HMNI Soroti Program 1.000 Kampung Nelayan Papua: Peta Jalan Keadilan Pembangunan
Ketua Dewan Pembina HMNI, Gema Sasmita, menyatakan dukungan pada program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Papua. Program arahan Presiden Prabowo Subianto ini menargetkan 1.000 lokasi. Tujuannya mengoptimalkan potensi kelautan demi kesejahteraan nelayan di wilayah tersebut.

Ketua Dewan Pembina Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI), Gema Sasmita, pada Kamis, 16 April 2026, menyatakan dukungan penuh terhadap program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Papua. Pernyataan ini, meski mengacu pada tanggal di masa depan, menegaskan komitmen HMNI atas program Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan 1.000 lokasi di wilayah tersebut.
Gema Sasmita menilai fokus pembangunan di Papua sebagai kebijakan visioner. Ia mengklaim Papua memiliki potensi kelautan masif yang bisa menjadi tulang punggung ekonomi, jika dikelola optimal, mengubah laut menjadi “sumber kesejahteraan berkelanjutan” bagi masyarakat. Namun, klaim ini minim detail bagaimana potensi tersebut akan diakses dan dikembangkan secara berkelanjutan, tanpa merinci tantangan riil di lapangan.
Target Ambisius Tanpa Detail Konkret
Arahan Presiden Prabowo Subianto untuk program KNMP di Papua, dengan target fantastis 1.000 lokasi, menjadi landasan dukungan HMNI. Program ini diklaim sebagai upaya Indonesia, negara kepulauan, mengelola sumber daya lautnya untuk masa depan. Namun, narasi ini mengabaikan pertanyaan krusial tentang kelayakan dan keberlanjutan proyek berskala masif di wilayah dengan infrastruktur terbatas.
Detail konkret mengenai pendanaan, infrastruktur penunjang, serta kesiapan sumber daya manusia untuk proyek sebesar itu masih buram. Dukungan tanpa pertanyaan dari HMNI mengabaikan kompleksitas geografis dan sosial Papua yang sering menghambat proyek pembangunan serupa.
Gema mengapresiasi keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam program ini. Menurutnya, peran TNI krusial dalam mengatasi tantangan geografis, menjamin kelancaran logistik, keamanan, dan percepatan pembangunan di lapangan. Namun, ia tidak merinci bagaimana keterlibatan militer akan menjamin keberlanjutan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar stabilitas sementara.
HMNI disebut terus berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk memastikan program berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Organisasi ini memposisikan diri sebagai penghubung antara nelayan, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat. Namun, mekanisme akuntabilitas peran “penghubung” ini belum jelas, berpotensi menjadi birokrasi tambahan tanpa dampak signifikan.
Klaim HMNI bahwa setiap lokasi KNMP akan memberikan manfaat nyata masih sebatas harapan. Tanpa evaluasi independen, indikator keberhasilan yang terukur, dan strategi mitigasi risiko, janji manfaat ini rawan menjadi retorika belaka.
Retorika Kesejahteraan dan Janji Sinergi
Gema Sasmita secara retoris menyatakan, “Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi upaya menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan berkelanjutan bagi masyarakat.” Pernyataan ini, yang diucapkan pada tanggal yang belum tiba, menimbulkan pertanyaan tentang urgensi dan keabsahan klaim tersebut di tengah realitas lapangan.
Sasmita juga menekankan pentingnya “sinergi, transparansi, dan komitmen seluruh pihak” untuk menyukseskan program. Namun, ia gagal menjelaskan bagaimana elemen-elemen ini akan diwujudkan dalam praktik, terutama di wilayah yang terkenal dengan tantangan tata kelola dan koordinasi antarlembaga.
Harapan Gema agar KNMP di Papua menjadi model nasional dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim mandiri, masih jauh dari jaminan. Keberhasilan program sebesar ini memerlukan lebih dari sekadar dukungan verbal dan koordinasi tanpa detail implementasi yang kuat dan pengawasan ketat.
Realitas Tantangan Papua
Papua, dengan garis pantai panjang dan kekayaan laut melimpah, memang menyimpan potensi besar. Namun, sejarah menunjukkan, pembangunan di wilayah ini sering terhambat oleh masalah infrastruktur, konflik sosial, dan tata kelola yang lemah. Program ambisius seperti KNMP harus menghadapi realitas ini, bukan sekadar narasi pembangunan yang optimis.
Indonesia, sebagai negara kepulauan, memang harus mengelola sumber daya lautnya secara optimal. Namun, program yang hanya didukung tanpa evaluasi kritis dan perencanaan matang berisiko mengulang kegagalan masa lalu dan memboroskan anggaran negara tanpa dampak signifikan bagi kesejahteraan nelayan Papua.