Bukan Sekadar Gratis: Begini Sekolah Rakyat Pemerintah Selamatkan Pendidikan Rafika yang Terlantar

2 min read
Sekolah Rakyat Pemerintah: Lebih dari Gratis, Selamatkan Pendidikan Terlantar Rafika

Rafika Nur Khasanah (16) dari Sragen hampir putus sekolah setelah ayah meninggal dan ibu merantau. Sekolah Rakyat terintegrasi di Sragen membantu Rafika melanjutkan pendidikan. Siswi ini kini mendapatkan fasilitas sekolah dan kebutuhan makan. Program ini memastikan Rafika dapat fokus belajar dan meraih cita-citanya.

Sekolah Rakyat Pemerintah: Lebih dari Gratis, Selamatkan Pendidikan Terlantar Rafika

Sragen, Jawa Tengah-Rafika Nur Khasanah (16 tahun), siswi kelas 10 asal Sragen, Jawa Tengah, nyaris terlempar dari bangku sekolah. Kemiskinan ekstrem akibat ayah meninggal dan ibu merantau tanpa kabar, memaksanya menghadapi pilihan pahit: pendidikan atau bertahan hidup.

Namun, “Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen” menyelamatkan Rafika. Lembaga ini menjadi satu-satunya harapan bagi Rafika untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita, setelah kakek-neneknya tak sanggup lagi membiayai sekolah.

Titik Nadir Pendidikan

Titik nadir Rafika tiba saat menjelang kelulusan SMP. Ibunya pergi merantau, tidak pernah mengirim uang. Kakeknya menderita penyakit gula, tak bisa bekerja. Neneknya, Kartini (67 tahun), hanya buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp10 ribu per hari, hanya cukup untuk makan.

“Saya cuma dikasih uang itu cuma Rp10 ribu karena tidak punya uang,” ujar Rafika, seperti dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. Keterbatasan finansial mencekik, membuat masa depannya gelap, terancam putus sekolah permanen.

Sekolah Rakyat kini menanggung penuh kebutuhan Rafika. Mulai dari alat tulis, seragam, sepatu, kerudung, hingga jaminan makan tiga kali sehari dan dua kali asupan makanan kecil. Ini memungkinkan Rafika fokus belajar tanpa beban ekonomi yang menghimpit.

Kisah Rafika bukan anomali. Banyak anak di daerah terpencil atau keluarga miskin menghadapi tantangan serupa, terancam putus sekolah karena ketiadaan biaya dan dukungan keluarga. Sekolah Rakyat beroperasi sebagai jaring pengaman terakhir.

Rafika, yang kini bisa menekuni seni kesukaannya, menatap masa depan dengan harapan. “Saya pengen ke Jepang,” katanya, sebuah impian yang sebelumnya mustahil di tengah lilitan kemiskinan.

Harapan dan Kekecewaan

Meski diselamatkan Sekolah Rakyat, kerinduan pada ibunya masih menghantui Rafika. “Aku ingin menyampaikan kalau aku sayang ibu. Aku cuma punya ibu. Ayah sudah gak ada. Jadi, ibu tolong ngertiin aku,” ucap Rafika, penuh harap.

Nenek Rafika, Kartini (67 tahun), mengutarakan rasa syukurnya. “Dia itu anak pintar. Rafika bahkan mengurusi kakeknya yang sakit,” kata Kartini haru, ditemui di rumahnya di Dusun Gayam, Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen.

Kartini telah mengasuh Rafika sejak cucunya kelas 5 SD, menjadi saksi langsung perjuangan Rafika dan dampak besar kehadiran Sekolah Rakyat dalam hidup mereka.

Kegagalan Sistemik

Kasus Rafika menyoroti rapuhnya sistem perlindungan anak di Indonesia, terutama bagi mereka yang terperangkap dalam lingkaran kemiskinan ekstrem dan disfungsi keluarga. Keberadaan inisiatif seperti Sekolah Rakyat menjadi krusial, namun juga menggarisbawahi kegagalan negara dalam menjamin hak dasar pendidikan bagi setiap anak.

“Sekolah Rakyat” bertindak sebagai “sampan” penyelamat. Ini sebuah ironi, bahwa untuk melanjutkan pendidikan, anak-anak seperti Rafika harus bergantung pada inisiatif swasta atau komunitas, bukan jaminan mutlak dari pemerintah.

More like this