Sumanto: Dari Kontroversi Kini Siap Pentaskan Lakon Berseri
Ketua DPRD Jateng Sumanto berencana mementaskan lakon wayang kulit secara berurutan, dari awal hingga akhir. Ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap cerita dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pagelaran wayang. Sumanto menekankan pentingnya dialog pra-pentas untuk menjelaskan kisahnya. Upaya ini mendukung pelestarian warisan budaya UNESCO.

Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mendesak pementasan lakon wayang kulit secara berurutan dari awal hingga akhir. Desakan ini muncul setelah ia mengkritik tajam minimnya pemahaman masyarakat terhadap alur cerita pewayangan yang selama ini hanya dinikmati sebatas tontonan. Deklarasi tegas itu disampaikan dalam Bincang Santai Wayang Kulit di kediamannya, Desa Suruh, Tasikmadu, Karanganyar, pada Sabtu, 9 Agustus 2025.
Langkah ekstrem ini dipicu oleh kegelisahan Sumanto melihat penonton wayang hanya mengapresiasi visual, tanpa menggali petuah dan tuntunan hidup yang tersimpan dalam setiap lakon. Ia menuntut agar inti sari cerita wayang tidak lagi luput dari pemahaman publik, demi menjaga marwah warisan budaya yang diakui UNESCO.
MENGUNGKAP KRISIS PEMAHAMAN
Sumanto menyoroti fakta pahit bahwa kegemaran menonton wayang kulit tidak sejalan dengan pemahaman narasi. “Banyak yang suka nonton wayang kulit tapi tidak paham ceritanya,” tegas politisi PDI Perjuangan ini, membongkar realitas bahwa esensi petuah dalam lakon seringkali terabaikan. Situasi ini, baginya, memiskinkan nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi pegangan hidup.
Kondisi ini menuntut pendekatan radikal, yaitu pementasan wayang dengan alur cerita yang runtut—bukan lagi fragmen-fragmen lepas yang membingungkan. Dorongan ini, secara implisit, menggarisbawahi kegagalan metode pementasan tradisional dalam menyampaikan kedalaman filosofi wayang kepada khalayak modern.
Sebelumnya, wayang kulit dengan lakon “Sesaji Raja Suya” dipentaskan, melibatkan dalang Ki Thukul Cipta Wardoyo dan Ki Mas Demang Sujarwo Joko. Namun, even ini justru memperkuat urgensi perlunya dialog pra-pentas untuk membuka tabir misteri cerita kepada penonton, sebagaimana diusulkan Sumanto.
SUARA DALAM MEREVITALISASI WAYANG
Sumanto tanpa tedeng aling-aling menyatakan, “Banyak yang suka nonton wayang kulit tapi tidak paham ceritanya. Karena itu sebelum pentas dimulai, perlu ada dialog begini untuk menceritakan kisahnya.” Kritik ini menuding bahwa pementasan selama ini gagal mengedukasi penonton tentang kedalaman filosofis pewayangan.
Ia bahkan menantang para dalang untuk merumuskan ulang format pementasan. “Karena ini berjalan terus, bagus jika dipentaskan lakon wayang dari awal sampai akhir, jadi ceritanya urut. Nanti bisa disimulasi oleh para dalang agar ceritanya bisa lebih jelas,” imbuhnya, menyerukan revitalisasi drastis pada tradisi pertunjukan wayang.
Menanggapi gagasan tersebut, Konten Kreator Wayang, Ki Mas Demang Edi Sulistiyono, mendukung penuh. Ia menegaskan, “Pengakuan tersebut bukan karena wayang dan dalangnya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.” Ini menguatkan argumen bahwa fokus seharusnya beralih dari sekadar tontonan menjadi pemahaman substansi.
Edi juga membenarkan bahwa kisah Mahabharata saja membentang dalam 18 bab, menggarisbawahi betapa masifnya narasi yang terpecah-pecah selama ini. Ia pun bulat mengusulkan, “agar semua lakon tersebut dipentaskan secara berurutan,” mendukung visi Sumanto dalam upaya memulihkan pemahaman utuh wayang kulit.
MENGHADAPI TANTANGAN KULTURAL
Dorongan radikal ini berakar dari status wayang sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO. Pengakuan tersebut, seperti dijelaskan Ki Mas Demang Edi Sulistiyono, bukan semata karena keindahan pertunjukannya, melainkan karena nilai-nilai filosofis, moral, dan identitas budaya Indonesia yang terkandung di dalamnya.
Sebagai Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto mengambil posisi tegas sebagai garda terdepan dalam menjaga dan menghidupkan kembali roh pewayangan. Inisiatifnya memaksa semua pihak untuk serius meninjau ulang bagaimana wayang kulit disajikan kepada masyarakat, agar tidak sekadar menjadi artefak budaya, melainkan sumber hikmah yang relevan dan hidup.