Mempertahankan Diri, Kehilangan Segalanya: Ketika Harga Diri Hanya Senilai Rp80 Ribu.

3 min read
Rp80 Ribu: Harga Diri Tergadai, Segalanya Sirna

Seorang pekerja dipecat usai membela diri dari kekerasan fisik supervisor pabrik tas. Dengan upah Rp80 ribu per hari, ia menolak berkompromi. Setelah menjadi pengangguran dan mencari kerja daring, ia diusir keluarga. Kisah ini menyoroti perjuangan mempertahankan harga diri di tengah tuntutan memiliki status kerja.

Rp80 Ribu: Harga Diri Tergadai, Segalanya Sirna

Seorang pekerja pabrik tas dipecat setelah terlibat cekcok dengan pengawas yang melakukan kekerasan fisik, kini justru diusir dari rumah kontrakan oleh kakaknya sendiri karena dianggap “memilih-milih pekerjaan” setelah dua bulan menjadi pengangguran. Insiden tragis ini menyoroti brutalnya budaya kerja eksploitatif dan kuatnya stigma sosial terhadap pengangguran, bahkan di tengah keluarga terdekat.

Pemberhentian kerja itu berawal dari kondisi kerja merangkap tiga posisi dengan target 3.000 barang per hari dan upah Rp80 ribu, memicu permintaan bantuan yang berujung pukulan tangan dari pengawas. Manajemen pabrik justru meminta korban “memaklumi” kekerasan, mendorong pemecatan karena penolakan membela diri.

Kekerasan di Jalur Produksi

Kondisi kerja di pabrik tas tersebut memang kejam. Penulis, Wulan Sari, dipaksa mengejar target manual 3.000 barang per hari. Ia harus mengambil, memproses, dan menyusun hasil kerja sendirian—merangkap tiga posisi berbeda—hanya dengan upah Rp80 ribu per hari, jumlah yang nyaris habis untuk rokok dan bensin.

Kelelahan ekstrem mendorong Wulan meminta bantuan pengawas agar ada yang membantu menyusun barang, memungkinkannya fokus kejar target. Namun, respons pengawas justru di luar nalar. Bukannya memberi solusi, pengawas itu malah marah-marah, melempar barang hasil kerja Wulan, dan memukul tangannya.

Darah Wulan mendidih. Ia menegaskan datang mencari nafkah, bukan menjadi samsak tinju gratis. Pertengkaran tak terhindarkan dan insiden itu segera dilaporkan.

Manajemen kantor justru melangkah absurd, meminta Wulan “memaklumi” kekerasan fisik tersebut. Setelah tiga hari menahan dongkol, Wulan meluapkan amarahnya dengan kata-kata kasar, berujung pemecatan. Ia keluar dengan kepala tegak, menolak menukar harga diri demi upah Rp80 ribu per hari.

Stigma Pengangguran di Rumah Sendiri

Dua bulan pasca-pemecatan, Wulan Sari berstatus pengangguran, mencoba peruntungan daring menulis novel dan artikel. Namun, di mata keluarganya, jika seseorang tidak “berangkat pagi pulang petang” memakai seragam, ia hanyalah beban yang bersantai-santai. Puncak kekejaman terjadi kala kakak Wulan membuka obrolan yang mengiris hati, ngotot Wulan kembali ke pabrik, bahkan meremehkan insiden kekerasan fisik itu sebagai “masalah sepele.”

“Pulang kampung aja kamu,” ancam sang kakak. “Kalau di sini orang udah males ngurusin kamu. Pilih-pilih banget kerjaan, kenapa nggak mau balik cuma karena masalah sepele gitu?”

Kontras dengan kejamnya sang kakak, ibu Wulan di kampung justru mendukung penuh. “Jangan balik ke sana, cari yang lain aja,” pesannya, menunjukkan pemahaman seorang ibu atas keselamatan anaknya yang jauh di atas “status kerja.”

Wulan belajar pahit: “Kadang, orang terdekat kita malah menjadi orang yang paling tidak peduli dengan penderitaanmu. Mereka nggak peduli kamu jadi korban kantor yang toksik, mentalmu hancur, fisik terancam, dan menjadi pengangguran.”

Harga Diri yang Terkoyak

Ironisnya, selama tinggal di kontrakan itu, Wulan membeli makan dengan uangnya sendiri, bahkan mengerjakan semua urusan kebersihan. Kakaknya tidak pernah memberi uang sepeser pun. Namun, status pengangguran dan belum menghasilkan uang lagi menjadi alasan untuk mengusir paksa.

Wulan Sari menegaskan kekalahan finansial tidak akan merenggut harga dirinya sebagai manusia. Kisah ini menjadi tamparan keras bagi masyarakat dan keluarga yang kerap menuntut status “bekerja” tanpa peduli kondisi eksploitatif atau kekerasan yang menimpa pekerjanya.

More like this