Tragedi Berulang di Lebanon: Personel RI Gugur, Pemerintah Beri Hormat Pahlawan

2 min read
Lebanon's Recurring Tragedy: Indonesian Peacekeeper Falls, Honored as Hero

Pemerintah Indonesia berduka atas gugurnya Praka Rico Pramudia, anggota Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Praka Rico meninggal setelah dirawat intensif akibat luka berat dari insiden akhir Maret 2026 di Lebanon Selatan akibat serangan tank Israel. Indonesia mengutuk keras serangan ini dan mendesak PBB investigasi menyeluruh.

Lebanon's Recurring Tragedy: Indonesian Peacekeeper Falls, Honored as Hero

Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, anggota Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) asal Indonesia, gugur setelah sebulan berjuang melawan luka parah akibat ledakan artileri tank Israel di Lebanon Selatan. Pemerintah Indonesia mengutuk keras serangan ini, menegaskan keselamatan personel PBB tidak bisa ditawar, dan menuntut investigasi menyeluruh dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Praka Rico berpulang pada Sabtu (25/4) setelah dirawat intensif sejak insiden 29 Maret 2026 di dekat Kota Adchit Al Qusayr. Kematiannya menambah daftar panjang korban akibat agresi militer Israel, memicu kemarahan diplomatik Jakarta yang menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan perang ini.

Detil Luka dan Perawatan Intensif

Luka Praka Rico sangat parah akibat serangan artileri tank Israel. Ia menjalani perawatan intensif selama hampir sebulan di Beirut, namun kondisi kritisnya tidak tertolong. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menjelaskan pemerintah telah bekerja sama dengan UNIFIL, pemerintah Lebanon, dan tim medis untuk memastikan penanganan optimal.

“Berbagai langkah medis telah diupayakan, namun akibat kondisi luka yang cukup berat, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan,” ujar Nabyl.

Indonesia tidak tinggal diam. Pemerintah langsung menyampaikan duka cita mendalam dan memberikan penghormatan tertinggi kepada Praka Rico. Koordinasi dengan UNIFIL tengah berlangsung untuk memastikan repatriasi jenazah dilakukan sesegera mungkin dengan penuh kehormatan militer.

Kutukan Keras dan Tuntutan Investigasi

Pemerintah Indonesia kembali mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan gugurnya penjaga perdamaian asal Indonesia. Serangan terhadap personel PBB merupakan pelanggaran serius hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Ini bukan insiden terisolasi, melainkan bagian dari pola agresi yang membahayakan misi kemanusiaan.

“Pemerintah menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Negara hadir untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas pengabdian dan pengorbanan almarhum bagi perdamaian dunia,” tegas Nabyl.

Indonesia mendesak PBB segera melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel. Tujuannya jelas: mengungkap fakta di balik insiden brutal ini dan memastikan pertanggungjawaban penuh atas serangan yang merenggut nyawa Praka Rico. “Indonesia mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini,” kata Nabyl.

Rentetan Korban Agresi Israel

Gugurnya Praka Rico menjadikan ia personel Indonesia keempat yang tewas saat bertugas di bawah komando UNIFIL. Sebelumnya, serangan serupa telah merenggut nyawa Praka Farizal Rhomadhon di lokasi kejadian. Sehari setelahnya, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan juga gugur akibat serangan di dekat Bani Haiyyan, Lebanon Selatan. Rentetan kematian ini menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi pasukan perdamaian di tengah konflik yang terus berkecamuk.

More like this