Guru Besar Unpad Terseret Dugaan Pelecehan Seksual Verbal

3 min read
Dugaan Pelecehan Seksual Verbal Jerat Guru Besar Unpad

BEM Kema Unpad menanggapi dugaan pelecehan seksual oleh guru besar Fakultas Keperawatan, IY. Dosen ini diduga melecehkan mahasiswi pertukaran pelajar secara verbal. Tangkapan layar percakapan viral. BEM Kema Unpad berkoordinasi dengan Satgas PPKS Unpad, Dekanat, dan Rektorat untuk menindaklanjuti kasus ini. Kampus sedang membahas informasi lebih lanjut.

Dugaan Pelecehan Seksual Verbal Jerat Guru Besar Unpad

Seorang guru besar Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran (Unpad) berinisial IY terseret dugaan pelecehan seksual verbal terhadap mahasiswi pertukaran pelajar, mengguncang kampus setelah tangkapan layar percakapan tak senonohnya viral di media sosial X pada Rabu (15/4/2026). Insiden memalukan ini menyoroti kembali kerentanan mahasiswa di lingkungan akademik.

Kasus ini langsung memicu reaksi keras dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kemahasiswaan Unpad dan BEM Kema Fakultas Keperawatan, yang segera menyatakan koordinasi dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Unpad serta Dekanat Fakultas Keperawatan dan Rektorat Unpad. Desakan penanganan cepat mencuat di tengah kekhawatiran meluasnya budaya impunitas.

VIRALNYA PERCAKAPAN TAK SENONOH

Dugaan pelecehan verbal ini muncul ke permukaan setelah tangkapan layar berisi percakapan tak senonoh antara terduga pelaku, Profesor IY, dan korban beredar luas di platform media sosial X (Twitter). Detail isi percakapan mengindikasikan tindakan yang secara jelas melanggar etika akademik dan norma kesopanan.

Korban, seorang mahasiswi program pertukaran pelajar, kini berada dalam sorotan publik yang tidak diinginkan, menambah beban traumatis akibat insiden tersebut. Keberadaan profesor sebagai terduga pelaku menambah ironi, mempertanyakan integritas institusi pendidikan.

BEM Kema Unpad mengonfirmasi telah menerima laporan mengenai dugaan kekerasan seksual yang melibatkan IY, menegaskan keseriusan situasi. Pernyataan resmi BEM menunjukkan bahwa isu ini bukan sekadar rumor, melainkan dugaan serius yang membutuhkan tindakan konkret.

Koordinasi yang diklaim dilakukan BEM dengan Satgas PPKS Unpad, Dekanat Fakultas Keperawatan, dan Rektorat Unpad menjadi krusial. Kecepatan dan ketegasan respons dari pihak universitas akan menentukan kepercayaan publik terhadap komitmen Unpad dalam melindungi mahasiswanya.

Situasi ini mendesak Unpad untuk segera mengambil langkah tegas, bukan sekadar janji koordinasi. Setiap penundaan hanya akan memperpanjang ketidakpastian dan memperkuat persepsi bahwa kampus abai terhadap kasus kekerasan seksual.

RESPON LEMBAGA DAN PIHAK TERKAIT

BEM Kema Unpad dalam pernyataan resminya di Instagram, Rabu (15/4/2026), menegaskan sikapnya: “Kami telah mengetahui adanya laporan yang beredar di media sosial X (Twitter) terkait dugaan kekerasan seksual yang melibatkan IY. BEM Kema Unpad dan BEM Kema FKep Unpad telah dan akan terus berkoordinasi dengan Satgas PPKS Unpad, Dekanat Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran, dan Rektorat Unpad.”

Lebih lanjut, BEM Kema Unpad secara tegas menyatakan keprihatinannya dan menolak keras tindakan tersebut: “Tak ada bentuk kekerasan seksual yang dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun dan tindakan tersebut tidak memiliki tempat dalam lingkungan kampus.” Pernyataan ini mencerminkan desakan kuat dari mahasiswa agar kampus bertindak nyata.

Menyikapi kegaduhan ini, Kepala Kantor Komunikasi Publik Unpad Dandi Supriadi hanya memberikan respons minimalis. “Kampus masih melakukan pembicaraan,” ujarnya, tanpa menawarkan detail atau garis waktu yang jelas mengenai tindakan konkret. “Dalam waktu dekat pihaknya akan menyampaikan informasi mengenai dugaan pelecehan itu.”

KAMPUS DALAM UJIAN

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan guru besar ini bukan hanya mencoreng nama baik individu, tetapi juga mempertanyakan efektivitas mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di Unpad. Ini adalah ujian serius bagi komitmen Unpad untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari kekerasan.

Insiden ini menambah daftar panjang kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia, menuntut transparansi dan akuntabilitas penuh dari pihak rektorat. Publik menanti tindakan tegas, bukan sekadar retorika koordinasi.

More like this