Program MBG 15 Bulan: Ciptakan 1,18 Juta Lapangan Kerja, Sentuh 62,35 Juta Penerima Manfaat
Program Makan Bergizi (MBG) berusia 1 tahun 3 bulan, menunjukkan capaian signifikan. Program ini memperluas jangkauan 62,35 juta penerima manfaat dan membuka lapangan kerja. Tercatat 27.066 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta 1,18 juta relawan terlibat. Keterlibatan 116.465 supplier UMKM juga mendorong ekonomi masyarakat.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, mendeklarasikan Program Makan Bergizi (MBG) telah mencapai “capaian signifikan” setelah 1 tahun 3 bulan berjalan. Klaim ini, disampaikan di Jakarta pada Kamis (16/4), menyebut program tersebut telah menjangkau 62,35 juta jiwa dan membuka lapangan kerja bagi 1,18 juta “relawan” di seluruh Indonesia, tanpa disertai data audit independen.
Sony Sonjaya bersikeras program yang dimulai sejak 6 Januari 2025 ini tidak hanya memperluas jangkauan penerima manfaat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja masif di berbagai daerah, sebuah narasi yang konsisten disampaikan pemerintah di tengah sorotan publik terhadap efektivitas dan transparansi program-program gizi.
Jaringan SPPG dan Relawan
Program MBG disebut telah membangun lebih dari 26 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Data terbaru menunjukkan 27.066 unit SPPG terverifikasi beroperasi di seluruh Indonesia, diklaim sebagai tulang punggung pelaksanaan program dan wujud nyata pemberdayaan masyarakat. Namun, status “relawan” yang mencapai 1,18 juta orang ini tidak dijelaskan secara rinci apakah mereka menerima kompensasi layak atau hanya bersifat sukarela tanpa jaminan keberlanjutan.
Dari total penerima manfaat, 49,64 juta adalah peserta didik, sementara 12,7 juta lainnya adalah masyarakat non-peserta didik. Angka-angka ini disampaikan BGN sebagai bukti penetrasi program yang meluas, meski detail mengenai metodologi penghitungan dan validitas data tersebut masih dipertanyakan.
Dampak ekonomi program ini juga diklaim meluas melalui keterlibatan 116.465 pemasok kebutuhan pangan. Mereka terdiri dari 11.430 koperasi, 1.180 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), 48.000 pelaku UMKM, serta sekitar 54.000 pemasok lainnya. Pertanyaan tentang mekanisme seleksi pemasok dan jaminan keberlanjutan kontrak mereka masih menggantung.
Klaim Dampak Ekonomi
Sony Sonjaya menegaskan keterlibatan ribuan pemasok ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) pada perekonomian masyarakat. Pernyataan ini muncul tanpa data kuantitatif independen yang mengukur seberapa besar efek berganda tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi lokal atau peningkatan pendapatan riil masyarakat.
Seluruh capaian yang disampaikan ini berasal dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, sebuah lembaga yang bertugas menyampaikan informasi pemerintah, sehingga validitas dan objektivitas data tersebut perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak independen.
Penegasan Pejabat
“Alhamdulillah tanpa terasa sekarang MBG sudah 1 tahun 3 bulan,” ujar Sony di Jakarta, Kamis (16/4), dalam sebuah pernyataan yang mengesankan keberhasilan tanpa hambatan.
Ia menambahkan, “Kalau berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, wujudnya terlihat dari 26.663 SPPG yang semuanya melibatkan masyarakat. Inilah cerdasnya pemerintah.” Pernyataan ini menggiring opini bahwa partisipasi masyarakat sepenuhnya adalah hasil “kecerdasan” pemerintah, bukan respons terhadap kebutuhan mendesak.
“Ini adalah bagaimana program MBG memberikan multiplier effect, salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat,” tegas Sony, mengulang klaim dampak ekonomi tanpa menyajikan bukti konkret yang terukur.
Program Makan Bergizi (MBG) sendiri merupakan inisiatif pemerintah yang diluncurkan pada awal tahun 2025 dengan tujuan utama pemenuhan gizi masyarakat. Hingga kini, laporan mengenai anggaran yang telah digelontorkan, hambatan yang dihadapi, atau kritik dari pihak luar pemerintah belum pernah diungkapkan secara transparan.