkan kriya, wastra, dan batik unggulan dari 69 UMKM. Fokus pada 90% pengrajin perempuan, pameran ini mempromosikan produk daerah ke pasar nasional dan internasional.
Jateng Gempur Inacraft dengan ‘Womenpreneur’, Pasar Global Masih Jadi PR Besar
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah membanjiri pameran The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) mulai 4 Februari, dengan ambisi menembus pasar global. Mereka mengklaim membawa 69 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), 90 persen di antaranya dikerjakan pengrajin perempuan, sebuah upaya menonjolkan “womenpreneur” di tengah persaingan pasar kriya yang ketat.
Panggung Promosi atau Sekadar Partisipasi?
Paviliun Jawa Tengah menempati Assembly Hall, menampilkan 22 unit stan dari 14 kabupaten/kota. Produk kriya unggulan, termasuk batik, fesyen siap pakai, aksesori, serta kerajinan serat alam dan kayu, dikurasi ketat untuk merepresentasikan kearifan lokal. Ini adalah panggung terbesar se-Asia Tenggara, sebuah kesempatan yang harus dimanfaatkan maksimal, bukan hanya untuk tampil.
Pameran Inacraft 2026 sendiri mengusung tema “Exploring and Celebrating Womenpreneurs in Craft”. Dekranasda Jateng memanfaatkan momentum ini, secara khusus menyoroti kontribusi pengrajin UMKM perempuan. Ini bukan sekadar partisipasi, melainkan pernyataan bahwa perempuan adalah tulang punggung industri kerajinan di Jawa Tengah.
Konsistensi kehadiran Jateng di Inacraft, menurut Dekranasda, adalah langkah strategis dalam mempromosikan produk daerah. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: seberapa efektif pameran ini dalam mengubah ambisi pasar global menjadi realitas konkret, di luar sekadar kehadiran rutin yang mungkin minim dampak nyata?
Klaim Produk Unggulan dan Peran Perempuan
Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin, menyatakan, “Kami menghadirkan beberapa produk-produk unggulan Jawa Tengah, termasuk batik, bukan hanya membawa kainnya saja, tapi juga sudah ready to wear dan beragam aksesoris.” Klaim ini menggarisbawahi upaya diversifikasi produk, meski tantangan penetrasi pasar tetap tinggi.
Nawal menambahkan, “Kami membawa 69 UMKM pada Paviliun Jawa Tengah, yang 90 persennya adalah pengrajin perempuan. Ini merupakan salah satu semangat womenpreneur yang kami hadirkan.” Ia juga menyoroti Batik Rifaiyah dari Batang sebagai warisan budaya bernilai sejarah tinggi, sebuah aset yang harus mampu bersaing di kancah global.
Janji Tanpa Bukti Konkret?
Dekranasda Jateng berjanji terus mengikutsertakan produk kerajinan dan UMKM dalam berbagai pameran, regional hingga internasional, sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. Namun, janji ini harus dibuktikan dengan hasil nyata, bukan hanya partisipasi. Ajakan Nawal kepada masyarakat untuk mengunjungi paviliun harus diiringi dengan jaminan dampak ekonomi yang signifikan bagi para pengrajin, bukan sekadar keramaian sesaat tanpa peningkatan penjualan atau akses pasar yang berkelanjutan.










