Wayang Orang On The Street: Kota Lama Semarang Bergelora dalam Pesta Seni Tradisi

3 min read
Wayang Orang Street Art: Semarang Old City's Vibrant Traditional Festival

Pergelaran “Wayang Orang on The Street” meriahkan Festival Kota Lama Semarang. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti tampil dalam lakon “Sang Pinilih” bersama kepala OPD. Pergelaran ini, hasil kerja sama dengan Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo, bertujuan melestarikan seni wayang orang Semarang.

Wayang Orang Street Art: Semarang Old City's Vibrant Traditional Festival

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mencoreng pakem pewayangan tradisional, tampil langsung dalam pergelaran “Wayang Orang on The Street” di kawasan Kota Lama Semarang, Minggu malam, 14 September 2025. Pergelaran yang menjadi bagian dari Festival Kota Lama ini ambisius mendongkrak kembali kesenian wayang orang, namun jelas diwarnai adaptasi mencolok demi daya tarik publik.

Bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya, Agustina memerankan tokoh Sang Hyang Wenang di persimpangan Sayangan. Kolaborasi dengan Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang itu memanggungkan lakon “Sang Pinilih”, diwarnai interaksi langsung dengan penonton dan penggunaan bahasa Indonesia yang menabrak kaidah Jawa halus, inti dari pakem pewayangan.

Adaptasi dan Intervensi Pejabat

Lakon “Sang Pinilih” sendiri mengangkat kisah keberanian prajurit putri Srikandi dalam perang Kurushetra, yang berhasil menewaskan Bisma. Pilihan lakon klasik ini disuguhkan dengan pendekatan populis, memungkinkan pejabat dan penonton berinteraksi, secara efektif mengikis batasan formalitas pementasan wayang orang tradisional.

Adaptasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas pakem pewayangan. Meskipun klaimnya bertujuan menjangkau generasi muda, keleluasaan menggunakan bahasa Indonesia dan interaksi langsung justru mengaburkan kekhasan seni pertunjukan wayang orang yang sarat filosofi dan tata krama Jawa. Ini adalah kompromi yang patut dipertanyakan dalam konteks pelestarian.

Kehadiran para pejabat, termasuk Agustina, dalam pentas ini juga patut dicermati: apakah ini murni dorongan seni atau sebuah intervensi pemerintah daerah untuk menarik perhatian dan mengklaim legitimasi atas program pelestarian budaya yang selama ini kerap kurang greget?

Klaim dan Harapan Politisi

“Untung teman-teman semuanya membantu. Dan, yang membuat tadi suasana cair karena kami diizinkan berinteraksi dengan penonton. Terus, boleh pakai bahasa Indonesia,” kata Agustina, mengakui kegugupannya dan adaptasi drastis yang diterapkan demi daya tarik massal.

Ia mengklaim pergelaran ini menjadi “take off”-nya kebangkitan Ngesti Pandowo. Agustina menyatakan harapannya agar pesan lakon tersampaikan dan meningkatkan kecintaan anak muda pada wayang orang.

Janji pun meluncur, Agustina menyatakan Pemkot Semarang akan mendukung penuh, termasuk rencana memberikan bantuan kostum kepada semua sanggar wayang di Kota Atlas pada 2026. Sebuah janji yang realisasinya masih perlu dibuktikan.

Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin ikut bersuara, mengklaim wayang orang bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan “sarana penting dalam pelestarian nilai-nilai luhur budaya bangsa” dan “episode untuk mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai moral kepada tiap generasi.”

Latar Belakang dan Sorotan

Pergelaran “Wayang Orang on The Street” ini menjadi bagian dari Festival Kota Lama, sebuah inisiatif pemerintah daerah untuk merevitalisasi kawasan historis melalui acara-acara publik.

Namun, keterlibatan aktif pejabat publik dalam pementasan seni budaya, seperti yang diperagakan Wali Kota dan OPD, berpotensi menggeser fokus utama dari esensi seni itu sendiri. Sorotan publik kerap tertuju pada figur pejabat, bukan lagi pada kekayaan dan kedalaman tradisi yang dipentaskan.

More like this