MBG Ubah Wajah Perajin Tempe Ngawi, Produksi Meroket 100 Persen!
Perajin tempe Sholikin di Ngawi, Jawa Timur, mencatat peningkatan produksi signifikan. Usaha tempenya naik 100% setelah memasok program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kenaikan ini memberdayakan usaha kecil dan menciptakan lapangan kerja. Produksi tempe Sholikin kini mencapai 40-45 kg per hari.

Produksi tempe Sholikin, perajin asal Desa Semen, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, melonjak drastis hingga 100 persen. Kenaikan mengejutkan ini terjadi setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto mulai berjalan, menciptakan lonjakan permintaan yang belum pernah ada sebelumnya bagi usaha kecil tersebut.
Ketergantungan baru ini menyoroti bagaimana program pemerintah kini menjadi tulang punggung utama Sholikin, mengubah lanskap bisnis yang sebelumnya mengandalkan penjualan keliling dan toko-toko kecil. Lonjakan produksi ini, dilaporkan pada Selasa (21/4), bersumber dari pasokan tempe untuk hanya satu dapur MBG, memunculkan pertanyaan tentang skala dan keberlanjutan dampak riil program ini secara nasional.
Dependensi Ekonomi Baru
Sebelumnya, Sholikin telah enam tahun bergelut dengan usahanya, menjual tempe keliling dan memasok ke toko-toko sayur serta warung. Dalam kondisi normal, ia hanya mampu memproduksi 40 hingga 45 kilogram tempe setiap hari, angka yang sudah meningkat dari 15-20 kilogram saat awal merintis.
Namun, kedatangan program MBG mengubah segalanya. Pesanan tempe membanjir, memaksa Sholikin meningkatkan kapasitas produksinya secara signifikan. Ini bukan lagi soal mencari pasar, melainkan memenuhi permintaan mendadak yang masif.
Dampak program ini tidak berhenti pada peningkatan produksi Sholikin. Ia mengklaim pembukaan peluang pendapatan bagi warga sekitar yang kini membutuhkan pekerjaan untuk membantu memenuhi pesanan. Sebuah efek domino ekonomi mikro yang langsung terasa.
Namun, fakta bahwa lonjakan 100 persen ini hanya berasal dari pasokan ke satu dapur MBG saja menimbulkan keraguan. Bagaimana jika program ini meluas? Atau, yang lebih krusial, bagaimana jika program ini terhenti?
Ketergantungan tunggal pada satu program pemerintah menjadi pedang bermata dua. Sementara memberikan dorongan instan, ia juga menempatkan perajin seperti Sholikin dalam posisi rentan terhadap kebijakan dan fluktuasi anggaran negara.
Suara Perajin di Tengah Ketidakpastian
Sholikin sendiri tidak menyembunyikan kegembiraannya atas program ini. “Alhamdulillah dampaknya positif. Kalau ada pemesanan itu ya (kenaikannya) ada 100 persen,” ujarnya semringah.
Namun, di balik senyumnya, tersimpan kekhawatiran jelas. Ia mendesak keberlanjutan program, seraya menuntut solusi alternatif jika MBG dihentikan. “Kalau bisa diadakan terus program MBG. Kalau nantinya tidak ada, ya bagaimana solusinya pemerintah mencarikan mata pencarian lain bagi mereka yang bekerja di SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) atau dibukakan lapangan pekerjaan lain,” tegasnya.
Ia menyampaikan terima kasih langsung kepada Presiden Prabowo, sebuah apresiasi yang sekaligus menggarisbawahi harapan agar program ini “semakin lancar dan enggak ada masalah-masalah apa pun,” sebuah doa yang mengandung ironi mengingat potensi masalah keberlanjutan.
Tantangan Keberlanjutan Program
Program Makan Bergizi Gratis, yang digagas Presiden terpilih Prabowo Subianto, kini jelas menunjukkan dampak ekonomi langsung di tingkat akar rumput. Namun, kasus Sholikin di Ngawi menjadi studi kasus penting tentang bagaimana intervensi pemerintah, meski efektif dalam jangka pendek, menciptakan struktur ekonomi yang sangat bergantung.
Pertanyaan mendesak muncul: apakah lonjakan produksi ini berkelanjutan tanpa program pemerintah? Pemerintah dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya menciptakan permintaan, tetapi juga membangun kemandirian pasar bagi pelaku usaha kecil pasca-program.