Bukan Sekadar Indah: Menguak Kedalaman Kebahagiaan Lewat Goresan Seni Lukis
Pameran “The World of Happiness” oleh Kie Art Project dan Braling Grand Hotel resmi dibuka di Purbalingga, Jawa Tengah. Acara ini menampilkan puluhan lukisan dari sembilan seniman lokal dan satu mahasiswi ISI Surakarta. Pameran seni rupa ini berlangsung sepekan mulai 10 Agustus, menawarkan refleksi makna kebahagiaan.

Pameran “The World of Happiness” resmi dibuka di Braling Grand Hotel Purbalingga, Jawa Tengah, Minggu (10/8/2025). Digelar oleh Kie Art Project, acara ini menampilkan puluhan lukisan dari sembilan seniman lokal dan satu mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, merayakan makna kebahagiaan selama sepekan.
Namun, di balik narasi kebahagiaan yang dipajang, pameran ini secara gamblang menyingkap perjuangan getir komunitas seni lokal. Komandan Komando Distrik Militer 0702/Purbalingga Letnan Kolonel Infanteri Untung Iswahyudi bahkan harus turun tangan membuka, memberi legitimasi pada sebuah gerakan yang masih “terseok-seok” mencari pengakuan.
Kontradiksi di Balik Kanvas
Tiga puluh lima karya seni rupa mengisi lobi hotel, menawarkan refleksi mendalam tentang kebahagiaan. Annisa Rakhma, dengan “Bahagia yang Ditumbuhkan,” menggunakan cengkih sebagai metafora perjuangan panjang yang berbuah manis-kebahagiaan bukan instan, melainkan hasil jerih payah. Aprianto menyajikan “Keseimbangan yang Membumi” melalui jerapah, menyentil bahwa visi setinggi langit memerlukan pijakan akar yang kuat di realitas.
Khadno Aprianto membawa “Rusa-Rusa yang Riang di Alam yang Rindang,” sebuah pengingat bahwa harmoni dan kesederhanaan adalah sumber bahagia yang sering terabaikan. Sementara Tria Novanda menghidupkan kembali “Wacinwa”, wayang Cina-Jawa yang lahir dari akulturasi budaya 1920-an, menegaskan kebahagiaan bisa tumbuh dari persenyawaan identitas yang kompleks.
Pameran ini, yang secara ironis dipayungi tema “The World of Happiness,” justru menjadi panggung bagi perwakilan militer untuk menyuarakan pesan budaya. Letkol Inf Untung Iswahyudi, sang pembuka, mengaitkan acara ini dengan semangat HUT Ke-80 Kemerdekaan RI dan visi Indonesia Emas 2045, seolah menuntut kebahagiaan sebagai prasyarat pencapaian nasional.
Pengakuan Pahit Seniman Lokal
Letkol Inf Untung Iswahyudi, dalam pidato pembukaannya, menyerukan pentingnya kebahagiaan: “Dengan bahagia, kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Kebahagiaan membuat kita mampu memenuhi kebutuhan lahir batin dan menemukan arti hidup yang sesungguhnya.” Ia juga mengapresiasi seniman muda, menyatakan, “Kita harus tetap bisa untuk menelateni, sehingga dengan adanya seni kita bisa berekspresi tanpa batas.”
Gita Yohana Thomdean, pendiri Kie Art Project, mengakui perjalanan lima tahun komunitasnya penuh rintangan, termasuk terjangan pandemi COVID-19. “Kebahagiaan tidak selalu soal materi. Bisa dari udara yang kita hirup, kesehatan, kicauan burung, keseimbangan alam, atau rahmat Tuhan setiap hari,” tuturnya, menyiratkan bahwa kelangsungan seni lebih fundamental dari sekadar keuntungan.
Namun, pengakuan pahit datang dari Slamet Santosa, pendiri Kie Art Project lainnya. Ia secara blak-blakan menyingkap realitas seni rupa regional. “Kita lagi terseok-seok memperjuangkan seni rupa di Banyumas Raya, mari kita rapatkan barisan, jangan kalah dengan Jogja dan sekitarnya. Mari kita bahagia, tidak usah memikirkan yang belum selesai,” tegasnya, menantang kemapanan dan meminta solidaritas.
Ahmad Fauzi, General Manager Braling Hotel, mengamini bahwa pesan inti acara adalah menumbuhkan kebahagiaan di tengah tantangan. “Kita hidup cuma sekali, jadi happy saja. Semua orang pasti punya masalah, tapi jangan sampai menghalangi untuk berbahagia,” ucapnya, menekankan perlunya pragmatisme dalam menghadapi kesulitan.
Latar Belakang Perjuangan
Didirikan lima tahun silam, Kie Art Project berawal dari rintisan desa wisata dan sekolah kartun di Desa Sidareja. Komunitas ini berjuang melewati pandemi, kini menjadi wadah penting bagi seniman muda Banyumas Raya, membuktikan ketahanan di tengah kondisi yang “terseok-seok” seperti diungkap Slamet Santosa.
Pameran “The World of Happiness” bukan sekadar ajang pajang karya; ia menjadi barometer sekaligus seruan. Mengajak pengunjung menyelami beragam sumber kebahagiaan-dari harmoni alam hingga jejak sejarah-namun pada saat yang sama, ia menjadi cermin tantangan nyata yang dihadapi para penggiat seni di Purbalingga dan sekitarnya. Kebahagiaan, dalam konteks ini, adalah hasil perjuangan tak kenal henti.