Terobosan Mandiri Sahabatku di Ansan: PMI Korea Raih Literasi Keuangan, Investasi, & Peluang Usaha Perikanan

3 min read
PMI Korea Raih Literasi Keuangan, Investasi, & Peluang Usaha Perikanan

Bank Mandiri memperluas Mandiri Sahabatku ke Korea Selatan, memperkuat ekonomi kerakyatan dan kualitas SDM Indonesia. Program ini berikan literasi keuangan, edukasi investasi saham, serta peluang usaha perikanan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Ansan. Inisiatif berkelanjutan ini membekali 183 PMI untuk berwirausaha sejak di luar negeri hingga kembali ke tanah air.

PMI Korea Raih Literasi Keuangan, Investasi, & Peluang Usaha Perikanan

Bank Mandiri melancarkan program “Mandiri Sahabatku” di Ansan, Korea Selatan, mengincar 183 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dengan pelatihan literasi keuangan, investasi saham, dan peluang usaha perikanan. Langkah ini, diklaim untuk menguatkan ekonomi kerakyatan, namun skala dan dampak substansialnya patut dipertanyakan di tengah populasi PMI yang jauh lebih besar.

Program Pembekalan Finansial yang Terbatas

Workshop perdana yang digelar di Warung Indonesia ini berfokus pada tiga pilar utama: pengelolaan keuangan pribadi-usaha, strategi investasi saham yang aman, dan model bisnis perikanan. Peserta, mayoritas pekerja sektor manufaktur, berasal dari kantong-kantong PMI seperti Indramayu, Cilacap, Ponorogo, Malang, hingga Lampung. Meskipun materi komprehensif, jumlah peserta yang hanya 183 orang ini terasa minim dibandingkan ribuan PMI yang bekerja di Korea Selatan, memunculkan keraguan terhadap jangkauan riil program.

Bank Mandiri mengklaim program ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo terkait peningkatan kualitas SDM dan pemberdayaan UMKM. Namun, dengan fokus pada pembekalan kemampuan perencanaan keuangan dan fondasi usaha, program ini lebih tampak sebagai upaya membendung masalah finansial yang kerap menjerat PMI, ketimbang memimpin terobosan ekonomi kerakyatan yang masif.

Untuk memikat partisipasi, Bank Mandiri tidak hanya menawarkan edukasi, tetapi juga insentif finansial. Panitia menyediakan hadiah uang tunai hingga Rp50 juta bagi pembukaan tabungan dan aktivasi layanan. Praktik ini mengaburkan batas antara program pemberdayaan dan strategi akuisisi nasabah, menjadikan motif murni pemberdayaan terasa kurang tajam.

Janji Konkret dan Harapan Semu

Yoga Sulistijono, Senior Vice President Government Project 3 Bank Mandiri, menegaskan ambisi program. “Mandiri Sahabatku tidak hanya menyiapkan peserta untuk berwirausaha setelah kembali ke tanah air. Kami mendorong mereka memulai sejak sekarang, dengan menabung, berinvestasi, dan menyusun rencana usaha yang dapat dijalankan bersama keluarga. Kolaborasi materi literasi keuangan, investasi, dan peluang usaha ini kami hadirkan agar dampaknya konkret dan berkelanjutan,” ujarnya. Namun, “konkret dan berkelanjutan” masih harus dibuktikan.

Theodora V. Manik, Direktur Retail Mandiri Sekuritas, menambahkan bahwa “disiplin dan pemahaman risiko menjadi aspek penting dalam membangun portofolio investasi yang sehat.” Sementara itu, salah satu peserta, Abduh dari Ponorogo, menyatakan, “Dirinya mulai memahami pentingnya memisahkan rekening harian dan rekening permodalan untuk memulai usaha. Ia berusaha menargetkan enam hingga delapan bulan mendatang sudah dapat memulai usaha kecil yang dibantu kelola keluarga di kampung halaman.” Harapan ini, meski positif, masih berada di tahap perencanaan, jauh dari realitas implementasi.

Sejak diluncurkan pada 2011, Mandiri Sahabatku telah menjangkau lebih dari 21.000 peserta di berbagai negara. Integrasi program dengan layanan Livin’ Around The World (LATW) memang memudahkan akses perbankan digital. Namun, setelah lebih dari satu dekade, pertanyaan besar tetap menggantung: seberapa efektif program ini menciptakan kemandirian finansial berkelanjutan bagi ribuan PMI yang rentan, atau sekadar retorika inklusi keuangan?

More like this