Terhempas PHK, Suranto Justru Temukan Jalan Sukses di Dapur MBG
Suranto (50), warga Karanganyar, bangkit dari PHK. Ia kini bekerja di Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) ini. Program ini memberi Suranto kesempatan kerja, membantu mengatasi tekanan ekonomi. MBG membuka peluang bagi pekerja terdampak PHK dan masyarakat rentan di Karanganyar tanpa batasan usia.

PHK massal melumpuhkan ribuan pekerja Karanganyar, salah satunya Suranto (50), kini bergantung pada program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sekadar bertahan hidup setelah lima bulan menganggur. Program ini memberinya pekerjaan kebersihan, menambal lubang ekonomi akibat kebangkrutan perusahaan tekstil tempatnya bekerja selama puluhan tahun.
Warga Desa Klodran, Colomadu, itu terpaksa beralih profesi dari buruh pabrik yang mengabdi 24 tahun menjadi pekerja kebersihan. Kondisi ini menyoroti rapuhnya jaring pengaman sosial dan minimnya peluang kerja di tengah gelombang PHK besar-besaran yang terus menghantam sektor padat karya.
Dampak PHK Massal
Suranto, yang sebelumnya mengabdi lebih dari dua dekade di industri tekstil dan garmen, menjadi bagian dari sekitar 10.500 karyawan yang terdepak. Kebangkrutan perusahaan itu menghempaskan ribuan keluarga ke jurang ketidakpastian ekonomi.
Selama lima bulan, Suranto limbung. Tanggungan cicilan bank sebesar Rp 1,3 juta per bulan terus menekan, sementara peluang kerja baru nyaris nihil, terutama bagi pekerja di usia 50 tahun.
Dapur MBG, yang dikenal sebagai program makan gratis, kini menjadi pelabuhan darurat bagi pekerja seperti Suranto. Seorang rekan menginformasikan lowongan, dan ia diterima sebagai petugas kebersihan di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Karanganyar.
Pekerjaan baru ini, meski jauh berbeda dari keahliannya, setidaknya menjamin pendapatan untuk menutup kebutuhan pokok dan cicilan. Ini mengungkap celah besar dalam sistem penyerapan tenaga kerja pasca-PHK.
Program MBG, yang tidak membatasi usia tenaga kerja, menjadi “satu-satunya” harapan bagi pekerja senior yang terpinggirkan oleh pasar kerja, memaksa mereka menerima pekerjaan apa pun demi kelangsungan hidup.
Jeritan Pekerja Terpukul
“Saya sekitar 5 bulanan enggak kerja, ya bingung. Untuk setoran, ya punya setoran bank,” keluh Suranto, menggambarkan keputusasaan sebelum mendapat pekerjaan di Dapur MBG.
Ia menambahkan, “Sangat membantu untuk biaya sehari-hari itu kan berkurang. Tanggungan berkurang.” Pernyataan ini menegaskan betapa krusialnya bantuan sekecil apa pun di tengah himpitan ekonomi yang mencekik.
“Terima kasih Pak Presiden Prabowo Subianto yang telah mendirikan MBG seluruh Indonesia,” ucap Suranto, sebuah ungkapan syukur pribadi yang sekaligus menyoroti ketergantungan masyarakat pada inisiatif pemerintah di masa krisis.
Solusi Sementara, Masalah Abadi
Kisah Suranto hanyalah satu dari ribuan potret buram dampak PHK massal di sektor padat karya. Sementara Dapur MBG menyediakan solusi instan bagi individu yang terancam, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah ini jawaban jangka panjang atas krisis lapangan kerja dan perlindungan pekerja usia lanjut?
Program yang awalnya berfokus pada pemenuhan gizi anak ini kini terseret masuk ke arena penanggulangan pengangguran, menyoroti gagalnya sektor industri dan pemerintah menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan bagi korban PHK.