Bupati Harno Tekankan Peran Tata Kelola Lokal Sebagai Kunci Ketangguhan Komunitas

3 min read
Untitled Page

Bupati Rembang Harno membuka seminar internasional Undip dan Umsida di Setda Rembang (23/4/2026). Ia menekankan penguatan tata kelola lokal sebagai fondasi komunitas tangguh dan partisipatif. Partisipasi masyarakat krusial untuk kebijakan inklusif. Pembangunan Rembang 2025-2029 didukung pelayanan transparan dan teknologi digital. Kolaborasi lintas negara penting bagi tata kelola lokal di Asia.

Bupati Rembang Harno, dalam seminar internasional di aula lantai 4 Setda Rembang, Kamis (23/4/2026), secara lantang menyatakan penguatan tata kelola lokal adalah fondasi utama komunitas tangguh dan partisipatif. Pernyataan ini muncul di tengah kerja sama Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), namun tanpa merinci sejauh mana Rembang telah mencapai standar tata kelola yang ia gaungkan.

Harno menekankan, kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pusat, melainkan kapasitas dan kualitas tata kelola di tingkat lokal. Klaim ini menyoroti urgensi desentralisasi kekuasaan, namun sekaligus mempertanyakan efektivitas implementasi di daerahnya sendiri.

Retorika Tata Kelola dan Partisipasi

Harno berargumen, tata kelola lokal yang baik melahirkan komunitas adaptif, mampu menghadapi krisis, dan terlibat aktif dalam pembangunan. Ia menegaskan partisipasi masyarakat bukan lagi pilihan, melainkan “kebutuhan utama” untuk kebijakan inklusif dan berkelanjutan.

Pernyataan ini mengaitkan langsung penguatan tata kelola lokal dengan visi pembangunan Kabupaten Rembang 2025–2029: “Mewujudkan Rembang Sejahtera.” Namun, bagaimana transparansi pelayanan publik dan pembangunan ekonomi inklusif yang dijanjikan benar-benar terwujud di lapangan masih menjadi pertanyaan besar.

Pemerintah Kabupaten Rembang, menurut Harno, “terus mendorong” pendekatan pembangunan partisipatif melalui penguatan kelembagaan masyarakat dan pembukaan ruang dialog. Ini didukung “pemanfaatan teknologi digital” dalam pelayanan publik dan pemberdayaan, sebuah klaim yang menuntut bukti konkret implementasi dan dampaknya bagi warga.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan transformasi digital, kolaborasi lintas negara disebut “semakin penting.” Seminar ini diharapkan menjadi wadah berbagi pengetahuan, namun apakah ini akan berujung pada aksi nyata atau sekadar wacana internasional tanpa dampak lokal yang signifikan?

Janji dan Tuntutan

“Kita menyadari bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kapasitas dan kualitas tata kelola di tingkat lokal,” ujar Harno, menyoroti desentralisasi kekuasaan.

Ia melanjutkan, “Partisipasi masyarakat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama dalam menciptakan kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan.” Pernyataan ini menuntut komitmen nyata dari pemerintah daerah untuk membuka ruang partisipasi yang substansial, bukan sekadar formalitas.

Harno menutup dengan retorika, “Kami percaya, bahwa masa depan pembangunan dimulai dari lokal. Ketika desa dan komunitas kuat, maka daerah akan kuat, dan pada akhirnya bangsa pun akan semakin kokoh.” Sebuah janji besar yang harus diuji dengan realitas pembangunan di Rembang.

Konteks Akademis dan Tantangan Lokal

Seminar internasional ini diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, menandai upaya akademis untuk membahas isu tata kelola lokal.

Acara ini berlangsung di tengah sorotan terhadap efektivitas pemerintahan daerah dalam mewujudkan pembangunan yang merata dan partisipatif, khususnya di daerah seperti Rembang yang masih menghadapi berbagai tantangan struktural dan sosial.

Bupati Harno Tekankan Peran Tata Kelola Lokal Sebagai Kunci Ketangguhan Komunitas
More like this