Wali Kota Agustina Lantik 42 Anggota DPPI: Akankah Mereka Jadi Benteng Ideologi yang Tangguh?

2 min read
Wali Kota Agustina Lantik 42 Anggota DPPI: Siapkah Jadi Benteng Ideologi Tangguh?

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng melantik 42 Purna Paskibraka menjadi Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Semarang. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur bangsa dan membentuk karakter pemimpin muda berintegritas. Para Duta Pancasila diharapkan menyebarkan pesan persatuan serta menjadi teladan bagi generasi muda di media sosial. Pemerintah Kota Semarang mendukung penuh program DPPI.

Wali Kota Agustina Lantik 42 Anggota DPPI: Siapkah Jadi Benteng Ideologi Tangguh?

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, resmi melantik 42 Purna Paskibraka sebagai Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Semarang di Ruang Lokakrida, Gedung Balaikota, Rabu (11/2). Langkah ini, yang diklaim sebagai upaya menanamkan nilai luhur bangsa, justru membebankan mandat ideologis berat di pundak pemuda terpilih di tengah arus globalisasi yang kompleks.

Beban Ideologis di Pundak Pemuda

Agustina mendesak para Duta Pancasila ini untuk menjadi “simbol” hidup, di mana setiap keputusan, ucapan, dan gerak-gerik mereka harus mencerminkan Pancasila. Ini menempatkan mereka sebagai “benteng ideologi” yang tidak hanya dituntut unggul akademis, tetapi juga berempati tinggi, dengan harapan pengabdian mereka dirasakan langsung mulai dari lingkungan terkecil hingga media sosial. Sebuah tuntutan yang jauh melampaui kapasitas simbolis.

Wali kota itu juga menyamakan Pancasila dengan “gotong royong”, menegaskan bahwa kebiasaan berpikir gotong royong akan menciptakan kondusivitas. Pernyataan ini mengindikasikan prioritas pada stabilitas sosial, yang berpotensi mengesampingkan ruang untuk kritik atau dinamika pemikiran yang sehat. Pemerintah Kota Semarang menjanjikan dukungan penuh untuk seluruh program DPPI, namun rincian konkret mengenai mekanisme dan evaluasi keberhasilan program tetap buram.

Harapan vs. Realitas Implementasi

Ketua Umum DPPI Pusat, Yuslihayanti, yang turut hadir dalam pelantikan, memuji “kompetensi diri” yang dimiliki para Purna Paskibraka tersebut. Ia menjelaskan bahwa pembentukan Duta Pancasila ini, hingga tingkat kabupaten/kota, mensyaratkan proses seleksi ketat sebagai Paskibraka terlebih dahulu—sebuah prasyarat yang tidak serta-merta menjamin kemampuan mereka sebagai duta ideologi.

Yuslihayanti mengakui, “Walaupun jumlah kami mungkin tidak banyak, hanya 30 ribu orang saat ini tapi memang kami dipersiapkan untuk menjadi teladan, role model.” Pengakuan ini secara telanjang menyoroti keterbatasan jumlah Duta Pancasila yang diharapkan menjadi panutan ideologis bagi jutaan pemuda Indonesia.

Pertanyaan Efektivitas Program

Pembentukan Duta Pancasila ini adalah bagian dari strategi pemerintah untuk menginternalisasi ideologi negara di kalangan pemuda. Namun, pendekatan yang terlalu simbolis dan penekanan pada “teladan” tanpa kerangka aksi yang jelas berpotensi menjadikannya program seremonial belaka. Ini memunculkan pertanyaan fundamental tentang efektivitas nyata penanaman nilai Pancasila melalui penunjukan individu, alih-alih melalui reformasi sistemik dan edukasi kritis yang lebih luas dan merata.

More like this