Sorotan Tajam: 4 Dokter Internship Meninggal dalam 3 Bulan, PDUI Desak Evaluasi Menyeluruh

2 min read
4 Dokter Internship Meninggal dalam 3 Bulan, PDUI Desak Evaluasi Komprehensif

PP PDUI menerima audiensi perwakilan dokter internship pada 2 Mei 2026, membahas berbagai masalah lapangan. PDUI menyatakan keprihatinan atas meninggalnya empat dokter internship dalam tiga bulan terakhir. Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi sistem pendidikan dokter Indonesia. Ketidakjelasan status peserta berdampak pada perlindungan hukum dan jaminan keselamatan kerja mereka.

4 Dokter Internship Meninggal dalam 3 Bulan, PDUI Desak Evaluasi Komprehensif

Empat dokter peserta program internship tewas dalam tiga bulan terakhir, memicu peringatan keras dari Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI). Kematian beruntun ini menyingkap bobroknya sistem pendidikan dan pembinaan dokter di Indonesia, khususnya program internship yang menempatkan pesertanya pada risiko fatal.

Terakhir, dr. Myta Aprilia Azmy meninggal saat menjalani internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Ketua Umum PP PDUI, dr. Ardiansyah Bahar, MKM, menegaskan insiden tragis ini adalah “alarm serius” bagi negara dan institusi terkait yang dinilai abai.

Kegagalan Sistem dan Status Menggantung

Kematian beruntun ini bukan sekadar insiden, melainkan cerminan kegagalan mendasar dalam pelaksanaan Program Internship Dokter Indonesia (PIDI). PDUI menyoroti bagaimana program ini menempatkan peserta dalam posisi rentan tanpa perlindungan memadai.

Akar masalahnya terletak pada ketidakjelasan status dokter internship: apakah mereka peserta pendidikan atau justru tenaga kerja layanan kesehatan. Ambivalensi ini menciptakan celah hukum dan struktural yang mengeksploitasi para dokter muda di lapangan.

Akibatnya, mereka beroperasi tanpa perlindungan hukum yang jelas, hak dan kewajiban yang buram, serta jaminan keselamatan kerja yang minim. Beban kerja berlebih, kurangnya supervisi, dan kondisi kerja yang buruk seringkali menjadi pemicu fatal.

Isu ini mengemuka saat PP PDUI menerima audiensi dari perwakilan dokter internship, termasuk dr. Izdihar Firdaus, pada Sabtu, 2 Mei 2026 di Jakarta. Mereka menyampaikan langsung persoalan di lapangan yang selama ini terabaikan.

Hasil pertemuan dan notulensi PDUI mengkonfirmasi rentetan persoalan krusial yang menuntut intervensi segera dari pemerintah dan kementerian terkait. Program internship yang seharusnya menjadi jembatan awal karier, justru berubah menjadi ancaman.

Suara Kritis PDUI

“Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi sistem pendidikan dan pembinaan dokter di Indonesia, khususnya dalam pelaksanaan Program Internship Dokter Indonesia,” kata Ardiansyah Bahar, menuding pemerintah abai terhadap nyawa dokter muda.

Bahar menambahkan, “Ketidakjelasan ini berdampak pada lemahnya perlindungan hukum, tidak jelasnya hak dan kewajiban, serta minimnya jaminan keselamatan kerja.” Ia menyoroti bagaimana negara membiarkan kondisi ini berlarut-larut tanpa solusi.

PDUI menegaskan akan terus mendesak perbaikan fundamental agar program internship tidak lagi menjadi “kuburan” bagi para calon dokter yang berjuang mengabdikan diri.

Tuntutan Perubahan Mendesak

Kematian empat dokter internship dalam rentang waktu singkat ini memaksa evaluasi total terhadap program yang seharusnya menjadi jembatan awal karier, bukan ancaman. PDUI menuntut pemerintah segera merumuskan regulasi yang jelas dan menjamin keselamatan para dokter muda.

More like this