Strategi Jitu KKN UGM: Atasi Sampah Organik Rembang dengan Biaya Minim, Warga Mandiri

2 min read
Strategi KKN UGM Rembang: Solusi Sampah Organik Murah & Mandiri

Mahasiswa KKN UGM mendampingi masyarakat Desa Banyuurip mengolah sampah organik. Program ini melibatkan ibu-ibu PKK dalam pembuatan komposter sederhana dari ember bekas. Inovasi ini mengubah sampah organik menjadi pupuk cair, mengatasi bau dan meningkatkan pemanfaatan. Metode murah serta mudah ini mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan.

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Banyuurip, Rembang, Rabu 4 Februari 2026, menyasar masalah pengelolaan sampah organik yang terus membelit warga dengan bau menyengat dan minimnya pemanfaatan. Program ini, yang berpusat pada pembuatan komposter sederhana, justru menyoroti lambannya respons pemerintah daerah dalam menyediakan solusi permanen atas permasalahan dasar warganya.

Solusi Tambal Sulam Mahasiswa

Ammar, salah satu mahasiswa UGM, mengakui sampah organik selama ini menjadi keluhan utama warga Banyuurip akibat baunya. Mahasiswa lantas berinisiatif membuat komposter dari dua ember bekas, mengklaim metode ini “relatif murah dan mudah diterapkan” oleh masyarakat. Ini ironis, mengingat penanganan sampah adalah tugas pokok pemerintah daerah yang semestinya memiliki program komprehensif.

Proses pengolahan sampah ini melibatkan penumpukan sampah kering di bagian bawah, kemudian sampah basah, diaduk setiap tiga hari, dan ditambahkan bioaktivator seperti EM4 atau molase. Dalam waktu dua minggu hingga satu bulan, limbah rumah tangga ini diklaim berubah menjadi pupuk cair, dipanen melalui keran komposter. Air cucian beras pun dianjurkan sebagai bahan tambahan, menunjukkan betapa sederhana metode yang diajarkan.

Kegiatan praktik langsung bersama ibu-ibu PKK Desa Banyuurip menunjukkan antusiasme warga. Namun, antusiasme ini patut dipertanyakan keberlanjutannya tanpa dukungan infrastruktur dan kebijakan nyata dari Pemkab Rembang, yang justru mengandalkan solusi temporer dari mahasiswa untuk masalah fundamental.

Pengakuan Tersirat Kegagalan Pemda

“Sampah organik selama ini dikeluhkan karena baunya. Kami kemudian berinisiatif membuat komposter sederhana, agar sampah organik dapat diolah dan tidak menimbulkan bau,” ujar Ammar di Balai Desa Banyuurip, seolah masalah bau sampah adalah tugas mahasiswa, bukan pemerintah daerah.

Menanggapi program ini, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Kabupaten Rembang, Sumadi, menyatakan Pemkab Rembang menjalin kerja sama dengan 11 perguruan tinggi pada tahun 2025. Ia menilai program pengabdian masyarakat mahasiswa “mampu membantu masyarakat dalam menggali potensi desa, sekaligus menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada” – sebuah pengakuan tersirat akan kegagalan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah dasar tanpa intervensi pihak luar yang bersifat sementara.

Ketergantungan pada KKN

Selain program komposter, mahasiswa KKN UGM di Rembang juga menjalankan program lain seperti pembuatan tepung mokaf dan mitigasi bencana. Diversifikasi program ini, alih-alih menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap solusi jangka panjang, justru memperlihatkan ketergantungan Pemkab Rembang pada program KKN sebagai tambal sulam untuk berbagai masalah lokal yang seharusnya menjadi tanggung jawab inti mereka.

Strategi Jitu KKN UGM: Atasi Sampah Organik Rembang dengan Biaya Minim, Warga Mandiri
More like this