Darurat Lahan Kritis: Temanggung Gelontorkan Ribuan Bibit di Lereng Sumbing, Sindoro, Prau

2 min read
Darurat Lahan Kritis: Temanggung Tanam Ribuan Bibit di Lereng Sumbing-Sindoro-Prau

Pemerintah Kabupaten Temanggung dan warga menghijaukan lahan kritis lereng Gunung Sumbing, Sindoro, Prau. Pemkab Temanggung menyediakan 5.000-7.000 bibit pohon gratis setiap tahun. Bibit ditanam di jalur pendakian dan lahan warga, meliputi pohon konservasi dan produktif. Tujuannya menjaga lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Temanggung.

Darurat Lahan Kritis: Temanggung Tanam Ribuan Bibit di Lereng Sumbing-Sindoro-Prau

Pemerintah Kabupaten Temanggung menggembar-gemborkan program penghijauan masif di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Setiap tahun, Pemkab mengklaim menyalurkan 5.000 hingga 7.000 bibit pohon gratis kepada warga. Namun, angka ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitasnya dalam menanggulangi skala lahan kritis yang sesungguhnya di tiga gunung ikonik tersebut.

Skala Program yang Dipertanyakan

Program ini berfokus pada penanaman di lajur pendakian dan lahan kritis milik warga. Bibit yang disalurkan pun beragam, mulai dari jenis konservasi seperti beringin dan indigofera, hingga tanaman produktif seperti alpukat, kopi Arabika, jeruk, sirsak, dan jambu biji. Klaimnya, langkah ini tidak hanya menghijaukan, tetapi juga menjanjikan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Sebuah ambisi ganda yang kerap sulit dicapai secara optimal.

Distribusi bibit, menurut Pemkab, kini tidak lagi diwarnai seremoni. Bibit langsung disalurkan ke titik penampungan seperti rest area Kledung dan tempat persemaian, dengan harapan kualitas bibit tetap terjaga. Warga, komunitas pendaki, dan kelompok wanita menjadi penerima utama. Namun, detail pengawasan pasca-distribusi dan keberhasilan penanaman jangka panjang tetap menjadi misteri.

Klaim Pejabat Daerah

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Temanggung, Prasojo, Selasa (3/2/2026), menyatakan, “Banyak pihak yang terlibat aktif, mulai dari komunitas pendakian, organisasi wanita, hingga kelompok masyarakat lainnya.” Ia menambahkan, “Cara ini lebih efektif, bibit tetap sehat dan siap ditanam,” merujuk pada skema penyaluran bibit yang baru.

Senada, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DPRKPLH, Anik Nurtjahjaningsih, menegaskan narasi manfaat ganda. “Kami ingin penghijauan ini tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya. Anik melanjutkan, “Penanaman pohon ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga kesejahteraan. Kami ingin masyarakat merasakan langsung manfaatnya, sekaligus menjaga warisan alam Temanggung untuk generasi mendatang.”

Tantangan Nyata di Lapangan

Program ini memang mengusung cita-cita luhur: mengembalikan kehijauan lereng gunung yang gundul, menjaga ketersediaan air tanah, dan memberikan hasil panen. Namun, dengan alokasi bibit yang relatif minim untuk cakupan tiga gunung besar, pertanyaan muncul tentang seberapa jauh program ini benar-benar mampu mengatasi akar masalah degradasi lahan di Temanggung. Tanpa evaluasi dampak riil dan monitoring ketat, klaim keberhasilan Pemkab hanya akan menjadi retorika semata.

More like this