Dapur MBG: Bagaimana Santri Yatim Ini Berhasil Topang Ekonomi Keluarga?

2 min read
Dapur MBG: Kisah Inspiratif Santri Yatim Sukses Topang Ekonomi Keluarga

Muhammad Zainuddin Alwi, santri yatim dari Purwodadi, merasakan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bekerja di SPPG Klodran, ia kini menopang ekonomi keluarga dan mengembangkan keterampilan baru. Kisah Alwi menunjukkan MBG tidak hanya penuhi gizi, tetapi juga membuka peluang kerja serta memperkuat ekonomi keluarga di daerah.

Dapur MBG: Kisah Inspiratif Santri Yatim Sukses Topang Ekonomi Keluarga

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah mulai menunjukkan dampak ekonomi, bukan sekadar pemenuhan gizi. Muhammad Zainuddin Alwi, seorang santri yatim asal Purwodadi, kini mampu menopang keluarganya berkat pekerjaan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Klodran, Karanganyar, yang beroperasi sejak awal 2025.

Kisah Alwi, yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan dan mengabdi di pesantren, menjadi sorotan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. Mereka mengklaim program MBG tidak sekadar memenuhi asupan gizi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan keterampilan bagi generasi muda, khususnya di daerah.

Sejak kecil, Alwi kehilangan ayahnya dan tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, menjalani hidup sebagai santri. Setelah dididik, ia mengabdi dengan mengajar di pondok pesantren yang sama.

Rutinitas Alwi terbilang padat: mengajar selepas magrib hingga malam, lalu kembali mengajar setelah subuh, dan pada pagi hari mengantar santri-santri berangkat ke sekolah.

Kesempatan baru muncul pada awal 2025 ketika SPPG Klodran mulai beroperasi. Alwi mendapat restu kiainya untuk mendaftar dan bergabung dengan tim pengelola makanan.

Di SPPG Klodran, Alwi berperan di divisi persiapan, bertugas menyiapkan barang yang akan dimasak oleh tim pengolahan. Ini meliputi proses menyiapkan bahan, memotong, hingga membantu memasak sederhana.

Pengalaman ini menjadi hal baru baginya, yang sebelumnya tanpa latar belakang kuliner, memaksanya beradaptasi cepat dalam menyiapkan bahan dan proses memasak.

Dampak Ekonomi dan Apresiasi Politik

Alwi blak-blakan soal latar belakangnya yang serba kekurangan. “Latar belakang saya sendiri dari keluarga, bisa dibilang kurang mampu. Saya bekerja di SPPG Klodran, dan di sini saya tinggal di pondok pesantren,” bebernya.

Penghasilan dari pekerjaannya di dapur MBG dialokasikan secara jelas untuk keluarga dan masa depan. “Kalau hasil kerja dari sini saya buat nabung untuk nyambut masa depan. Terus sebagian untuk ibu saya, terus adik-adik saya,” kata Alwi.

Secara eksplisit, Alwi menyampaikan apresiasi langsung kepada tokoh politik. “Terima kasih banyak Pak Prabowo sehingga saya bisa mempunyai penghasilan sendiri. Sehingga bisa meringankan beban orang tua,” ujar Alwi.

Narasi Pemerintah dan Realitas Lapangan

Kisah Alwi ini diangkat Bakom RI sebagai bukti bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, melainkan juga pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keterampilan di kalangan pemuda daerah.

Namun, narasi ini muncul di tengah perdebatan luas tentang efektivitas dan prioritas utama program MBG yang sejatinya bertujuan mengatasi masalah gizi. Penekanan pada dampak ekonomi dan apresiasi politik ini memicu pertanyaan tentang agenda di balik publikasi kisah-kisah sukses individu.

More like this