Dulunya Terpaksa Kerja di Bengkel, Remaja Ini Kini Sekolah Gratis di Sekolah Rakyat dari Pemerintah

3 min read
Teenager Escapes Workshop, Gains Free Government Schooling.

Hendi Saputro, remaja Sragen, sempat putus sekolah dan bekerja di bengkel karena kondisi keluarga. Kini, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen. Program ini menyediakan pendidikan gratis serta fasilitas lengkap bagi anak prasejahtera. Hendi mempersiapkan masa depan.

Teenager Escapes Workshop, Gains Free Government Schooling.

Sragen, Jawa Tengah – Hendi Saputro, remaja asal Sragen, terpaksa menunda pendidikannya usai lulus sekolah dasar, beralih menjadi buruh bengkel demi menyambung hidup keluarga. Kondisi ayahnya yang terserang stroke dan kemiskinan struktural memaksanya mengubur cita-cita sekolah. Kini, ia kembali mengenakan seragam, sebuah harapan yang muncul dari program Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen.

Kisah Hendi adalah wajah nyata kegagalan sistem yang membiarkan anak-anak rentan terlempar dari bangku pendidikan. Di tengah janji konstitusi akan hak pendidikan, jutaan Hendi lainnya masih terjerat pilihan pahit antara belajar atau bekerja, menyoroti lubang besar dalam jaring pengaman sosial dan akses pendidikan yang merata.

Kegagalan Sistem dan Harapan Baru

Kehidupan Hendi dan adiknya runtuh setelah ibunya meninggal tujuh tahun lalu. Ayahnya tak mampu bekerja karena stroke, memaksa sang nenek mencari sisa karet dan kakeknya menjadi juru kunci makam. Pendidikan, di tengah kondisi serba terbatas ini, menjadi kemewahan yang tak terjangkau.

Alih-alih melanjutkan ke SMP, Hendi memilih bekerja di bengkel. Dari sana, ia mengantongi sekitar Rp150.000 per pekan, uang yang harus dicukup-cukupkan untuk makan sehari-hari dan uang saku adiknya. Ini bukan pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup.

Kontras dengan kondisi sebelumnya, Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen kini menawarkan fasilitas lengkap secara gratis. Program ini membongkar hambatan finansial yang sebelumnya mencekik Hendi, menyoroti kesenjangan akses pendidikan yang parah.

Fasilitas seperti tas, laptop, hingga kebutuhan dasar makan tiga kali sehari dan dua kali snack, kini menjadi bagian dari keseharian Hendi. Ini adalah kebutuhan fundamental yang seharusnya sudah dijamin negara, namun baru terpenuhi melalui program spesifik ini.

Hendi kini kembali belajar, mengenakan seragam sekolah, dan menatap masa depan dengan cita-cita bekerja di Jepang. Sebuah mimpi yang sempat padam di tengah kerasnya realitas hidup, kini kembali menyala berkat intervensi program tersebut.

Pertanyaan atas Keberlanjutan

“Dulu lulus SD, saya mau lanjut SMP gak bisa karena bapak saya stroke, (beliau) gak bisa menafkahi,” ungkap Hendi, menjelaskan pahitnya kenyataan yang menghentikan pendidikannya.

Ia juga menyoroti perbedaan drastis yang ditawarkan program ini. “Banyak banget (fasilitasnya) disini lengkap semua. Dari tas dikasih, laptop dikasih, fasilitas untuk belajar juga dikasih. Gratis semua,” katanya.

Hendi menyampaikan terima kasihnya. “Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo karena telah memberikan program sekolah rakyat. Dengan sekolah ini, saya semoga bisa menggapai cita-cita saya,” harapnya, mendoakan kesehatan Presiden.

Bayang-bayang Kemiskinan Struktural

Kisah Hendi bukan anomali. Ini adalah cerminan jutaan anak Indonesia yang terpaksa putus sekolah akibat kemiskinan struktural dan lemahnya jaring pengaman sosial. Negara memiliki kewajiban konstitusional menjamin pendidikan untuk setiap warganya, bukan menunggu program “harapan baru” muncul.

Meskipun program Sekolah Rakyat memberi secercah harapan bagi Hendi dan anak-anak prasejahtera lainnya, masalah fundamental kemiskinan dan akses pendidikan yang setara masih menghantui. Ini menuntut solusi komprehensif dan berkelanjutan dari negara, bukan sekadar respons politis jangka pendek yang bergantung pada inisiator tertentu.

More like this