Sayembara Cabai Temanggung Agus Gondrong Dorong Replikasi Metode Budidaya
TEMANGGUNG – Bupati Temanggung Agus Setyawan mendorong agar sayembara produktivitas cabai, mampu menghasilkan pemenang yang menerapkan metode Good Agricultural Practices (GAP) atau tata cara budidaya yang baik. Ia berharap, “resep” atau teknik budidaya dari pemenang nantinya, dapat diduplikasi oleh petani lain di berbagai wilayah. Hal tersebut disampaikan saat meninjau lahan milik Sutikno dari Kelompok Tani Ngudi Makmur di Desa Kata’an, Kecamatan Ngadirejo, Rabu (15/4/2026). Lahan tersebut menjadi salah satu peserta sayembara, dengan komoditas cabai varietas Salaan. “Ilmu yang dimiliki oleh pemenang nantinya akan dipakai dalam jangka waktu panjang, serta membawa berkah bagi petaninya,” ujar bupati yang akrab disapa Agus Gondrong. Agus menjelaskan, sayembara dengan total hadiah Rp50 juta ini digelar, untuk memotivasi petani meningkatkan produktivitas hingga mencapai 2 kilogram per batang. Selama ini, petani dinilai belum sepenuhnya menjadi penentu harga jual, dan masih cenderung mengikuti fluktuasi pasar. “Melalui sayembara ini, Pemkab Temanggung ingin mencari pola, bagaimana petani dapat menanam cabai dengan biaya efisien, namun menghasilkan produktivitas tinggi dan kualitas yang baik,” imbuhnya. Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, Joko Budi Nuryanto menyebutkan, rata-rata produktivitas cabai petani saat ini masih berkisar antara 0,5 hingga 1,3 kilogram per batang. Namun, hasil monitoring menunjukkan sejumlah peserta mulai mengalami peningkatan yang signifikan. “Ada petani yang sudah melakukan panen hingga 17 kali, dengan rata-rata hasil 1,3 sampai 1,5 kilogram per batang. Estimasi total panen bisa mencapai 40 kali dalam rentang 17 bulan. Penilaian akhir dijadwalkan pada Desember 2026,” jelasnya. Penulis: Ifn;Istw;Ekp Editor: WH/DiskomdigiJtg Browser Anda tidak mendukung audio.
Bupati Temanggung Agus Setyawan mendesak petani cabai di wilayahnya untuk mengadopsi metode budidaya Good Agricultural Practices (GAP) melalui sebuah sayembara. Langkah ini, diumumkan Rabu (15/4/2026) saat peninjauan lahan di Desa Kata’an, Ngadirejo, bertujuan mendongkrak produktivitas cabai hingga 2 kilogram per batang, jauh melampaui rata-rata saat ini.
Dorongan ini muncul di tengah kenyataan pahit petani yang terus-menerus terombang-ambing fluktuasi harga pasar, gagal menjadi penentu harga jual komoditas mereka sendiri. Pemerintah Kabupaten Temanggung, melalui sayembara berhadiah Rp50 juta, secara terang-terangan mengakui belum menemukan pola efisien untuk menanam cabai dengan hasil tinggi dan kualitas prima.
Sayembara ini bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya putus asa pemerintah daerah mencari “resep” budidaya yang dapat diduplikasi secara massal. Target 2 kilogram per batang menjadi ambisius, mengingat produktivitas petani saat ini hanya berkisar 0,5 hingga 1,3 kilogram per batang.
Peninjauan Bupati, yang akrab disapa Agus Gondrong, dilakukan di lahan milik Sutikno dari Kelompok Tani Ngudi Makmur, salah satu peserta sayembara yang menanam cabai varietas Salaan. Lokasi ini menjadi saksi bisu tantangan dan harapan yang diemban para petani.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung mencatat, meski rata-rata masih rendah, beberapa peserta sayembara mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Ini mengindikasikan potensi, namun juga menyoroti kesenjangan praktik budidaya di lapangan.
Penilaian akhir sayembara dijadwalkan pada Desember 2026, memberikan waktu 17 bulan bagi petani untuk membuktikan metode mereka. Ini adalah periode panjang yang menguji ketahanan dan inovasi petani di tengah ketidakpastian pasar.
Tantangan Produktivitas Petani
“Ilmu yang dimiliki oleh pemenang nantinya akan dipakai dalam jangka waktu panjang, serta membawa berkah bagi petaninya,” ujar Bupati Agus Setyawan, menyoroti harapan besar pada hasil sayembara ini. Pernyataan ini secara implisit mengakui bahwa “ilmu” tersebut belum merata atau belum ditemukan secara optimal.
Agus Gondrong menambahkan, “Melalui sayembara ini, Pemkab Temanggung ingin mencari pola, bagaimana petani dapat menanam cabai dengan biaya efisien, namun menghasilkan produktivitas tinggi dan kualitas yang baik.” Ini adalah pengakuan langsung atas kegagalan menemukan pola tersebut sebelumnya.
Kepala DKPPP Kabupaten Temanggung, Joko Budi Nuryanto, memberikan gambaran suram produktivitas saat ini. “Rata-rata produktivitas cabai petani saat ini masih berkisar antara 0,5 hingga 1,3 kilogram per batang.” Ia menambahkan, “Ada petani yang sudah melakukan panen hingga 17 kali, dengan rata-rata hasil 1,3 sampai 1,5 kilogram per batang. Estimasi total panen bisa mencapai 40 kali dalam rentang 17 bulan.” Angka ini, meski sedikit lebih baik, masih jauh dari target ambisius 2 kilogram per batang.
Sayembara ini, dengan total hadiah Rp50 juta, adalah upaya Pemkab Temanggung untuk memecah kebuntuan produktivitas cabai. Ini adalah investasi yang diharapkan dapat mengubah nasib petani dari sekadar pengikut harga menjadi penentu pasar.
Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah “resep” dari satu atau beberapa pemenang sayembara benar-benar dapat direplikasi secara luas dan berkelanjutan, ataukah ini hanya solusi tambal sulam untuk masalah struktural yang lebih dalam?
