Potret Pahit Bursa Kerja: Pengangguran Turun, Gen Z dan Perempuan Kian Terjepit

2 min read
Ironi Bursa Kerja: Pengangguran Turun, Gen Z & Wanita Makin Terjepit

Data Badan Pusat Statistik (BPS) November 2025 menunjukkan tingkat pengangguran Indonesia turun menjadi 4,74%. Namun, Generasi Z masih menyumbang porsi terbesar pengangguran terbuka (16,26%). Kesenjangan upah juga terlihat, di mana penghasilan rata-rata pekerja perempuan (Rp 2,82 juta) lebih rendah dari laki-laki (Rp 3,61 juta).

Ironi Bursa Kerja: Pengangguran Turun, Gen Z & Wanita Makin Terjepit

Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim tingkat pengangguran nasional turun menjadi 4,74% pada November 2025, namun data yang sama telanjang menunjukkan jurang dalam pasar kerja Indonesia: Generasi Z terjerembap dalam pengangguran massal, sementara perempuan terus-menerus digaji jauh lebih rendah dari laki-laki. Penurunan 0,11 poin persentase dari Agustus 2025 ini menutupi kegagalan struktural pemerintah dalam mengatasi ketidaksetaraan fundamental, terutama bagi kelompok muda dan pekerja perempuan.

Krisis Generasi Z dan Kesenjangan Upah

Angka pengangguran terbuka bagi kelompok usia 15-24 tahun mencapai 16,26% pada November 2025, tertinggi di antara seluruh kelompok umur, memperlihatkan betapa rapuhnya masa depan angkatan kerja muda. Kontrasnya, kelompok usia 60 tahun ke atas mencatat angka terendah, hanya 1,44%, menggarisbawahi kegagalan sistem dalam menyerap talenta baru. Hanya kelompok usia 25-59 tahun yang menunjukkan sedikit peningkatan pengangguran, sementara kelompok lain mengalami penurunan, sebuah anomali yang patut dipertanyakan.

Penyerapan lapangan kerja, yang totalnya meningkat 1,37 juta menjadi 147,91 juta jiwa, didominasi sektor pertanian, perdagangan, dan manufaktur, menyumbang 60,52% dari total pekerjaan nasional. Peningkatan pekerja penuh waktu sebesar 1,85 juta jiwa menjadi 100,50 juta seolah-olah memperbaiki kualitas kerja, tetapi ini tidak menutupi fakta bahwa jutaan lainnya terjebak dalam pekerjaan paruh waktu dan kurang produktif.

Ironisnya, di tengah klaim perbaikan, upah bulanan rata-rata nasional hanya Rp 3,33 juta ($200) pada November 2025. Data ini membongkar kesenjangan upah yang menganga lebar berdasarkan gender, sektor, pendidikan, dan usia, menelanjangi ketidakadilan yang merajalela. Upah laki-laki rata-rata Rp 3,61 juta, sementara perempuan hanya Rp 2,82 juta-sebuah diskriminasi sistemik yang tak termaafkan.

Ketua BPS Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026, menyatakan, “Dari total angkatan kerja sebanyak 155,27 juta jiwa, 7,35 juta jiwa masih menganggur. Tingkat pengangguran turun 0,11 poin persentase dari Agustus 2025, sementara jumlah absolut pengangguran turun sekitar 109.000 jiwa dalam periode yang sama.” Pernyataan ini, meski secara statistik benar, gagal menyentuh akar masalah.

Amalia juga menambahkan, “Peningkatan lapangan kerja terbesar terjadi di sektor akomodasi dan layanan makanan, yang menambah 381.000 pekerja.” Sektor manufaktur dan perdagangan juga menyumbang peningkatan signifikan. Namun, peningkatan kuantitas ini tidak serta-merta berarti peningkatan kualitas hidup atau keadilan upah.

Angka-angka BPS November 2025 ini, yang dirilis awal Februari 2026, secara brutal mengungkap bahwa di balik narasi penurunan pengangguran, ada realitas pahit ketidakadilan yang mengakar kuat. Generasi Z dibiarkan berjuang mencari kerja, sementara perempuan masih harus menerima upah yang jauh di bawah standar laki-laki, sebuah cerminan sistem ekonomi yang gagal memberikan keadilan bagi semua.

More like this