Senator Kanada Tegaskan: Kerja Sama RI

3 min read
Canadian Senator Emphasizes Indonesia Cooperation

Senator Kanada Yuen Pau Woo menekankan pentingnya Undang-Undang implementasi ICA-CEPA untuk memperkuat hubungan Kanada-Indonesia. Perjanjian ini lebih dari sekadar perdagangan, menegaskan posisi Indonesia sebagai pasar prioritas dan kekuatan strategis di Asia Tenggara. Kanada memandang Indonesia sebagai mitra penting dalam diversifikasi ekonomi dan tata kelola global.

Canadian Senator Emphasizes Indonesia Cooperation

Senator Kanada Yuen Pau Woo mendesak keras pengesahan Undang-Undang untuk mengimplementasikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kanada-Indonesia (ICA-CEPA), menegaskan bahwa perjanjian ini jauh melampaui sekadar perdagangan. Woo melihatnya sebagai langkah strategis krusial bagi Kanada untuk memposisikan diri di tatanan dunia multipolar, mengurangi ketergantungan ekonomi pada Amerika Serikat.

Pernyataan tajam ini disampaikan Woo dalam pertemuan di Gedung Senat Kanada, Ottawa, Rabu (15/4), dan dikutip dari akun YouTube resminya Jumat (24/4). Ia menyoroti Indonesia sebagai pasar prioritas dan kekuatan geopolitik yang tidak bisa diabaikan, mendesak Kanada untuk segera bertindak.

Diversifikasi Geopolitik dan Ekonomi

Woo menekankan perlunya Kanada memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Ini menjadi bagian integral dari upaya diversifikasi hubungan ekonomi Kanada di luar Amerika Serikat, mengingat tatanan dunia tidak lagi terpusat pada satu kekuatan dominan.

Indonesia dipandang sebagai kekuatan besar yang memiliki sejarah panjang berabad-abad, dengan posisi geografis strategis antara Samudra Hindia dan Pasifik. Selat Malaka, yang terletak di perairan Indonesia, merupakan jalur perdagangan vital dunia, bahkan disebutnya lebih penting dari Selat Hormuz.

Dengan 17.000 pulau membentang 5.000 kilometer, populasi terbesar keempat di dunia, dan negara mayoritas Muslim terbesar, Indonesia telah menunjukkan pengaruh internasional sejak merdeka 1945, seperti kepemimpinan dalam Konferensi Asia-Afrika 1955.

Indonesia akan menjadi anggota penuh BRICS pada tahun 2025 dan merupakan satu-satunya anggota tetap G20 dari Asia Tenggara. Woo memprediksi, di bawah Presiden Prabowo Subianto, negara ini siap memainkan peran yang lebih penting lagi di masa mendatang.

Sebagai salah satu pendiri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada 1965, Indonesia dipandang banyak pihak sebagai pemimpin tidak resmi perhimpunan tersebut. Kanada sendiri mengakui “sentralitas ASEAN” dalam strategi Indo-Pasifiknya, menempatkan Asia Tenggara sebagai gerbang menuju salah satu kawasan terpenting di abad ke-21.

Belajar dari Otonomi Indonesia

“Perjanjian ini bukan hanya tentang perdagangan. Ini tentang bagaimana Kanada memposisikan diri di dunia yang tidak lagi terorganisasi di sekitar satu pusat kekuasaan. Sejauh Kanada berupaya untuk mendiversifikasi hubungan ekonominya di luar Amerika Serikat, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara merupakan pasar prioritas,” kata Yuen Pau Woo.

Merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Davos pada Januari 2026 tentang standar ganda tatanan dunia lama dan munculnya tatanan dunia multipolar, Woo menegaskan pentingnya kebijakan luar negeri yang lebih independen bagi Kanada. “Negara-negara ASEAN, dan Indonesia khususnya, telah lama menyadari geopolitik, persaingan kekuatan besar, dan pentingnya otonomi strategis. Saat kita memulai jalan kita sendiri menuju kemandirian kebijakan luar negeri yang lebih besar, kita dapat belajar satu atau dua hal dari Indonesia,” ujarnya.

Ia memperingatkan, “Kita mungkin tidak sependapat dengan Indonesia dalam semua isu ini, tetapi mengabaikan pengaruh mereka terhadap arsitektur tata kelola global yang terus berkembang akan menjadi kesalahan besar.”

Membangun Kepercayaan, Bukan Sekadar Tarif

Woo menyimpulkan, ICA-CEPA bukan hanya tentang tarif, melainkan tentang membangun kepercayaan antara kedua negara. Perjanjian ini berfungsi sebagai jalan untuk memperkuat hubungan bilateral di berbagai bidang, termasuk kemitraan penelitian, mobilitas mahasiswa, pariwisata, atau pertukaran budaya.

Perjanjian tersebut merupakan sinyal jelas bagi Kanada untuk lebih serius memperhatikan Indonesia, dan sebaliknya. Woo menegaskan kebutuhan akan “lebih banyak Indonesia, dan Indonesia membutuhkan lebih banyak Kanada.”

More like this