Wakil Wali Kota Tegal Jadi Juri Kehormatan: Sorotan Puncak Fashion Show Batik
Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, menjadi juri kehormatan Lomba Fashion Show Batik Tegal Casual di Pasific Mall Tegal, Rabu (4/6). Ia mengapresiasi tema lomba fashion show batik Tegal ini. Acara tersebut bertujuan mengangkat khasanah budaya dan warisan leluhur. Pelestarian batik Tegal didorong dengan pemakaian rutin. Ketua PPLIPI Kota Tegal mendukung penuh kearifan lokal ini.

Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah ikut serta dalam panggung hiburan, bukan kebijakan, saat didaulat sebagai “juri kehormatan” Lomba Fashion Show Batik Tegal Casual. Acara ini berlangsung di Pasific Mall Tegal, Rabu (4/6) siang, dengan klaim untuk mengangkat khasanah budaya dan warisan leluhur Tegal.
Kehadiran pejabat tinggi kota ini memicu pertanyaan tentang prioritas program pelestarian budaya. Apakah pementasan busana di pusat perbelanjaan menjadi instrumen utama pemerintah kota dalam mempertahankan identitas batik Tegal, ataukah sekadar seremoni tanpa dampak substansial bagi perajin dan ekosistem batik lokal?
Agenda “Pelestarian” di Mall
Lomba Fashion Show Batik Tegal Casual digelar sebagai ajang pamer busana. Tazkiyyatul Muthmainnah berbagi kursi juri kehormatan bersama Husny Arizal dan Tedy Sambodo. Event ini dikemas seolah pilar utama pelestarian—sebuah narasi yang patut dikaji lebih dalam.
Pasific Mall menjadi saksi bisu upaya “melestarikan” batik. Walau niatannya positif, aksi ini hanya menyentuh permukaan. Pelestarian budaya sesungguhnya menuntut program jangka panjang, dukungan konkret bagi para pembatik, serta edukasi berkelanjutan, bukan hanya sorotan sesaat di panggung.
Retorika “cinta batik” kembali digaungkan para pejabat. Namun, publik menanti lebih dari sekadar imbauan memakai batik setiap hari. Kebijakan pro-batik Tegal, seperti insentif untuk perajin atau program pemasaran terpadu, masih jauh dari gaung panggung fashion.
Komentar Pejabat Versus Realita
“Saya apresiasi tema lomba fashion show tentang batik Tegal. Ini penting untuk mengangkat khasanah budaya kita yang berupa batik yang merupakan warisan leluhur yang kita cintai,” ujar Tazkiyyatul Muthmainnah, menyerukan urgensi pelestarian tanpa menyebut langkah konkret pemerintah.
Tazkiyyatul melanjutkan, “Salah satu bukti cinta yakni dengan memakai batik setiap hari. Ini mampu menumbuhkan cinta kita terhadap batik Tegal. Ini juga dapat menjadi public relation untuk membawa nama Tegal dalam karya batik, saya berharap peserta mampu mengeluarkan potensi dan kemampuannya.” Pernyataan ini menegaskan fokus pada citra dan penggunaan, bukan pada akar produksi atau inovasi.
Ketua DPC Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Kota Tegal, Sri Primawati, ikut senada. “Semoga batik Tegal terus dicintai, dapat dipakai untuk kerja, keseharian dan kasual. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas terselenggaranya acara ini,” ungkapnya, mengukuhkan narasi yang berpusat pada konsumsi.
Di tengah deru pujian dan apresiasi, substansi dukungan nyata terhadap keberlanjutan batik Tegal masih menggantung. Narasi “cinta” dan “pelestarian” dari panggung fashion show belum diterjemahkan menjadi kebijakan atau anggaran yang bisa mengangkat nasib perajin batik.
Pertanyaan Mendesak bagi Batik Tegal
Batik Tegal, dengan corak khasnya, adalah identitas kota yang tak ternilai. Namun, sekadar menjadi bagian dari lomba fashion show berisiko mereduksi esensi budaya menjadi komoditas visual semata. Kontribusi nyata acara semacam ini terhadap kesejahteraan perajin dan kelangsungan industri batik lokal patut dipertanyakan.
Kehadiran pejabat dalam acara hiburan seperti ini menyoroti bagaimana pemerintah kota memilih untuk “melestarikan” budaya. Tanpa program terstruktur dan anggaran memadai, panggung fashion show hanyalah etalase temporer—sebuah janji kosong untuk warisan yang butuh lebih dari sekadar penampilan.