Hardiknas 2026: Mendesain Ulang Komunikasi Pendidikan untuk Era Partisipasi Digital
Rimba Mahardika (Humas BSSN, Praktisi Ilmu Komunikasi Unas) membahas Hardiknas 2026. Tema “Menguatkan Partisipasi Semesta” menyoroti rekonstruksi komunikasi pendidikan. Tantangan digital seperti scrolling culture membuat pendidikan sulit berkomunikasi dengan generasinya. Ilmu Komunikasi menekankan interaksi aktif siswa. Guru diharapkan menjadi fasilitator dialog, krusial bagi Gen Z dan Alpha.

Rimba Mahardika, Humas Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sekaligus Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional (Unas), menuding pendidikan Indonesia “gagap berkomunikasi” dengan generasi digital. Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 menjadi momentum krusial untuk merekonstruksi paradigma komunikasi pendidikan nasional, menyusul ancaman “scrolling culture” yang secara masif merusak konsentrasi.
Mahardika menegaskan, pendidikan nasional kini terasing dalam bisingnya komunikasi digital, tetap menggunakan metode usang di hadapan Generasi Z dan Alpha yang terbiasa dengan informasi instan. Situasi ini memicu krisis relevansi akut yang membahayakan masa depan pendidikan.
Krisis Relevansi di Era Digital
Tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” bukan sekadar slogan administratif. Mahardika melihatnya sebagai seruan mendesak untuk perubahan fundamental dalam cara pendidikan berinteraksi dengan masyarakatnya.
Pendidikan, yang esensinya adalah proses komunikasi kompleks antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat, kini goyah. Kecepatan informasi digital tahun 2026, bersama “scrolling culture,” telah membuat pendidikan sulit menyentuh audiensnya sendiri.
Mahardika secara tajam menyoroti “scrolling culture” yang melemahkan daya konsentrasi Generasi Z dan Alpha. Komunikasi pendidikan terancam ketika pendidik kukuh menggunakan metode konvensional di hadapan peserta didik yang menuntut komunikasi instan 15 detik.
Ia menekankan perlunya komunikasi interaktif, merujuk filosofi Ki Hadjar Dewantara: “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.” Semboyan ini, menurutnya, adalah landasan komunikasi pendidikan yang partisipatif dan humanis.
Pengetahuan harus dibangun melalui interaksi sosial, bukan sekadar ditransfer sepihak. Ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme, yang menuntut perubahan peran guru dari “transmitter tunggal” menjadi fasilitator komunikasi.
Tuntutan Perubahan Paradigma
“Guru bukan lagi transmitter tunggal yang absolut, melainkan fasilitator komunikasi yang membangun makna bersama siswa,” tegas Mahardika. “Ruang kelas harus menjadi dialog yang hidup, bukan monolog guru yang monoton.”
Mahardika menambahkan, “Pendidikan harus menempatkan siswa sebagai subjek aktif, bukan objek komunikasi pasif. Ini selaras dengan Teori Komunikasi Humanisme.”
Ia memperingatkan keras, “Komunikasi pendidikan terancam ketika pendidik menggunakan metode konvensional di hadapan peserta didik yang terbiasa dengan komunikasi instan 15 detik.”
Latar Belakang
Kritikan pedas ini muncul saat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, menyoroti urgensi adaptasi pendidikan terhadap lanskap digital yang terus bergerak dan berubah.
Analisis Mahardika, sebagai pejabat BSSN dan akademisi ilmu komunikasi, menuntut evaluasi mendalam atas relevansi sistem pendidikan nasional yang kini dinilai gagal beresonansi dengan generasinya sendiri.