Prabowo: Dharma Santi 2026, Titik Balik Eratkan Persaudaraan Bangsa

2 min read
Prabowo: Dharma Santi 2026 - Turning Point for National Unity

Presiden Prabowo Subianto mengucapkan selamat kepada umat Hindu di Indonesia atas perayaan Dharma Santi Nasional 2026 dan Tahun Baru Saka 1948. Beliau berharap momentum ini mempererat persaudaraan. Prabowo menyampaikan ucapan ini melalui media sosial, sekaligus memohon maaf tidak dapat hadir langsung.

Prabowo: Dharma Santi 2026 - Turning Point for National Unity

Presiden Prabowo Subianto memilih jalur digital untuk menyampaikan ucapan selamat Dharma Santi Nasional Tahun 2026 kepada seluruh umat Hindu di Indonesia pada Jumat (17/4/2026). Pesan yang diunggah melalui akun media sosial Sekretariat Kabinet ini diwarnai permohonan maaf atas ketidakhadiran fisik, menimbulkan tanda tanya besar tentang prioritas agenda kenegaraan.

Keputusan Prabowo untuk tidak hadir langsung, khususnya dalam perayaan penting bagi umat Hindu di Bali, memicu spekulasi. Absensi tanpa penjelasan konkret ini mengikis bobot pesan persaudaraan yang ia sampaikan, mengurangi makna kehadiran seorang pemimpin negara dalam momen sakral.

Absensi yang Mempertanyakan Komitmen

Prabowo menekankan Dharma Santi harus menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan. Namun, penyampaian pesan melalui layar, alih-alih kehadiran langsung, justru menciptakan jarak. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan representasi kehadiran negara di tengah masyarakatnya.

Ketidakhadiran Presiden dalam acara sepenting Dharma Santi Nasional, perayaan puncak Tahun Baru Saka 1948, adalah sebuah kelalaian. Momen ini adalah kesempatan emas untuk membangun jembatan langsung dan menunjukkan apresiasi konkret terhadap keberagaman Indonesia.

Alasan di balik ketidakhadiran Prabowo tidak diungkap sama sekali. Ketiadaan penjelasan membiarkan publik berasumsi, merusak citra komitmen pemerintah terhadap seluruh elemen bangsa, terutama komunitas minoritas yang membutuhkan pengakuan nyata.

Kehadiran fisik seorang pemimpin dalam perayaan keagamaan nasional adalah simbol pengakuan dan dukungan. Absensi Prabowo mengirimkan sinyal yang salah, seolah-olah perayaan ini tidak cukup mendesak untuk dihadiri langsung oleh kepala negara.

Ini bukan hanya soal ucapan selamat. Ini adalah tentang membangun kepercayaan, menunjukkan empati, dan menegaskan bahwa semua komunitas agama memiliki tempat yang sama penting di mata negara. Absensi ini melewatkan kesempatan tersebut.

Kutipan Tanpa Penjelasan

“Pada kesempatan yang baik ini, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, atas nama pribadi dan atas nama pemerintah Republik Indonesia, mengucapkan selamat merayakan Dharma Santi tahun 2026 kepada seluruh umat Hindu di tanah air,” demikian pernyataan Prabowo melalui akun media sosial Sekretariat Kabinet.

Pernyataan tersebut, meski disampaikan secara daring, juga memuat permohonan maaf.

“Saya memohon maaf kepada seluruh umat Hindu di Bali dan masyarakat Bali seluruhnya, karena tidak dapat menghadiri secara langsung acara peringatan Dharma Santi Nasional 2026 atau 1948 Saka,” tambahnya, tanpa sedikit pun merinci alasan detail yang mendasari ketidakhadirannya.

Dharma Santi Nasional merupakan puncak perayaan Tahun Baru Saka, momen refleksi, introspeksi, dan rekonsiliasi bagi umat Hindu. Kehadiran pemimpin negara dalam acara semacam ini bukan sekadar tradisi, melainkan penegasan komitmen terhadap pluralisme dan kerukunan beragama, sebuah nilai yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap kepala negara.

More like this