Prabowo Tekankan Pentingnya Lestarikan Pencak Silat: Bagian Penting Budaya Indonesia
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pentingnya melestarikan pencak silat sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia. Hal itu disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Sabtu (11/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI) Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pentingnya melestarikan pencak silat sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia. Menurutnya, pencak silat merupakan cerminan identitas, karakter, dan kepribadian bangsa yang telah ada sejak lama dan tetap bertahan hingga kini, meski sempat mengalami pelarangan pada masa penjajahan. “Kenapa pencak silat harus kita jaga? Pencak silat harus kita lestarikan? Pencak silat harus kita bina? Karena pencak silat adalah bagian dari budaya kita,” ujar Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Sabtu (11/4). IIa melanjutkan, sejak dahulu pencak silat tidak hanya digunakan untuk membela diri, tetapi juga untuk melindungi keluarga dan desa. Dengan kata lain, pencak silat merupakan ilmu ksatria dan pertahanan yang lahir dari determinasi bangsa Indonesia untuk menjaga komunitasnya. Semangat tersebut, lanjutnya, tidak muncul tanpa alasan. Ia berkisah bahwa pada masa lalu, banyak bangsa asing datang ke Indonesia karena kekayaan alamnya. Sebagai bangsa yang ramah, masyarakat Indonesia menyambut mereka dengan baik dan mempersilakan untuk beraktivitas. Namun, bangsa-bangsa tersebut kemudian memanfaatkan keramahan bangsa Indonesia. Mereka enggan kembali ke negaranya dan justru mengeksploitasi sumber daya Indonesia, sehingga bangsa Indonesia harus mencari cara untuk melawan dan mengusir mereka. “(Bangsa-bangsa) yang datang itu melihat, ‘kok bangsa ini (Indonesia) baik banget, ya?’. (Mereka) enggak mau pulang-pulang. Terpaksa kita harus usir, harus lawan mereka,” jelas dia. Prabowo melanjutkan, pelatihan pencak silat pun kemudian sempat dilarang di era penjajahan. Kondisi ini sempat membuat mereka yang tertarik dengan pencak silat untuk berlatih diam-diam dan pada malam hari di tempat terpencil, seperti gunung dan desa-desa. Namun, tantangan tersebut tak lantas membuat pencak silat punah. Justru, pelestariannya masih berlanjut sampai sekarang. Atas dasar itu, Prabowo menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga, tetapi juga mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Oleh karenanya, pencak silat harus terus dijaga dan dilestarikan. “Pencak silat adalah seni bela diri adalah benar. Tapi lebih dari itu, pencak silat mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, ilmu leluhur kita yang kita pegang teguh,” tambahnya. (her/dav)

Presiden RI Prabowo Subianto mendesak pelestarian pencak silat sebagai identitas bangsa, namun tanpa merinci langkah konkret pemerintah untuk merealisasikan penegasan tersebut. Pernyataan ini dilontarkan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada Sabtu, 11 April 2026.
Prabowo menyoroti pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan cerminan karakter dan kepribadian bangsa yang telah bertahan dari upaya pelarangan penjajah. Desakan ini muncul di tengah minimnya kebijakan terukur dari Istana untuk memastikan kelangsungan dan pengembangan pencak silat di era modern.
Identitas Bangsa dan Perlawanan
Pencak silat, menurut Prabowo, merupakan cerminan nyata identitas, karakter, dan kepribadian bangsa yang berakar kuat sejak lama. Seni bela diri ini telah teruji, tetap eksis meski pernah dilarang keras pada masa kolonialisme.
Lebih dari sekadar olahraga, pencak silat berfungsi sebagai ilmu ksatria dan pertahanan diri. Sejak dahulu, ia digunakan untuk membela diri, melindungi keluarga, dan menjaga desa-desa dari ancaman. Ini lahir dari determinasi bangsa Indonesia untuk menjaga komunitasnya.
Semangat perlawanan ini, Prabowo mengisahkan, muncul karena eksploitasi kekayaan alam. Bangsa asing yang awalnya diterima ramah, justru enggan kembali dan malah menjarah sumber daya Indonesia. Kondisi ini memaksa bangsa Indonesia mencari cara untuk melawan dan mengusir penjajah.
“Bangsa-bangsa yang datang itu melihat, ‘kok bangsa ini (Indonesia) baik banget, ya?’. (Mereka) enggak mau pulang-pulang. Terpaksa kita harus usir, harus lawan mereka,” jelas Prabowo, menggambarkan sejarah perlawanan.
Pada era penjajahan, pelatihan pencak silat sempat dilarang. Para pegiat terpaksa berlatih diam-diam, pada malam hari, di lokasi terpencil seperti gunung dan desa. Namun, tantangan itu gagal memunahkan pencak silat; justru pelestariannya berlanjut hingga kini.
Penegasan Tanpa Rencana
Prabowo menegaskan, “Kenapa pencak silat harus kita jaga? Pencak silat harus kita lestarikan? Pencak silat harus kita bina? Karena pencak silat adalah bagian dari budaya kita.”
Ia melanjutkan, “Pencak silat adalah seni bela diri adalah benar. Tapi lebih dari itu, pencak silat mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, ilmu leluhur kita yang kita pegang teguh.”
Penegasan ini, bagaimanapun, tidak disertai penjelasan mengenai skema anggaran, program pendidikan, atau kebijakan konkret lainnya yang akan digulirkan pemerintah untuk mendukung pelestarian yang diserukannya.
Pernyataan Prabowo disampaikan dalam forum Musyawarah Nasional XVI IPSI, sebuah agenda penting bagi organisasi yang menaungi pencak silat di Indonesia. Desakan pelestarian ini, meski penting, menyisakan pertanyaan besar tentang tindak lanjut nyata dari pemerintah pusat.
Tanpa cetak biru kebijakan yang jelas, penegasan ini berpotensi sekadar retorika, mengabaikan tantangan pelestarian pencak silat yang membutuhkan dukungan struktural dan finansial berkelanjutan.