Terbang ke India, Empat Mahasiswi UPGRIS Diberi Amanah Rektor: Raih Peluang Global Maksimal!

3 min read
Amanah Rektor UPGRIS: 4 Mahasiswi Terbang ke India Maksimalkan Peluang Global

UPGRIS Semarang mengirim empat mahasiswi ke festival budaya dan olahraga internasional “Vibrance 2026” di Vellore Institute of Technology, India. Rektor Dr. Sri Suciati melepas Primadona Sekar Langit, Siti Qomariyah, Ririn Sandita, dan Nafisa Arum Pramesti pada 12 Februari 2026. Mereka akan menampilkan tarian “Harmoni Warak” yang mengangkat budaya Semarang.

Amanah Rektor UPGRIS: 4 Mahasiswi Terbang ke India Maksimalkan Peluang Global

Semarang – Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) secara resmi melepas empat mahasiswi ke festival budaya dan olahraga internasional “Vibrance 2026” di Vellore Institute of Technology (VIT), Chennai, India, Kamis (12/2/2026). Langkah ini, yang diklaim sebagai komitmen kampus dalam mendorong “kiprah global” mahasiswa, perlu diuji seberapa jauh dampak nyatanya melampaui seremoni pelepasan.

Mahasiswi Primadona Sekar Langit, Siti Qomariyah, dan Ririn Sandita dari PGSD, serta Nafisa Arum Pramesti dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, akan didampingi dosen Mega Novita, Ph.D. Misi mereka: menampilkan tari kreasi “Harmoni Warak” yang disebut-sebut merepresentasikan budaya Semarang.

Janji Peluang Global

Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, M.Hum., dalam sambutannya di Ruang Rektor Gedung Pusat lantai 2, secara gamblang menyatakan festival ini “peluang besar untuk membuka jalan karier dan pengalaman internasional.” Namun, narasi serupa kerap terdengar dalam setiap program internasional kampus, tanpa evaluasi mendalam tentang keberhasilan konkretnya.

Kampus menegaskan, “UPGRIS memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi mahasiswa untuk mengikuti program internasional.” Klaim ini, jika benar, seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan signifikan dalam jejaring global mahasiswa dan alumni, bukan sekadar partisipasi sporadis.

Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UPGRIS, Dr. Nur Hidayat, M.Hum., semakin memperkuat retorika dengan menyebut festival “Vibrance 2026” akan diikuti lebih dari 50 negara, “membuka pintu kesempatan baru, termasuk peluang riset bersama mahasiswa di sana. Bahkan memungkinkan proyek skripsi dilakukan di India.” Pernyataan ini terdengar ambisius, mengingat agenda utama adalah festival budaya dan olahraga.

Selama empat hari di India, fokus tim mahasiswi adalah menampilkan “Harmoni Warak”, tarian yang mengangkat ikon budaya Warak Ngendog dan tradisi Dugderan Semarang. Pelatih tim, Prasena Arisyanto, M.Pd., menjamin tarian tersebut akan menggunakan topeng Warak, sebuah upaya promosi budaya lokal yang patut diapresiasi, namun efektivitasnya dalam skala global tetap terbatas pada durasi penampilan.

Rektor Sri Suciati mendesak para mahasiswi, “Ambil kesempatan selama kuliah, jangan sia-siakan. International Culture Festival ini menjadi pagelaran budaya dunia. Ini peluang besar untuk membuka jalan karier dan pengalaman internasional kalian.”

Ia melanjutkan, “UPGRIS memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi mahasiswa untuk mengikuti program internasional. Tidak hanya menjadi duta kampus, tetapi juga memperkaya pengalaman akademik dan budaya.”

Dr. Nur Hidayat dari KUI menambahkan, “Lebih dari 50 negara akan hadir. Ini membuka pintu kesempatan baru, termasuk peluang riset bersama mahasiswa di sana. Bahkan memungkinkan proyek skripsi dilakukan di India.”

Komitmen atau Sekadar Citra?

Pelepasan ini, yang dihadiri sejumlah petinggi kampus termasuk Wakil Rektor I Dr. Muniroh Munawar dan para Dekan, secara tersurat disebut sebagai “bukti nyata komitmen kampus dalam memperluas jejaring internasional sekaligus mempromosikan budaya lokal Semarang di panggung dunia.”

Namun, di tengah klaim-klaim besar mengenai “peluang global” dan “kolaborasi akademik”, pertanyaan mendasar tetap menggantung: Sejauh mana partisipasi ini benar-benar membentuk ekosistem internasional yang berkelanjutan bagi seluruh mahasiswa UPGRIS, alih-alih hanya menjadi etalase sesaat yang berbiaya tinggi? Komitmen tidak hanya diukur dari pelepasan, tetapi dari hasil nyata dan berkelanjutan.

More like this