Senator Kanada Soroti: Era Prabowo, Indonesia Kian Krusial di Panggung Geopolitik Dunia

3 min read
Canada Senator: Prabowo Era Elevates Indonesia's Global Geopolitical Role

Senator Kanada Yuen Pau Woo menyoroti peran penting Indonesia di dunia internasional. Indonesia, dengan sejarah panjang dan posisi strategisnya, dipandang sebagai kekuatan utama di Asia Tenggara dan global. Negara ini aktif dalam reformasi tata kelola global, anggota BRICS 2025, G20, dan pemimpin di ASEAN. ICA-CEPA penting untuk hubungan Kanada-Indonesia.

Canada Senator: Prabowo Era Elevates Indonesia's Global Geopolitical Role

Senator Kanada Yuen Pau Woo secara tegas menyoroti krusialnya peran Indonesia dalam kancah global, terutama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan ini muncul di Gedung Senat Kanada, Ottawa, Rabu (15/4), saat pembahasan implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kanada-Indonesia (ICA-CEPA).

Woo menekankan bahwa Indonesia, sebagai raksasa ekonomi dan demografi di Asia Tenggara, bukan sekadar pasar, melainkan gerbang strategis bagi Kanada memasuki kawasan vital abad ke-21. Ini memaksa Kanada untuk membangun hubungan erat, meninjau kembali kebijakan luar negerinya yang lebih independen.

Penguatan Jejak Geopolitik

Penegasan Woo datang di tengah dorongan Kanada untuk meratifikasi ICA-CEPA, sebuah pakta yang disebutnya lebih dari sekadar kesepakatan dagang. Ia menandai ini sebagai sinyal pergeseran kebijakan luar negeri Ottawa menuju aliansi yang lebih beragam, khususnya dengan negara-negara penentu di tatanan internasional seperti Indonesia.

Indonesia, negara keempat terbesar populasi dunia dan mayoritas Muslim terbesar, telah menunjukkan pengaruhnya sejak kemerdekaan 1945. Proyeksi peran yang lebih besar di bawah Prabowo Subianto bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari posisi geopolitiknya yang tak terbantahkan.

Keanggotaan penuh BRICS pada 2025 dan status satu-satunya anggota tetap G20 dari Asia Tenggara menempatkan Indonesia di garis depan reformasi tata kelola global. Suara Jakarta menggemuruh dalam menyerukan peningkatan representasi negara berkembang di IMF dan Bank Dunia, menantang hegemoni struktur lama.

Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia vokal mendukung reformasi Dewan Keamanan, mendorong pengakuan dunia yang lebih multipolar. Sementara di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jakarta memimpin Kelompok 33, membela produsen pertanian skala kecil dari negara berkembang, sekaligus berupaya menghidupkan kembali badan banding yang lumpuh.

Dominasi Indonesia juga terasa di Asia Tenggara. Sebagai salah satu pendiri ASEAN dan tuan rumah Sekretariatnya di Jakarta, Indonesia secara de facto memimpin perhimpunan ini, meskipun konsensus menjadi landasan operasionalnya. Ini menempatkan beban besar pada Jakarta untuk mengarahkan stabilitas dan kemajuan regional.

Suara Kritis di Panggung Global

“Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia berdasarkan populasi dan negara mayoritas Muslim terbesar,” tegas Woo, dikutip dari akun Youtube resminya, Jumat (24/4). “Sejak kemerdekaan pada tahun 1945, Indonesia telah menjadi negara berpengaruh dalam urusan internasional. Di bawah Presiden Prabowo Subianto, tampaknya negara ini siap memainkan peran yang lebih penting lagi di tahun-tahun mendatang.”

Woo melanjutkan, “Indonesia berkontribusi aktif dalam reformasi tata kelola global dan harus dipandang sebagai mitra penting dalam reformasi dan pembaruan sistem multilateral, termasuk sistem PBB, WTO, dan lembaga keuangan internasional.”

“Meskipun ASEAN beroperasi berdasarkan konsensus, Indonesia dipandang oleh banyak pihak sebagai pemimpin tidak resmi perhimpunan ini, dengan Sekretariat ASEAN berlokasi di Jakarta,” pungkasnya, menggarisbawahi posisi strategis Indonesia yang tak tergantikan di regional.

Sejarah dan Proyeksi Kekuatan

Sejarah mencatat, dari Kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit, Nusantara selalu menjadi kekuatan utama di Asia Tenggara. Posisi strategis ini berlanjut di era modern, kini diperkuat oleh visi kepemimpinan yang baru.

Perjanjian ICA-CEPA sendiri menandai langkah maju dalam mempererat hubungan ekonomi Kanada-Indonesia, yang diyakini membuka gerbang investasi dan perdagangan dua arah yang signifikan. Namun, penegasan Senator Woo lebih jauh dari sekadar keuntungan ekonomi; ini adalah pengakuan akan kekuatan geopolitik Indonesia yang tak bisa diremehkan.

More like this