DCF XV 2025: Dieng Pandawa Mulai Pacu Persiapan Festival Akbar Mendatang

3 min read
DCF XV 2025: Dieng Pandawa Pacu Persiapan Festival Akbar

Pokdarwis Dieng Pandawa menyiapkan Dieng Culture Festival (DCF) XV 2025 di Dataran Tinggi Dieng. Konsepnya memisahkan pergelaran utama ruwatan anak berambut gimbal dari acara pendukung seperti Jazz Atas Awan. Pemisahan ini untuk mengembalikan esensi budaya. DCF XV tidak terdaftar dalam Karisma Event Nusantara 2025. Jadwalnya belum ditentukan.

DCF XV 2025: Dieng Pandawa Pacu Persiapan Festival Akbar

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa di Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Jawa Tengah, mulai merancang pergelaran Dieng Culture Festival (DCF) XV 2025 dengan keputusan kontroversial: memisahkan acara musik populer Jazz Atas Awan dan menarik diri dari Karisma Event Nusantara (KEN). Langkah berani ini diambil untuk mengembalikan esensi budaya tradisional Dieng yang selama ini dikritik keras karena tergerus dominasi pertunjukan modern.

Keputusan krusial ini muncul setelah rapat dengan Bupati Banjarnegara pada Jumat lalu, menyusul desakan agar DCF tetap terselenggara maksimal namun kembali pada akarnya. Waktu pasti penyelenggaraan DCF XV 2025 sendiri belum ditetapkan, mengingat fokus utama kini ada pada perumusan ulang konsep inti festival.

Krisis Identitas Festival

Pemisahan Jazz Atas Awan dari rangkaian utama DCF menjadi sorotan tajam. Acara musik yang telah begitu diminati ini, diakui penyelenggara, telah tumbuh terlalu besar hingga berpotensi menggeser nilai-nilai budaya asli yang seharusnya menjadi jantung festival.

Kritik pedas menghujani DCF dalam beberapa tahun terakhir, menuduh festival ini lebih mirip konser musik modern daripada perayaan tradisi. Calon wisatawan bahkan kerap menanyakan “artisnya siapa” ketimbang berapa anak berambut gimbal yang akan mengikuti prosesi ruwatan, sebuah indikasi kuat pergeseran fokus dari inti budaya ke hiburan massal.

Tindakan ini juga dilandasi keinginan Pokdarwis untuk “santai” dan “tidak terbebani banyak” dari tuntutan KEN, setelah sebelumnya DCF berhasil masuk Top 10 KEN 2024. Keputusan keluar dari KEN menunjukkan adanya tekanan besar dari status tersebut yang mungkin mengorbankan visi awal festival.

Penegasan Kembali Roh Budaya

“Sore ini kami akan merapatkan konsep DCF XV,” tegas Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Alif Faozi, di Banjarnegara, Jumat. “Bupati Banjarnegara berharap Dieng Culture Festival tetap terselenggara dengan maksimal.”

Faozi mengakui, “Memang kita sangat bersyukur karena Jazz Atas Awan sudah begitu diminati. Namun karena event ini adalah event salah satu pendukung dan sudah mulai besar, sehingga sudah saatnya kita pisah.”

Mengenai keluarnya DCF dari KEN, Faozi menyatakan, “Secara pribadi kami izin untuk tahun depan (2025) kami ingin santai, tidak terbebani banyak… karena salah satunya kami harus berani memisahkan Jazz Atas Awan dan Dieng Culture Festival.”

“Jangan sampai Jazz Atas Awan mengalahkan induknya, ini harus dicegah,” tambahnya, menekankan urgensi kembali pada akar budaya. Ia juga akan menilai seberapa besar minat wisatawan terhadap format baru ini, menjadi dasar pertimbangan untuk kembali masuk KEN pada tahun 2026.

Ujian Komitmen Budaya

Dieng Culture Festival secara historis dikenal lewat prosesi ruwatan anak-anak berambut gimbal, sebuah tradisi kuno masyarakat Dataran Tinggi Dieng yang memukau. Jazz Atas Awan, yang kemudian menjadi sangat populer, pada awalnya hanyalah salah satu elemen pendukung yang disisipkan.

Keputusan ini mencerminkan pergulatan penyelenggara menjaga identitas budaya di tengah godaan komersialisasi dan popularitas. Masa depan DCF XV 2025 akan menjadi ujian keras seberapa kuat komitmen mereka terhadap warisan leluhur.

More like this