Magelang Melesat: Tembus 10 Besar Kota Paling Berdaya Saing Nasional
Kota Magelang meraih peringkat ke-8 kota paling maju di Indonesia berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 dari BRIN. Wali Kota Magelang menyatakan capaian ini hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat. Peningkatan daya saing kota ini penting, didukung kolaborasi antarwilayah. IDSD diukur melalui 12 pilar utama, termasuk infrastruktur dan inovasi.
Kota Magelang menduduki peringkat ke-8 kota paling maju di Indonesia berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pencapaian ini, yang diumumkan Selasa (14/4/2026), menjadi sorotan di tengah perayaan Hari Jadi ke-1.120 kota tersebut, namun sekaligus memicu pertanyaan krusial tentang keberlanjutan dan pemerataan kemajuan yang sesungguhnya.
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyebut prestasi ini sebagai “cambuk” untuk terus maju, sebuah pengakuan tersirat bahwa posisi ini bukan puncak, melainkan pemicu kerja keras lebih lanjut. Magelang, dengan skor 4,29, masih tertinggal dari dua kota tetangga di Jawa Tengah, Surakarta (4,43) dan Semarang (4,37), menyoroti celah kompetitif yang masih harus dikejar.
BRIN merilis IDSD 2025, menempatkan Kota Magelang di posisi ke-8 secara nasional. Angka 4,29 ini memang melampaui rata-rata nasional (3,50) dan provinsi Jawa Tengah (3,87), namun perbandingan dengan Surakarta dan Semarang menunjukkan bahwa dominasi regional masih dipegang oleh kota-kota dengan infrastruktur dan ekonomi yang lebih mapan.
Pengukuran IDSD didasarkan pada 12 pilar utama, meliputi institusi, infrastruktur, adopsi teknologi informasi dan komunikasi, stabilitas ekonomi makro, kesehatan, keterampilan tenaga kerja, hingga inovasi. Ketergantungan pada pilar-pilar ini memunculkan pertanyaan apakah kemajuan di satu sektor menutupi stagnasi atau bahkan kemunduran di sektor lain yang kurang terukur.
Posisi Magelang dalam konteks regional “Gelangmanggung” (Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kabupaten Temanggung) juga menjadi krusial. Kepala Bapperida Kota Magelang, Handini Rahayu, menekankan perlunya kolaborasi antarwilayah, mengisyaratkan bahwa daya saing Magelang tidak bisa berdiri sendiri dan sangat bergantung pada ekosistem sekitarnya.
Ketergantungan ini menimbulkan pertanyaan tentang otonomi dan kekuatan intrinsik Kota Magelang. Apakah kemajuan ini hasil murni inovasi internal ataukah efek limpahan dari daerah tetangga yang lebih besar, yang mungkin memiliki sumber daya dan peluang lebih banyak?
Pengakuan dan Tantangan
Wali Kota Damar Prasetyono mengklaim, “Prestasi ini menjadi cambuk bagi kami untuk terus maju, sekaligus kado di hari jadi Kota Magelang.” Pernyataan ini, meski positif, secara implisit mengakui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, dan peringkat ini lebih sebagai motivasi daripada pencapaian akhir.
Damar juga menegaskan, “Hadiah ini bukan karena wali kota dan wakilnya, melainkan perjuangan seluruh komponen masyarakat yang terlibat dalam pembangunan, baik langsung maupun tidak langsung.” Klaim ini, meski terdengar merendah, juga bisa diinterpretasikan sebagai upaya untuk menyebarkan tanggung jawab atas tantangan ke depan, bukan hanya kepada pemerintah daerah.
Dari sisi perencanaan, Kepala Bapperida Handini Rahayu menyatakan, “Daya saing tidak bisa berdiri sendiri. Perlu kolaborasi antarwilayah sehingga saling mendukung potensi masing-masing daerah.” Penekanan pada kolaborasi ini menyoroti keterbatasan Magelang jika harus bersaing sendirian, mengindikasikan bahwa kemajuan Magelang terikat erat dengan perkembangan wilayah sekitarnya.
Latar Belakang Daya Saing
Peringkat IDSD 2025 ini menjadi barometer penting bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi kebijakan pembangunan. Namun, fokus pada angka dan peringkat seringkali mengaburkan realitas tantangan sosial dan ekonomi yang masih dihadapi warga, seperti kesenjangan
