Sumanto Tegaskan: Generasi Muda, Penjaga Kritis Budaya Lokal dari Gerusan Zaman

3 min read
Sumanto: Generasi Muda Kritis Jaga Budaya Lokal dari Gerusan Zaman

Ketua DPRD Jateng Sumanto menyatakan generasi muda merupakan garda terdepan pelestarian budaya lokal. Di tengah modernisasi, mereka aktif bergabung dalam kelompok kesenian tradisional. Pemanfaatan media sosial membantu penyebaran nilai budaya daerah. Pemerintah diminta mendukung peran vital generasi muda ini untuk menjaga identitas bangsa.

Sumanto: Generasi Muda Kritis Jaga Budaya Lokal dari Gerusan Zaman

Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, Kamis (22/5/2025), secara terang-terangan menunjuk generasi muda sebagai benteng terakhir pelestarian budaya lokal di Karanganyar. Pernyataan ini bukan sekadar pujian, melainkan kritik tajam atas minimnya dukungan nyata pemerintah di tengah serbuan modernisasi dan globalisasi yang mengancam identitas bangsa.

Sumanto mengidentifikasi kelompok-kelompok seni dan pemanfaatan media sosial oleh kaum muda sebagai “angin segar” dalam regenerasi budaya. Namun, ia mendesak pemerintah agar segera bergerak, menyalurkan bantuan konkret dan memfasilitasi ruang ekspresi yang krusial bagi kelangsungan kesenian tradisional.

Apatisme Pemerintah Terhadap Regenerasi Budaya

Observasi Sumanto menunjukkan, banyak anak muda kini aktif mengisi sanggar tari, grup kesenian, dan grup musik tradisional. Mereka agresif menggunakan platform digital untuk menyiarkan pentas dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur ke masyarakat luas. Ini menunjukkan inisiatif yang kuat dari bawah.

Fenomena dalang-dalang muda di Kabupaten Karanganyar, misalnya, menjadi bukti nyata potensi besar yang siap meledak. Ironisnya, mereka masih terganjal oleh keterbatasan panggung dan ruang yang seharusnya disediakan oleh negara, bukan hanya mengharapkan swadaya.

Semangat dan kreativitas ini menjadi kontra-narasi terhadap kekhawatiran hilangnya budaya tradisional. Tetapi, potensi tersebut sia-sia tanpa intervensi dan dukungan struktural dari pemerintah yang selama ini terkesan pasif, hanya mengandalkan inisiatif masyarakat.

Desakan Konkret: Dari Retorika ke Aksi

“Keterlibatan generasi muda dalam melestarikan kesenian tradisional ini sangat penting,” tegas Sumanto, menyinggung kembali tanggung jawab kolektif yang kerap diabaikan. Ia menambahkan, “Upaya pelestarian budaya ini harus disesuaikan dengan gaya komunikasi kekinian agar bisa diterima”—sebuah indikasi bahwa pendekatan lama pemerintah tidak lagi relevan.

Sumanto secara eksplisit menuntut pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota untuk tidak berpangku tangan. “Pemerintah perlu memberikan dukungan dalam upaya pelestarian kesenian tradisional. Salah satunya dengan memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok seni,” ujarnya, menyoroti defisit anggaran dan kebijakan.

Ia juga mendesak “pemerintah memfasilitasi mereka untuk tampil dalam berbagai acara,” serta “memperbanyak program ekstrakurikuler budaya lokal di sekolah, hingga menggelar berbagai festival budaya yang mendatangkan banyak penonton.” Ini adalah daftar tugas yang belum terealisasi secara maksimal.

“Jangan sampai kita kehilangan jatidiri bangsa. Kesenian tradisional tetap harus lestari,” pungkas Sumanto, memberikan ultimatum halus terhadap potensi hilangnya esensi keindonesiaan jika apatisme terus merajalela.

Ancaman Erosi Identitas di Tengah Globalisasi

Pernyataan Sumanto ini mengemuka saat bangsa Indonesia kian terancam erosi identitas budaya akibat arus globalisasi yang tak terbendung. Kesenian tradisional bukan lagi sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang esensial untuk memupuk jati diri.

Indonesia semestinya bercermin pada negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan, yang gigih memegang teguh budayanya di tengah modernisasi. Ini bukan sekadar perbandingan, melainkan panggilan darurat agar pemerintah segera mengambil langkah nyata, jauh melampaui sekadar retorika dan wacana kosong.

More like this