Wali Kota Soroti Pameran Citrakala Maharddhika: Bukan Sekadar Seni, Ini Pembangkit Jiwa Merdeka!

2 min read
Wali Kota: Pameran Citrakala Maharddhika Pembangkit Jiwa Merdeka

Pameran seni rupa “Citrakala Maharddhika” di Museum BPK RI dibuka oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono. Ajang ini menampilkan karya 36 seniman lokal dan 125 siswa SMP. Berlangsung 25 Agustus-11 September, pameran diharapkan memberi inspirasi jiwa merdeka serta mengembangkan kreativitas generasi muda Magelang.

Wali Kota: Pameran Citrakala Maharddhika Pembangkit Jiwa Merdeka

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono secara seremonial membuka pameran seni rupa “Citrakala Maharddhika” di Museum BPK RI Magelang, Senin (25/8/2025) malam, menggaungkan retorika “jiwa merdeka” sebagai inspirasi bagi generasi muda. Namun, di balik narasi tersebut, muncul pertanyaan mendasar tentang sejauh mana kebebasan ekspresi seniman benar-benar terwadahi atau sekadar menjadi alat promosi karakter yang disetujui secara politis.

Pameran yang berlangsung hingga 11 September ini menampilkan 189 karya dari 36 perupa Kota dan Kabupaten Magelang, serta 125 siswa SMP yang sebelumnya terlibat dalam lokakarya “Merdeka Menggambar #2”. Penekanannya pada pembangunan “karakter bangsa” menimbulkan keraguan: apakah ini ajang seni murni atau justru disisipi agenda pembentukan kepribadian yang cenderung seragam.

Pesan ‘Kemerdekaan’ yang Seragam

Acara ini, diklaim sebagai bagian dari perayaan HUT Ke-80 RI, memaksakan narasi kemerdekaan yang kaku. Wali Kota Damar Prasetyono menyatakan pameran ini adalah “perayaan seni rupa yang lahir dari jiwa-jiwa merdeka, mengalirkan imajinasi dan kreativitas,” seraya menambah pentingnya “karakter bangsa berupa jiwa-jiwa merdeka” untuk “membangun kepribadian yang bermartabat.” Pernyataan ini—meskipun terdengar mulia—secara implisit menuntut seniman dan generasi muda untuk berkarya dalam koridor yang sudah ditetapkan, bukan merdeka sepenuhnya dari interpretasi politik.

Seniman Kaji Habib mencoba meredam kritik dengan mengatakan para perupa “mengungkapkan kemerdekaan imajinasi” dan karyanya “menggambarkan kemerdekaan seniman dan pesan tentang ekspresi kemerdekaan jiwa.” Ia menambahkan bahwa tema “Citrakala Maharddhika” berarti “seni rupa yang agung dan membebaskan,” serta lahir dari “jiwa merdeka, penuh daya cipta, dan mengangkat martabat kemanusiaan.” Namun, ia juga menekankan “nilai kearifan di samping kemerdekaan jiwa” dan kebutuhan akan “konsistensi, prinsip-prinsip yang selalu dipegang,” sebuah kontradiksi yang menyiratkan batas-batas kemerdekaan itu sendiri.

Ketua panitia pameran, Yustinus Agus, menegaskan kolaborasi ini “mengedukasi anak-anak mau dan ingin melukis dengan merdeka.” Sayangnya, narasi “merdeka” yang digaungkan masih terasa dikendalikan, menyajikan citra kemerdekaan yang telah disaring dan disesuaikan dengan kepentingan tertentu, bukan kebebasan berekspresi tanpa syarat yang semestinya menjadi esensi seni.

Komentar-komentar ini menggarisbawahi upaya untuk membingkai “kemerdekaan” dalam seni sebagai alat untuk membentuk karakter yang sesuai dengan harapan pemerintah. Ini bukan tentang kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang terarah, menciptakan “ruang dialog” yang hanya menampung suara-suara selaras.

Pameran “Citrakala Maharddhika” agaknya lebih berfungsi sebagai perayaan formalitas ketimbang platform bagi kebebasan artistik sejati. Meskipun mengklaim menginspirasi “jiwa merdeka,” implementasinya justru menampilkan upaya pembentukan karakter yang terstruktur, meninggalkan seniman dan publik dengan pertanyaan tentang esensi kemerdekaan yang sesungguhnya di tengah batasan retorika.

More like this